Monday, November 28, 2022

Bintang Jatuh di Gunung Halimun

Rekomendasi

 

Hamparan ‘bintang jatuh’ berwarna hijau terang dari tubuh jamur itu mengobati lelah Trubus dan tim eksplorasi Gunung Halimun dari Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI). Sudah 2 malam rombongan menyusuri sudut-sudut Gunung Halimun berburu spesies flora dan fauna endemik. Perjumpaan dengan jamur ajaib itu bagai puncak dari pengalaman panjang.

Maklum, tak setiap pendaki Gunung Halimun bisa melihat sinar yang memancar dari mycena. Menurut Wawan, petugas jagawana TNGHS, ‘bintang jatuh’ itu hanya dapat disaksikan ketika musim hujan. ‘Saat kemarau kelembapan udara rendah sehingga jamur tidak bisa tumbuh,’ katanya.

Habitat jamur bersinar itu sebetulnya hanya berjarak 300 m dari stasiun penelitian Cikaniki, tempat rombongan menginap. Namun, perjalanan ke sana begitu lamban. Jalan setapak yang berlumpur dan licin akibat hujan membuat setiap peserta mesti ekstra hati-hati saat melangkah. Apalagi malam begitu pekat. Hanya sorotan lampu senter yang menerangi jalan.

Suasana di hutan perawan itu memang gelap gulita. Makanya titik-titik sinar berwarna hijau terang itu terlihat indah. Saat lampu senter dinyalakan ternyata jamur itu berukuran sangat mungil, hanya berdiameter 1 mm. Mereka tumbuh di ujung ranting patah yang tergolek di lantai hutan.

Dengan ukuran semungil itu sulit untuk memotret dalam kegelapan. Beruntung Wawan mengizinkan Trubus mengambil contoh jamur untuk difoto di stasiun penelitian Cikaniki.

Di ujung lensa AF mikro 60 mm, jamur itu terlihat jelas. Jamur mungil itu berbentuk kubah dengan guratan-guratan hijau tua dari bagian tengah. Coraknya mirip umbi bawang bombay yang telah dikupas.

Menurut Dr Lisdar A Manaf, ahli mikologi dari Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor (IPB), jamur yang diabadikan Trubus itu kemungkinan Mycena lux-coeli. Hanya saja masih tahap primordium atau tahap pembentukan tudung sehingga menyerupai kubah. Saat dewasa tangkainya setinggi 3 cm dan berdiameter tudung 2 cm. Sayang, malam itu Trubus tidak menemukan jamur dewasa.

Lalu, bagaimana cahaya memancar dari tubuh jamur? Menurut Lisdar cahaya itu berasal dari proses oksidasi senyawa luciferin dengan bantuan katalis enzim luciferase. Reaksi itu menghasilkan oxyluciferin dan pancaran energi berupa cahaya. Mirip dengan munculnya cahaya pada kunang-kunang.

Sejatinya, jamur yang tumbuh di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak itu satu di antara 64 spesies jamur bercahaya yang tersebar di dunia. Jamur lain bergenus Mycena yang bersinar adalah Mycena galopus dan M. polygramma. Bedanya sinar kedua jamur itu berasal dari spora tunggal. Pancaran sinar dari spora hanya dapat dilihat dari bawah tudung. Di sana terdapat lamina-lamina tempat berkumpulnya spora. Sedangkan pada Mycena lux-coeli sinar terpancar dari tudung buah sehingga tampak menyala meski dilihat dari bagian atas.

Menurut Lisdar kemampuan jamur memancarkan cahaya ditentukan faktor genetik. Artinya, meski spesies sama belum tentu bisa menyala. Sebut saja pada jamur Panellus stypticus. Hanya penellus yang tumbuh di Amerika yang bersinar di malam hari. Panellus yang tumbuh di Eropa tidak memiliki kemampuan itu. ‘Diduga gen panellus yang memunculkan senyawa luciferin di Amerika lebih dominan,’ katanya.

Sayang, hingga kini para peneliti jamur belum mengetahui peran cahaya bagi jamur. Pada kunang-kunang cahaya yang dipancarkan abdomen berperan menakut-nakuti para pemangsa.

Jamur yang bercahaya di malam hari menjadi pemandangan pamungkas perjalanan Trubus di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Pada hari sebelumnya rombongan yang terdiri 7 orang itu menyusuri keanekaragaman hayati di kawasan hutan lindung seluas 113.357 ha itu. Pesona yang tak kalah menakjubkan ialah aneka ragam anggrek spesies.

Anggrek spesies mudah ditemui sejak perjalanan dari kaki Gunung Halimun, Kampung Citalahab dan Curug Piit. Rombongan tak perlu repot memanjat pohon untuk menyaksikan anggrek epifit dari dekat. Sekitar 2 km dari lokasi Curug Piit, Trubus menjumpai Liparis sp yang tumbuh di batang pakis haji. Posisi tumbuh anggrek itu hanya setinggi orang dewasa. Trubus juga menemukan Eria sp yang tumbuh bergerombol di batang kayu rasamala Altingia excelsa. Lokasinya di ketinggian 4 m dari permukaan tanah.

