Sunday, January 25, 2026

Biarkan Mata Kukang Tetap Menyala

Rekomendasi
- Advertisement -
Kukang satwa langka yang dilindungi, tapi masih diperdagangkan.
Kukang satwa langka yang dilindungi, tapi masih diperdagangkan. (Koleksi Little Firefare Project)

Malam pada permulaan Februari 2017 basah akibat hujan dan angin kencang. Udara malam di sebuah wilayah Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, amat dingin. Dendi Rustandi berjalan perlahan dalam senyap. Lampu sorot yang menempel di kepala satu-satunya sumber cahaya penembus pekatnya malam. Setelah berjalan kaki dalam kegelapan malam selama 30 menit, Dendi menemukan dua cahaya jingga menyala bagai api kecil.

Kukang tidur memasukkan kepala ke tubuh sehingga menyerupai bola.
Kukang tidur memasukkan kepala ke tubuh sehingga menyerupai bola.

Sumber cahaya dari cabang pohon avokad setinggi 6 meter dari permukaan tanah. Di tengah pekat malam, cahaya jingga itu amat menarik perhatian. Itulah dua mata kukang, primata kecil yang kian langka. Dendi adalah Project Manager and Head Tracker pada proyek konservasi kukang jawa bernama Proyek Muka Geni atau Little Fireface Project (LFP).

Proyek internasional itu bertujuan melindungi kukang melalui penelitian, pendidikan, dan konservasi. Harapannya muncul empati, pemberdayaan, dan penegakan hukum dengan mempelajari dan menyebarkan informasi tentang ekologi perilaku kukang. Enam hari sepekan ia mengamati aktivitas kukang bersama seorang rekan. Dendi mencatat segala aktivitas kukang per 5 menit meliputi pakan yang dimakan, pohon yang ditumpangi, dan tinggi pohon.

Mengapa mata kukang bercahaya? Menurut Peneliti primata malam dari Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ir Wirdateti MSi, mata kukang memancarkan cahaya karena memiliki tapetum di belakang retina. Berkat tapetum satwa nokturnal itu mampu melihat dari dekat dalam kegelapan. “Kemampuan itu berguna untuk mencari pakan dan bergerak,” kata alumnus Program Studi Primatologi, Institut Pertanian Bogor (IPB), itu.

Ir Wirdateti MSi, peneliti kukang dari Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Ir Wirdateti MSi, peneliti kukang dari Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). (Koleksi Wirdataeti)

Kukang termasuk primata kelompok prosimian seperti tarsius Tarsius sp. karena memiliki perefeleksi cahaya pada retina. Prosimian juga primata yang mengalami evolusi lambat dibandingkan dengan satwa sejenis sehingga tersingkir dan menjadi endemik di beberapa daerah. Selain kukang, satwa lain yang matanya memancarkan cahaya saat malam yaitu musang dan burung hantu.

Jika menemukan cahaya jingga berukuran kecil, jarak antarmata dekat, dan berada di puncak pohon kemungkinan itu kukang. Sementara sorot mata musang berukuran lebih besar, mata tidak terlalu bulat, dan jarak antarmata lebar. Saat malam mata burung hantu berwarna jingga, berukuran lebih besar daripada kukang, bulat, agak menonjol, dan burung itu berada 1—2 m dari atas tanah.

“Orang awam mungkin tidak bisa membedakan. Hanya yang berpengalaman yang mengetahui itu,” kata Wirdateti. Kukang jenis primata kecil yang berukuran sebesar kucing biasa dan mirip beruang kecil. Rambut tubuh terdiri atas dua lapisan yaitu rambut wol pendek dan lebat di bagian dalam serta rambut lebih panjang dan kaku di bagian terluar. Warna rambut bervariasi antara cokelat abu-abu pucat hingga cokelat kemerahan.

Pedagang dan pemilik kerap memotong gigi kukang agar tidak menggigit.
Pedagang dan pemilik kerap memotong gigi kukang agar tidak menggigit.

Terdapat garis cokelat memanjang dari puncak kepala hingga pertengahan ekor. Kukang juga memiliki cincin mata berkelir cokelat dan putih. Kepala fauna soliter itu bulat dan bermoncong runcing yang selalu lembap (rhinarium). Matanya bulat, besar, dan mengarah ke depan. Mata kukang tergolong yang terbesar dan paling menonjol di antara primata lain seperti monyet ekor panjang.

Ekor hampir tidak terlihat karena pendek sekitar 2 cm sehingga termasuk monyet. Kaki kukang pendek dan gemuk. Semua jari berkuku, kecuali jari kedua pada kaki yang memiliki cakar panjang. Wirdateti mengatakan, jari-jari kukang berfungsi memegang ranting atau dahan. Genggaman dan cengkeraman tangan satwa arboreal itu amat erat dan sulit dilepaskan. Tangan juga untuk memegang pakan sehingga hewan itu bisa makan sambil duduk.

