Bisnis Manis Pepaya Premium, Permintaan 50 Ton Per Pekan Di Pasar Modern Belum Terpenuhi

0
pepaya premium
Tanaman pepaya di kebun milik Siska Mulyani memiliki produktivitas yang tinggi. Foto : Intan Dwi Novitasari

Trubus.id—Pasar membutuhkan pasokan pepaya premium. Lihat saja Siska Mulyani rutin memanen 5—10 ton pepaya calina. Volume panen per pekan itu tergolong kecil karena tidak sepadan dengan permintaan pasar.

Total jenderal ia mengelola 5 hektare (ha) kebun pepaya yang tersebar di 3 lokasi, semuanya ada di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Siska menuturkan, permintaan pepaya di pasar modern mencapai 60 ton per pekan. Artinya ceruk pasar yang belum terpenuhi sekitar 50 ton per pekan.

“Itu baru permintaan yang belum terpenuhi di pasar Jakarta dan Cianjur,” ujar Siska.

Sebenarnya Siska bisa saja memenuhi permintaan itu dengan mengambil pepaya dari pekebun lain. “Sayangnya hasil budidaya pekebun lain memiliki warna daging buah yang kurang disukai konsumen di pasar modern,” ujar Siska.

Volume panen pepaya yang minim membuat Siska hanya bisa memenuhi permintaan pasar modern di dua lokasi itu. Belum ditambah permintaan dari Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Jumlahnya belum diketahui karena ia masih fokus menggarap pasar di Jakarta dan Cianjur.

Saat dibelah daging buah berwarna jingga sempurna dengan cita rasa yang manis. Foto : Intan Dwi Novitasari

Pasar modern menghendaki pepaya yang memiliki kulit mulus dengan sedikit semburat kekuningan. Daging buah berwarna jingga merata dan bercitarasa manis. Bentuk buah lonjong menyerupai peluru dengan bobot 1—2 kg per buah.

Buah yang memiliki kategori itu termasuk kelas A yang berharga Rp9.000—Rp12.000 per kg dari kebun. Kondisi kulit buah yang sedikit lecet pada bagian kulit masuk dalam kategori kelas B yang berbobot 0,8—1,2 kg.

Siska menjual buah kategori kelas B ke rumah makan dan hotel dengan harga Rp5.000 per kg dari kebun. Bentuk buah yang lonjong runcing menyerupai cabai dikategorikan kelas C. Bobot pepaya itu kurang dari 0,8 kg per buah.

Siska menjual dengan harga Rp3.000 per kg ke pasar tradisional. Sejatinya yang membedakan dari masingmasing kelas hanya bentuk luar buah. Semua buah memiliki cita rasa manis dengan tingkat kemanisan 12—14°brix.

Ia memanen buah dengan tingkat kematangan 5%. Kondisi kulit buah terdapat sedikit semburat kekuningan. Berbeda dengan beberapa pekebun yang pernah ia jumpai. Mereka memanen pepaya serentak dengan kondisi kulit yang masih hijau. “Perlakuan panen yang kurang tepat menyebabkan daging buah berwarna kuning pucat,” ujar Siska.

Menurut Siska biaya produksi budi daya pepaya tidak terlalu mahal. Pekebun hanya perlu melakukan perawatan intensif dari tanam hingga umur 8 bulan. Siska mengeluarkan biaya Rp75.000 per tanaman untuk biaya perawatan hingga umur 8 bulan.

Sementara dari umur 9 bulan hingga 2 tahun ia menghabiskan Rp15.000 per tanaman. Setelah tanaman berumur 8 bulan biaya yang dikeluarkan hanya untuk pemanenan. Siska menuturkan, berkebun pepaya premium menguntungkan asal menerapkan sistem budidaya dan panen yang tepat.