Di bagian hulu air terjun, rombongan melihat Vridagzynea nuda. Anggrek yang tumbuh di tanah itu tengah berbunga, tetapi belum mekar. Anggrek terestrial (tumbuh di permukaan tanah, red) seperti Macodes petola ditemukan di sela-sela semak di pinggir jalan setapak. Daya tarik jewel orchid-sebutannya dalam bahasa Inggris-itu terlihat pada garis berwarna perak dengan pola tertentu di permukaan daun yang seperti beludru.

Menurut Frankie Handoyo, pencinta anggrek di Jakarta, menemukan anggrek alam di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak tergolong mudah. ‘Populasi anggrek di sini cukup banyak,’ ujar Frankie yang sudah 7 kali berkunjung ke sana. Berdasarkan catatan pengelola taman nasional, terdapat 75 spesies anggrek yang tersebar di sana.

Kondisi itu sangat berbeda saat Trubus menyusuri hutan di Bukit Semunga, Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, Kalimantan Barat, dan hutan Setulang di Malinau Selatan, Kalimantan Timur. Di sana anggrek epifit tumbuh di pohon-pohon besar dengan ketinggian di atas 15 m. Anggrek terestrial bahkan tidak ditemukan sama sekali.

Menurut Frankie karakter hutan di Gunung Halimun berbeda dengan hutan di Bukit Baka-Bukit Raya. Hutan di Gunung Halimun bertajuk renggang. ‘Pada hutan seperti itu, sinar matahari tembus hingga ke permukaan tanah,’ ujarnya. Artinya, anggrek terestrial mampu tumbuh karena mendapat pasokan sinar matahari. Pun anggrek epifit dapat hidup di ketinggian rendah.

Itu karena menurut Ir Chairani Siregar MS, peneliti anggrek dari Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, meski sebagian besar anggrek hidup menempel pada pohon lain, mereka tidak mengambil makanan dari pohon inang. Sinar matahari diperlukan untuk memproduksi makanan melalui fotosintesis.

Hutan di Kalimantan sebagian besar dihuni pohon raksasa yang bertajuk rapat. Saking rapatnya sinar matahari yang sampai ke permukaan tanah sangat minim. Pantas ketika Trubus berkunjung ke kawasan Batubaban, Kabupaten Melawi, di Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, populasi anggrek justru ditemukan di tepi jalan besar milik perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang beroperasi di kawasan taman nasional. Mereka menempel di deretan pohon yang paling dekat ke jalan. Di sanalah anggrek memperoleh sinar matahari melimpah. Di hutan perawan anggrek hanya ditemukan di puncak pohon yang tinggi agar tersinari matahari.

Menurut Wawan, Taman Nasional Gunung Halimun-Salak tak hanya kaya keanekaragaman flora. Beberapa satwa endemik Jawa juga hidup di kawasan hutan lindung yang meliputi Kabupaten Sukabumi, Bogor, dan Lebak itu. Di sana terdapat 204 jenis burung, 90 jenis di antaranya burung yang menetap, dan 35 jenis lainnya endemik di Jawa. Yang paling melegenda ialah elang jawa Spizaetus bartelsi.

Burung yang menjadi lambang negara Indonesia itu seringkali muncul di sekitar Cikaniki. Sayang, saat Trubus ke sana burung langka itu tidak tampak sama sekali. ‘Mungkin karena hujan terus-menerus jadi mereka tidak berkeliaran,’ ujar Apud, salah seorang jagawana. Canopy trail, alias jembatan di atas tajuk pohon tidak dapat digunakan karena sedang diperbaiki. Padahal, di sana tempat tepat untuk menyaksikan aneka jenis burung dari ketinggian 30 m. Trubus hanya menyaksikan burung beo Gracula religiosa yang hinggap di sekitar penginapan.

Menurut Edy Nusriadi MFRC, peneliti LIPI, keanekaragaman hayati di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak lebih tinggi ketimbang taman nasional lain di Pulau Jawa. ‘Semakin ke barat iklim semakin basah sehingga jenis tanaman yang tumbuh makin beragam,’ ujarnya. Terlebih lokasi taman nasional berdekatan dengan Gunung Gede. Kondisi lahan di kawasan sekitar gunung berapi kaya hara dan mineral sehingga beragam jenis tanaman tumbuh subur.

Dengan kekayaan flora dan fauna itu tak salah bila pemerintah Belanda menetapkan area hutan seluas 40.000 ha itu sebagai cagar alam pada 1935. Dengan begitu, anggrek spesies dan satwa endemik hidup nyaman dari gangguan para perusak hutan. Mereka hidup berdampingan dengan ‘bintang jatuh’ di lantai hutan. (Imam Wiguna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img