Kukang berjalan lambat dengan tangan dan kaki secara bergantian. Meski lambat, kukang dapat berjalan sekitar 8 kilometer dalam satu malam. Jarak itu tergolong jauh untuk mamalia lambat. Perkembangan kukang paling lambat dibandingkan dengan makhluk nokturnal lain. Menurut Wirdateti terdapat 8 kukang di seluruh dunia. Nycticebus coucang, N. javanicus, N. menagensis, N. bancanus, dan N. borneanus menghuni Indonesia.

Kakao salah satu makanan tambahan kukang di penangkaran.
Kakao salah satu makanan tambahan kukang di penangkaran.

Jenis satwa primata itu menghuni Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bangka. Kukang yang paling baru teridentifikasi juga dari Indonesia yaitu N. kayan (Baca boks: Kukang Anyar). N. bengalensis berhabitat di India, sedangkan N. pygmaeus bertempat di Tiongkok, Vietnam, dan Kamboja. Kukang jawa N. javanicus paling besar dengan panjang pejantan 38 cm dan bobot 1 kg.

Sementara panjang kukang sumatera N. coucang 30 cm. N. menagensis yang menghuni Kalimantan dan Filipina sekitar 28 cm. Bobot kedua kukang yang disebut terakhir relatif sama yakni 600—700 g. “Bobot jantan lebih berat ketimbang betina. Warna jantan juga lebih gelap daripada betina,” kata Wirdateti. Lazimnya ciri kukang jawa yaitu garis di kepala jelas dan cincin mata jelas.

Salah satu ciri kukang sumatera berwarna kemerahan, dan garis putih di kepala agak menumpuk. Lazimnya satwa yang dilindungi itu tersebar dari dataran rendah hingga tempat berelevasi 1.000 meter di atas permukaan laut (m dpl) berupa hutan alami dan sekunder. Hasil pengamatan Wirdateti menunjukkan kukang banyak ditemukan di perkebunan, lahan pertanian, dan hutan rakyat. Di tempat itu pakan berupa buah, serangga, dan reptil kecil tersedia.

Satwa omnivora itu pun gemar menyantap getah dan cairan tumbuhan seperti nektar menggunakan lidah. Indra pengecap kukang adalah yang terpanjang di antara semua primata. Hidaslorit—sebutan kukang di Finlandia—tidak membuat sarang sehingga menempati rongga kayu di hutan. Rumpun bambu juga kerap menjadi pohon tidur kukang. Posisi hewan kerabat bushbabies itu unik karena membentuk bola menyerupai trenggiling.

Dendi Rustandi mengamati kukang setiap malam sebanyak 6 hari dalam sepekan.
Dendi Rustandi mengamati kukang setiap malam sebanyak 6 hari dalam sepekan.

Sayang, keberadaan kukang kian terdesak akibat perburuan, perdagagan, dan rusaknya eksosistem. Itulah sebabnya penelitian Proyek Muka Geni kerap mendasari perubahan kebijakan dan dan penerapan rekomendasi aksi konservasi untuk melindungi satwa langka itu. Muka geni merujuk pada kukang yang memiliki sorot mata bagai api. Dalam bahasa Jawa dan Sunda, geni berarti api.

Koordinator lapang Proyek Muka Geni, Sharon McCabe, mengatakan setiap malam satu pemandu dan peneliti menuju kaki gunung mengamati kukang. “Kami hanya mengirim 2 orang ke lapangan agar tidak terlalu ramai dan mengganggu kukang,” kata Sharon. Terdapat 15 kukang yang menjadi objek penelitian dengan radio collar terpasang di leher. Dengan bantuan alat petugas di lapangan mengetahui keberadaan primata yang bergerak lambat itu.

Pegiat Proyek Muka Geni (PMG) juga kerap menyosialisasikan kukang ke sekolah dan masyarakat di sekitar habitat kukang. Menurut Dendi warga desa di sekitar habitat kukang bukan ancaman hewan yang memiliki cincin mata itu. Sebab masyarakat percaya membawa kukang ke rumah mengundang bencana seperti kebakaran. Mitos lainnya darah kukang yang dibunuh membikin tanah tandus dan tanaman mengering.

Sharon MacCabe (kanan) dan Alexandre Duverneuil.
Sharon MacCabe (kanan) dan Alexandre Duverneuil.

Sejatinya kukang hewan yang dilindungi sesuai Keputusan Menteri Pertanian tanggal 14 Februari 1973 No.66/ Kpts/Um/2/1973. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa memperkuat regulasi itu. Peraturan pemerintah itu memasukkan kukang dalam lampiran jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

Konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam atau Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), mengkategorikan kukang ke dalam apendiks I. Artinya perdagangan internasional kukang dilarang. Organisasi konservasi yang berkantor pusat di Swiss, International Union for Conservation of Nature (IUCN), memasukkan kukang dalam kategori kritis atau sangat terancam punah (critically endangered).

