Tuesday, November 29, 2022

Biarkan Mereka Membenahi Tanah

Rekomendasi

‘Kini, jumlah bahan organik di tanah seluruh Indonesia rata-rata hanya tinggal 2%,’ kata Dr Ir Achmad Rachman, kepala Balai Penelitian Tanah, Bogor. Jumlah itu sepertiga dibanding 20 tahun lalu, yang nilainya 6,8%. Dampaknya, hasil produksi tanaman yang dibudidayakan rendah. Produksi meningkat bila pekebun memupuk berkali-kali lipat. Namun, itu pun berdampak buruk: tanah rusak.

Menurut Dr Ir Suwardi, periset Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, IPB, tanah yang produktivitasnya rendah dipastikan tanah sakit. Tanah sakit tidak bisa menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. ‘Salah satu parameter sehat atau sakitnya tanah adalah kandungan bahan organik,’ kata Suwardi. Tanah berbahan organik tinggi memperlihatkan struktur gembur, mudah menyerap air, dan kapasitas tukar kation (KTK) tinggi. KTK diukur dengan cara mengekstraksi tanah dengan larutan NH4OAc.

Kapasitas tukar kation menjadi ciri utama tingkat kesuburan tanah. Jika nilainya tinggi, kemampuan tanah untuk menyerap dan melarutkan unsur hara semakin tinggi. Misalnya, tanah dipupuk Urea. Urea di dalam tanah bakal membentuk ion amonium (NH4+). Jika ion tidak diikat oleh tanah maka terbuang percuma lewat air irigasi.

Dibenahi

Agar tanah tetap sehat, Suwardi menganjurkan setelah panen lakukan pembenahan. ‘Tanah setelah ditanami, unsur haranya berkurang. Makanya jika tidak dibenahi kemampuannya untuk berproduksi menjadi rendah,’ kata doktor alumnus Tokyo Agricultural University, Jepang itu. Pembenah tanah tak hanya berupa memperbaiki secara fisik saja, tapi juga kimia dan biologi.

Yang terakhir bisa dilakukan dengan meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air irigasi, menjaga keseimbangan pH tanah, mengikat logam berat yang bersifat racun bagi tanaman seperti Pb dan Cd. Mengikat kation dari unsur dalam pupuk misalnya NH4+ dari Urea K+ dari KCl, sehingga penyerapan pupuk menjadi efisien, dan meningkatkan KTK tanah.

Berdasarkan keputusan Menteri Pertanian No. 2 tahun 2006, nilai kapasitas tukar kation harus lebih besar daripada 80 C mol/kg dengan pH 4. Sedangkan kadar logam harus rendah misal astatin sebesar 10 ppm, air raksa (1 ppm), plumbum (50 ppm), dan cadmium (10 ppm).

Yang paling penting, bahan pembenah tersedia di dekat lahan, berharga murah, dan dampak negatifnya rendah. Di pasaran terdapat pembenah tanah yakni yang sifatnya sintesis dan alami. ‘Lebih baik menggunakan yang alami saja karena cukup efektif dan efisien,’ kata Suwardi.

Mudah

Zeolit, salah satu pembenah tanah alami yang sering digunakan pekebun. Batuan berwama abu-abu sampai kebiru-biruan itu memiliki karakter melepas air tinggi. Pada saat dipanaskan 5000C mengalami aktivasi, sehingga kemampuan mengikat kation lebih tinggi. Nilai KTK zeolit adalah 120 C mol/kg.

Selain itu, zeolit mengandung lebih dari 30 mineral alami, seperti natrolit, thomsonit, analit, hendalit, clinoptilotit, dan mordernit. Oleh karena itu dengan zeolit hara tanaman tercukupi. ‘Makanya produktivitas tanaman lebih tinggi,’ kata Achmad.

Di Aceh misalnya, pemakaian zeolit 10 ton/ha pada tanaman jagung menghasilkan 4,56 ton jagung pipilan per ha; dengan 5 ton zeolit menghasilkan 4,26 ton jagung pipil. Bandingkan dengan yang tidak menggunakan zeolit sama sekali, hasilnya hanya 3,45 ton/ ha. Dengan biaya Rp500.000/ ton zeolit, petani bisa meraih untung lebih banyak karena peningkatan produksivitas lahan.

