Monday, August 8, 2022

Bersabung Sepanjang 1.400 Meter

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Joki cilikJoki cilik itu bertaruh nyawa di arena pacuan kuda sepanjang    1.400 meter.

Namanya pendek: Hendra. Umurnya genap 10 tahun pada 11 Februari 2013. Pria cilik dengan tinggi tubuh 100 cm itu masih duduk di kelas 3 sekolah dasar di Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Saat teman-teman sebayanya memperoleh uang saku dari orangtua, Hendra sudah bisa memberikan “uang saku” kepada ayah bundanya. Itu sejak Hendra menjadi joki kuda pacu sumbawa pada 2011.

 

Ahad pagi pada awal April 2013 itu Trubus menyaksikan Hendra yang tengah bersiap diri di pinggir arena pacuan kuda di Desa Panda, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima. Tubuh kecilnya dibalut kaus berlengan panjang dan celana olahraga. Penutup kepala menutupi wajahnya sehingga hanya mata dan mulutnya yang terlihat. Di kepalanya bertengger sebuah helm berbahan gabus styrofoam. Bertelanjang kaki,   Hendra bergegas menuju titik awal lomba. Di sana menunggu 507, nama kuda pacu milik seorang pengusaha dari Lombok Tengah, NTB yang siap melahap lintasan sepanjang 1.400 meter.

Teriakan keras para perawat kuda pacu yang saling bersahutan sembari menghela sang kuda menandai dimulainya balapan kuda. Bersaing dengan 6 joki lain, Hendra sempat tercecer di urutan buncit pada 200 meter pertama. Namun, begitu melewati separuh lintasan, Hendra bisa memacu 507 berlari lebih kencang hingga meninggalkan kuda-kuda lainnya sampai garis finis. Ia hanya memerlukan 145 detik untuk menempuh lintasan 1.400 meter. Tidak ada kepalan tangan meninju langit atau teriakan kegirangan dari Hendra sebagai penanda kemenangan. Wajahnya dingin. Saat turun dari kuda, sesekali ia mengibas-ngibaskan tangannya ke celana yang penuh bulu kuda. Harap mafhum rodeo cilik itu berpacu di atas kuda tanpa pelana.

Menurut Aan Ishak, salah satu pemilik kuda pacu asal Mataram, NTB, pemakaian joki cilik di setiap acara pacoa jara—sebutan pacuan kuda di Sumbawa berlangsung sejak puluhan tahun. “Jokinya memang anak kecil karena mereka tubuhnya ringan,” ujar penyalur bahan pangan itu. Namun, tidak setiap anak yang rata-rata berumur 7—12 tahun itu dapat menjadi joki. Terdapat sederet syarat: berbadan kecil, pukulannya keras, dan tidak takut kuda. Syarat terakhir biasanya terpenuhi bila ayah sang joki adalah perawat kuda atau kusir benhur alias delman.

Lantas apa imbalan seorang joki cilik? Wahyudin, pemilik 7 kuda pacu asal Kabupaten Dompu, NTB, menuturkan ia membayar joki sebesar Rp25.000—Rp50.000 untuk setiap satu putaran. Rentang harga itu bergantung kepada reputasi si joki. Bila joki sering membawa kuda menjadi juara, ia bisa memperoleh bayaran Rp50.000 per putaran. “Seorang joki rata-rata bisa membawa kuda hingga 5—6 putaran,” ujar Wahyudin.

Harga sang joki dapat melonjak berlipat-lipat bila kuda berlomba di kejuaraan besar sekelas piala bupati, gubernur, atau perayaan besar seperti hari Kemerdekaan RI setiap 17 Agustus. “Biasanya memakai sistem kontrak karena kita menyewanya penuh dari penyisihan hingga final,” ujar Wahyudin. Nilai kontrak bergantung kepada kesepakatan antara pemilik kuda dan orangtua joki.

Sejatinya risiko yang dihadapi seorang joki cilik cukup besar. Bahkan, boleh jadi ia sesungguhnya bertaruh nyawa di atas kuda. Hendra yang bisa mengantongi Rp250.000—Rp350.000 dari setiap kali menjadi joki itu menuturkan bila ia pernah 2 kali terpelanting jatuh dari punggung kuda yang berlari kencang. “Sampai patah di sini,” kata Hendra menunjuk tulang rusuknya. Untuk menjaga keselamatan diri Hendra kini memiliki ritual: mengambil segenggam tanah di dekat kaki kuda yang akan dinaikinya lantas membalurkan tanah itu di leher sang kuda.

Menurut Ir Baharudin, kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bima, pacuan kuda di Kabupaten Bima berlangsung sejak 1960-an. “Sampai 1980-an kuda pacu yang dipakai adalah jantan,” katanya. Baru pada 1990-an kuda betina juga hadir sebagai kuda pacu. Soal lari, sang betina tidak kalah kencang. “Dalam lomba 50% kuda yang masuk final saat ini adalah betina,” kata Baharudin yang menyebutkan komposisi kuda pacu di Bima saat ini adalah 20% betina dan 80% jantan.