Meski berstatus hewan dilindungi dan langka, perburuan dan perdagangan kamalasan—sebutan kukang di Pulau Bangka—tetap marak. Berita teranyar petugas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) beserta pihak terkait menggagalkan penjualan 27 kukang di Cirebon dan Majalengka, keduanya di Jawa Barat, pada Januari 2017. Perburuan dan perdagangan mengancam kelestarian kukang.

568_ 89Data dari International Animal Rescue Indonesia (IARI) mengungkapkan 200—250 kukang ditawarkan di tujuh pasar besar di empat kota besar di Indonesia pada 2015. Hasil pemantauan juga menunjukkan, kukang peliharaan pemilik media sosial mencapai 400 ekor. Sementara pada 2016 tercatat 35 grup jual beli hewan di media sosial memperdagangkan 550 kukang seharga Rp350.000—Rp500.000 per ekor.

Pembuatan lanjaran dari bambu untuk budidaya labu siam pernah mengancam keberadaan bambu sebagai pohon tidur kukang.
Pembuatan lanjaran dari bambu untuk budidaya labu siam pernah mengancam keberadaan bambu sebagai pohon tidur kukang.

Berdasarkan hasil penelusuran 30% kukang mati di situs perburuan dan perdagangan. Dengan demikian jumlah kukang diburu 30% lebih banyak daripada jumlah kukang di tangan pemelihara. Artinya pada 2015—2016 lebih dari 1.500 kukang dipaksa keluar habitat. Perdagangan kalkang—sebutan kukang di Pulau Kalimantan—merugikan negara lebih dari Rp500-juta setahun.

Selain menerima kukang hasil sitaan, IARI pun dengan senang hati menerima warga yang menyerahkan kukang miliknya (Baca boks: Dilarang Memelihara Kukang). Masyarakat menjadikan kukang sebagai klangenan karena berwajah imut dan menggemaskan. Menurut Wirdateti perdagangan kukang sebagai hewan peliharaan dimulai sejak 1960—1970-an. Penjualan paling marak pada 1990-an.

Manajer Operasional IARI, Aris Hidayat, mengatakan mayoritas kukang yang diterima dalam kondisi gigi terpotong. Saat ini pusat rehabilitasi satwa itu menampung sekitar 200 kukang. Sebanyak 80% dari jumlah itu tidak bisa kembali di alam karena kondisi buruk seperti gigi tidak utuh dan cacat fisik. Dokter hewan di IARI, drh Nur Purba Priambada, menuturkan gigi sangat penting bagi kukang untuk mencari makan dan perlindungan diri.

Getah sengon salah satu makanan favorit kukang.
Getah sengon salah satu makanan favorit kukang.

Muka—sebutan kukang dalam bahasa Sunda—menggunakan gigi untuk mengorek batang tanaman demi mendapat getah. Mamalia mahir memanjat itu pun mengandalkan gigi untuk melindungi diri dari bahaya. Ketika ancaman datang, kukang menutup kepala dengan kedua tangan. Saat itu kukang menjilat kelenjar racun di sekitar siku sehingga sebagian racun menempel pada gigi.

“Racun” pada gigi inilah yang digunakan untuk melumpuhkan hewan pengganggu. Di alam predator kukang antara lain ular, elang, macan tutul, anjing hutan, dan harimau. Pedagang atau pemelihara kukang kerap memotong gigi agar tidak menggigit sehingga dianggap jinak dan mudah dijual. Efek lanjutan pemotongan gigi yaitu infeksi yang menyebabkan gusi busuk.

Bahkan muka kukang bisa bengkak karena infeksi menjalar ke seluruh tubuh. “Gigi kukang permanen sehingga jika dipotong tidak tumbuh lagi,” kata Purba. Ia pun terpaksa mencabut gigi kukang yang terinfeksi. Konsekeunsinya satwa malang itu tidak bisa dilepasliarkan karena kehilangan gigi yang vital untuk mendapat pakan dan perlindungan. Tidak semua gigi kukang sitaan dicabut tergantung kondisi satwa itu.

Lahan agroforestri dan pertanian di Garut, Jawa Barat, salah satu habitat alami kukang jawa.
Lahan agroforestri dan pertanian di Garut, Jawa Barat, salah satu habitat alami kukang jawa.

Jika gigi masih relatif bagus, Purba dan rekan menambal gigi kukang. Selain diperdagangkan sebagai hewan pelliharaan, terdapat kelompok masyarakat yang percaya kukang bisa menyembuhkan beragam penyakit. Kerusakan habitat pun mengancam keberlangsungan hidup primata yang tidak membuat sarang itu. Salah satu pemicunya alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian.

Wirdateti menduga lahan agroforestri tempat Dendi dan Trubus menemukan kukang, kemungkinan dahulu berupa hutan. Seiring waktu berjalan, rimba berubah menjadi lahan pertanian dan sang kukang terjebak di lokasi itu. Di alam kehadiran hewan yang lidahnya paling panjang di antara primata itu vital yakni mengendalikan serangga terutama yang berhabitat di area pertanian. Jadi kukang bukanlah hama. Fungsi lainnya kukang membantu penyerbukan tanaman. (Riefza Vebriansyah)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img