Monday, August 15, 2022

Cupang Cantik Pembawa Cuan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Cupang big ear. Salah satu produksi terbaik milik OBEI saat ini.

Melayani permintaan cupang hias ke pasar mancanegara. Bermula dari hobi berubah bisnis menguntungkan.

Daniel Indarta, S.Si. Pemilik Original Betta Exporter Indonesia (OBEI) dan ketua Komunitas Betta Club Indonesia.

Trubus — Kesamaan antara Daniel Indarta, S.Si. dan Andry Kurniawan, S.E. adalah menggemari ikan cupang. Mereka memanfaatkan hobi memelihara ikan bersosok elok itu menjadi bisnis dengan mengibarkan usaha Original Betta Exporter Indonesia (OBEI) pada Januari 2014. Daniel mengincar pasar ekspor. Kiriman pertama 100 cupang jenis half moon ke Inggris. Mereka memperoleh pasar itu dari hasil komunikasi antarlintas komunitas.

Kini Daniel-Andry melayani permintaan rutin dari berbagai negara negara seperti Yunani, Swiss, Amerika Serikat, dan Jepang. “Volume pengiriman sebenarnya fluktuatif. Tapi rata-rata 1.000—1.500 ekor dalam 2—3 bulan,” kata Daniel. Alumnus Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, itu pernah sekali mengirimkan 900 cupang ke Inggris.

Hanya 20%

Daniel Indarta mengatakan, kadang-kadang ketersediaan ikan terbatas. Jadi, mereka hanya dapat memasok 200—300 cupang per sekali kirim. Harap mafhum, cupang-cupang hias itu hasil tangkaran sendiri dan rekan, bukan hasil tangkapan alam. Daniel-Andry mengelola kurang lebih masing-masing 60 induk betina induk jantan produktif. Dalam sekali pemijahan induk betina menghasilkan 300—500 burayak. Setelah dewasa hanya 20—30% yang memenuhi kriteria ekspor.

Pasar mancanegara menghendaki ikan sehat serta berwarna mencolok dan unik. “Variabel cupang itu amat banyak. Kami tidak bisa sediakan semuanya. 50—60% permintaan ekspor adalah jenis halfmoon, ada juga yang wild betta. Yang paling primadona khususnya di pasar Eropa itu half moon,” kata Daniel. Penangkar 46 tahun itu menghasilkan 1.000—1.500 cupang hasil persilangan per bulan. Kemudian ia menyeleksi cupang yang masuk ke dalam kategori layak ekspor.

OBEI Farm milik Daniel dan Andry yang berada di Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Pria kelahiran 30 April 1974 ia membuang 200—400 ekor per bulan atau memberikan kepada orang-orang di sekitarnya. Hasil perniagaan ikan hias anggota famili Osphronemidae itu US$600—US$2.000 setara Rp8,4 juta—Rp28juta per bulan. Harga penjualan cupang bervariasi Rp80.000—Rp300.000 per ekor tergantung jenis, karakter, dan ukuran tubuh cupang. Makin besar ukuran tubuhnya kian mahal harganya.

Andry mengatakan, tidak ada kesulitan dalam pemasaran karena aktif di komunitas cupang. Bahkan, pria kelahiran 25 Mei 1973 itu merupakan ketua Indo Betta Splendens Club (InBS). Adapun Daniel ketua Betta Club Indonesia (BCI). “Jadi, pemasarannya bisa dibilang dari mulut ke mulut karena orang sudah kenal,” kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Batanghari, Jambi itu.

Melonjak 300%

Permintaan cupang justru melonjak saat pandemi korona sejak Maret 2020 hingga kini. Cupang berfaedah sebagai pereda stres ketika makin banyak orang bekerja di rumah. Bagi Daniel-Andry bisnis cupang tentu mendatangkan cuan alias laba dan manfaat besar. Andry mengatakan, lonjakan permintaan mencapai 300% atau tiga kali lipat dari kondisi normal. Meski demikian, duet Daniel-Andry tetap mempertahankan kualitas ikan. Bagi mereka, pandemi bukan aji mumpung meraup laba besar-besaran. Mereka memaknai bisnis cupang sebagai ajang pembuktian diri menjaga kualitas lebih penting.

Andry Kurniawan, S.E. Berkolaborasi mendirikan bisnis Original Betta Exporter Indonesia (OBEI), sekaligus ketua Indo Betta Splendens Club (InBS)

Menurut Andry hal yang paling membedakan cupang hasil pembiakan OBEI dengan pembiak tradisional adalah pemahaman mengenai standar cupang dunia. Selama ini standar cupang mengacu pada regulasi International Betta Congress (IBC) seperti melakukan penjualan cupang harus tepat mendeskripsikan. “Mereka terhalang informasi sehingga tidak bisa menghasilkan cupang yang baru dan unik,” kata pria 47 tahun itu.

Agar tak kewalahan, mereka menggunakan sistem transhipping atau semacam pengepul ikan sebelum pengiriman. Transhipper bertugas mengumpulkan ikan-ikan dari para penjual untuk kemudian dikirim bersamaan. Kondisi itu membantu Daniel dan Andry lebih menghemat biaya pengiriman. Pasalnya jadwal penerbangan mancanegara belum begitu stabil. Jadi, metode transhipping amat membantu

Selama membiakkan cupang dan menjualnya ke mancanegara, hal yang paling mengganggu adalah cuaca. Ketika kering, sulit mendapatkan sumber pakan alami seperti jentik nyamuk dan kutu air (daphina). Ketika musim hujan, curah hujan tinggi kadang mengakibatkan cupang sakit karena penurunan suhu udara. Daniel-Andry mengatasinya dengan memberikan pakan berkomposisi 70% pelet dan 30% pakan alami agar perubahan kondisi tidak mengganggu. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img