Kuda betina pula yang menjadi pilihan Abdul Haris saat berburu kuda pacu di Sumbawa Besar pada 2009. “Betina lebih tenang, tidak agresif, dan mudah dikendalikan,” kata pemilik 4 kuda betina pacu asal Kabupaten Dompu itu. Sebagai gambaran seorang joki perlu menunggangi kuda jantan hingga 3 kali putaran terlebih dahulu untuk memahami karakter sang kuda. Betina? Paling banyak 2 putaran.

Dalam sebuah balap kuda pacu terdapat 12 kelas yang dipertandingkan. Kelas itu dibakukan dalam kode tertentu. Kelas pemula berkode TK, OA, OB, TH1, dan TH2; kelas remaja tunas A, tunas B, dan tunas C; dan kelas dewasa mulai kelas A sampai D. “Pembagian itu berdasarkan umur kuda, pertumbuhan gigi, dan tinggi tubuh kuda,” kata Baharudin.

Lebih jauh Baharudin menuturkan kuda-kuda pacu yang menang di suatu lomba seringkali menjadi rebutan. “Jual-beli kuda-kuda juara itu baru terjadi sejak pertengahan 1980-an,” katanya. Harap mafhum memiliki kuda juara bisa menambah gengsi pemiliknya. Jadi wajar bila kuda pemenang di lomba bisa berharga ratusan juta rupiah. Meski demikian nasib kuda-kuda pacu berharga mahal itu di pengujung kariernya tidak selalu bagus. Bila beruntung ia akan menjadi kuda ternak untuk dikembangbiakkan. Namun, bila tidak ia akan menjadi kuda pekerja, penarik benhur atau masuk pejagalan.

Selain dimanfaatkan sebagai kuda pacu dan kuda pekerja, Equus sp. di Kabupaten Bima juga dimanfaatkan sebagai penghasil susu. Salah satu kecamatan penghasil susu kuda liar terbaik di Kabupaten Bima adalah Kecamatan Donggo.

Kecamatan Donggo yang berjarak 2,5 jam berkendaraan dari Kota Bima berada di perbukitan berketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl). Di sana kuda-kuda hidup diliarkan dalam arti sesungguhnya. Mereka bebas mencari pakan di dalam hutan dan padang gembala. “Kuda-kuda itu memakan banyak tumbuhan liar. Mungkin karena itu susunya berkhasiat,” ujar  H Ibrahim, warga Desa Palama, Kecamatan Donggo.

Selama kuda dilepasliarkan yang rata-rata berlangsung selama 6—7 bulan itu, betina dapat mengandung dan beranak. Saat induk betina menyusui anak itulah kesempatan untuk memerah susu. “Biasanya kuda-kuda itu kita jemput pada Juni atau Juli setiap tahun. Kuda-kuda itu digiring dan dimasukkan ke kandang,” ujar Edy Suratman dari Desa Palama.

Hal serupa juga dilakukan Arifin, peternak kuda di Desa Saneo, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu. “Kami memiliki lahan tempat sumber pakan alami untuk kuda,” katanya. Lahan pertama disebut sebagai Tolowau seluas 100 ha dan lahan kedua, Tolokuwu seluas 50 ha. Jarak kedua lahan itu hanya 30 menit berjalan kaki. Menurut Arifin dengan keberadaan lahan itu ia dapat memastikan 20 kuda yang dipelihara bersama kelompoknya tidak akan memakan tanaman palawija yang diusahakan oleh penduduk setempat.

Berapa banyak betina menghasilkan susu? Menurut Ibrahim setiap betina menyapih bisa memproduksi diperoleh 2 liter susu setiap hari. Soal khasiat, susu kuda terbaik untuk dikonsumsi bukan hasil perasan langsung, melainkan susu yang telah didiamkan selama 2—3 bulan di suhu kamar. “Rasa susunya kecut dan sedikit berbau masam. Itulah yang kami yakini sebagai susu kuda yang berkhasiat,” kata Ibrahim.

Menurut Dr drh Diana Hermawati MSi dari Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Kementerian Pertanian di Jakarta Selatan, susu kuda sumbawa secara alami akan mengalami autofermentasi  setelah 3 jam pemerahan. “Hasil autofermentasi itu menyebabkan susu kuda sumbawa bersifat antimikrob,” kata peneliti yang meriset sifat antimikrob susu kuda sumbawa itu.

Di Nusa Tenggara kuda sumbawa sebagai kuda pacu maupun perah memang mendatangkan banyak manfaat. (Dian Adijaya S/Peliput: Pressi Hapsari F)

 

FOTO:

  1. Hendra (paling kiri) yang menjadi joki cilik sejak 2011 tengah beradu cepat  menunggangi kuda di arena pacuan kuda sepanjang 1.400 meter di Desa Panda, Kecamatan Palibelo, Nusa Tenggara Barat
  2. Ir Baharudin, kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bima
  3. Bayaran joki cilik dengan reputasi bagus bisa mencapai Rp50.000 setiap putaran
  4. Kuda pacu apkir bisa menjadi kuda pekerja
  5. Kuda-kuda sumbawa  kadang digembalakan di kebun yang baru saja dipanen
  6. Kuda perah sumbawa di Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, NTB
  7. Produksi susu kuda sumbawa mencapai 2 liter per hari di saat menyusui anak
  8. Arifin, peternak susu kuda sumbawa di Kabupaten Dompu, NTB, tengah memasukkan susu kuda yang baru diperah ke dalam botol untuk selanjutnya siap dijual
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img