Namun, Achmad mengingatkan, ‘Jangan mengaplikasikannya di tanah yang masam’. Sebab, zeolit bakal melepaskan asam-asam organik sehingga menurunkan pH tanah. Tanah terlalu masam kesuburannya rendah. Sifat itu sama dengan kapur pertanian dolomit yang kaya kalsium dan abu terbang batubara yang kaya mineral boron dan fosfor.

‘Untuk tanah yang asam, sebaiknya menggunakan gipsum,’ kata Achmad. Pembenahan gipsum mampu meningkatkan kadar kalsium pada tanah miskin hara dan agregasi struktur, tapi tidak meningkatkan pH. Aplikasi 2-5 ton/ha gipsum di daerah tsunami menyelamatkan tanaman dari keracunan garam laut selama 1-3 musim dan menurunkan nilai daya hantar listrik menjadi 2 decisiemen (dS). Sebelumnya kadar NaCl tanahnya tinggi. Akibatnya, nilai daya hantar listriknya mencapai angka 30 dS, tanaman tak mungkin bisa tumbuh.

Murah

Pembenah tanah juga memperbaiki struktur tanah berpasir. Adanya pembenah meningkatkan konsistensi tanah sehingga erosi dan longsor dapat dihindari. Di tanah itu, pembenah tanah bitumen menjadi andalan. Bitumen adalah campuran hidrokarbon berbentuk cairan pekat, bahan organik biasanya diproses jadi aspal. Jadi fungsinya juga mirip aspal, yaitu sebagai pengikat, memperkuat tanah, dan memperbaiki lapisan jalan. Kemampuan itu disebabkan bitumen kaya karbon, hidrogen, sulfur, nitrogen, dan oksigen. Namun, harganya mahal dan ketersediaannya di pasaran sedikit.

‘Yang paling mudah dan banyak tersedia sebagai pembenah tanah adalah kompos,’ kata Suwardi. Kompos hasil fermentasi bahan organik berupa limbah pertanian. Melalui proses pengomposan diperoleh kandungan bahan organik tinggi yang memperbaiki sifat fisik tanah dan dalam jangka panjang dapat mengembalikan kesuburan dan produktivitas lahan. Hasil pengomposan lain, asam humat dan asam fulfat, pemacu pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, aplikasi kompos dapat menurunkan kebutuhan pupuk kimia.

Itu ditunjukkan oleh hasil penelitian Achmad di Aceh. Di sana, ia mencoba menanam padi tanpa bahan organik. Kebutuhan pupuk kimia seperti Urea mencapai 250 kg, SP-36 (50 kg), dan KCl (50 kg). Namun, jika dibenamkan 5 ton jerami/ha, kebutuhan Urea hanya 230 kg, SP-36 (50 kg), tanpa KCl. Sedangkan jika menggunakan 2 ton pupuk kandang butuh Urea 175 kg, KCl (30 kg), dan tanpa SP-36.

‘Untuk mempermudah penyerapan kompos oleh tanaman, butuh bantuan mikroba,’ kata Isroi, SSi,MSi, peneliti Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor. Idealnya, mikroba yang bersifat pelarut fosfat, penghalau penyakit, dan penambat nitrogen. Jadi beda mikroba, lain juga tugas dan manfaatnya.

Mikroorganisme diaplikasikan bersama kompos organik atau pembenah tanah seperti blotong. Itu dilakukan oleh Prof Wahono Hadi Susanto, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Wahono mencampur blotong alias limbah tebu dengan Thiobacillus sp. Hasilnya, produksi tebu meningkat dari 80 ton/ha menjadi 200 ton/ha.

Menurut direktur PT Wahana Cipta Karya itu, campuran blotong dan mikroba meningkatkan produksi karena mikroba Thiobacillus sp mengurai mineral sulfur asal limbah tebu dan mempermudah tebu menyerap hara. Jadi, dengan pembenah tanah produksi pun dibenahi. (Vina Fitriani/Peliput: A. Arie Raharjo dan Nesia Artdiyasa)

 

Previous articleCoba Sendiri
Next articleAgar si Belang Prima
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img