Tuesday, November 29, 2022

Bisnis Pakan & Pernik Burung Berkicau

Rekomendasi
Cucak jenggot, salah satu burung kontes dan burung isian
Cucak jenggot, salah satu burung kontes dan burung isian

Bisnis pakan dan pernik burung berkicau menggeliat lagi. Omzetnya mencapai ratusan juta rupiah.

Seribu kotak masing-masing berukuran 90 cm x 45 cm itu menyesaki bangunan separuh lapangan sepak bola di Kotamadya Cimahi, Provinsi Jawa Barat. Di setiap kotak berbahan kayu sengon itu tinggal ribuan ulat hongkong, pakan alami burung berkicau. Pemilik bangunan, Dayat Yayat, memperoleh bibit dari peternak di Malang, Jawa Timur. Dua pekan lamanya Dayat menggemukkan meal worm itu. Ia memanen ulat hongkong kecokelatan itu 3 kali sepekan. Setiap kali panen ia mengumpulkan 1 ton Tenebrio molitor.

Dayat Yayat menjual pakan alami itu kepada pengepul di Bandung, Jakarta, Bogor, dan sekitarnya. Omzet ayah 3 anak itu Rp123-juta per pekan. Dayat menjual Rp41.000 per kg ulat. Dari perniagaan itu Dayat meraup pendapatan bersih Rp18-juta per bulan. Menurut Dayat biaya produksi ulat hongkong Rp39.500 per kg.

Bola salju

Dayat Yayat memproduksi 3 ton ulat hongkong setiap pekan
Dayat Yayat memproduksi 3 ton ulat hongkong setiap pekan

Di Jakarta Barat ada Tanjid Syaefudin yang sukses memasarkan sangkar mandi burung. Sangkar terbuat dari besi itu berguna untuk memandikan burung berkicau. Tanjid berinovasi selama 3 tahun setelah melihat pehobi kerap kesulitan memandikan burung saat bepergian jauh karena mengikuti lomba ke luar daerah. “Sangkar ini bisa dilipat dan ringkas,” ujar Tanjid yang memperoleh sertifikat desain industri untuk produk itu pada 2011.

Para pehobi dan pedagang aksesori burung amat meminati sangkar berukuran 60 cm x 30 cm x 30 cm itu. Sebagai gambaran penjualan sangkar seharga Rp130.000 itu pada semester pertama 2013 mencapai 3.500 dengan omzet Rp455-juta. Jumlah itu naik 40% dibandingkan kurun 2011—2012 rata-rata sebanyak 1.100 sangkar. “Pemicunya karena banyak pehobi burung baru dan kontes,” ujar pria yang pernah menekuni desain mesin itu.

Bisnis Dayat dan Tanjid merupakan efek bola salju dari tren burung berkicau. Ketua Pusat Pelestari Burung Indonesia, Bagya Rahmadi, menuturkan tren burung kicauan menggerakkan banyak pelaku usaha. “Penjual pakan, aksesori, penangkaran, dan perawat burung,” ujar ayah 3 anak itu. Kondisi itu bakal terjaga selama orang menyukai burung berkicau. “Ada atau tidak ada kontes, pehobi tetap membeli pakan atau aksesori lainnya,” kata Prof Made Sriprana PhD, praktikus burung di Bogor, Jawa Barat.

Sangkar-sangkar burung di Pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur
Sangkar-sangkar burung di Pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur

Pehobi burung di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Syamsul Saputro, menuturkan saat pertama kali memelihara muraibatu ia mengeluarkan Rp555.000 selama sebulan. Itu di luar nilai burung. Perinciannya pakan Rp4.000 per hari, kandang Rp400.000, aksesori seperti wadah pakan dan tangkringan Rp35.000. “Kalau pakai perawat tambah Rp1-juta-an per bulan,” ujar Syamsul yang tengah menangkarkan muraibatu itu. Biaya membengkak bila pehobi memberi suplemen, obat, dan vitamin.

Belanja para pehobi untuk merawat klangenannya memang relatif besar. Lihat saja pehobi di Kotamadya Depok, Jawa Barat, Suwarno yang mengeluarkan biaya Rp1,2-juta setiap bulan untuk membeli telur puyuh, aneka buah, obat, dan vitamin. Suwarno (48 tahun) pehobi  kacer, anis merah, dan pleci. “Biar burung fit dan rajin berkicau,” ujar Suwarno yang rajin mengikuti kontes itu.

Aksesori               

Pehobi seperti Suwarno dan Syamsul hanya sekadar contoh untuk menggambarkan betapa besar pasar bagi pelaku bisnis pendukung burung berkicau. Sebut saja Muhammad Bashori, perajin sangkar burung di Yogyakarta, yang saat ini memproduksi sekitar 500 buah per bulan. Lebih dari 70% hasil produksi itu untuk memenuhi permintaan para pehobi. Harga sangkar termurah Rp150.000 dan termahal Rp5-juta.

Pakan dan pernik burung membuat burung menjadi sehat, hidup nyaman, dan rajin berkicau
Pakan dan pernik burung membuat burung menjadi sehat, hidup nyaman, dan rajin berkicau

“Harga tergantung pada bahan dan motif hiasan sangkar,” katanya. Sangkar mahal memiliki banyak ukiran dengan bahan kayu jati. Bagi Gendut Mulyono, produksi kotak burung kicauan itu bahkan membantu perekonomian warga. Perajin di Desa Karangsemanding, Kecamatan Balong, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu menjalin kemitraan dengan warga desanya. Caranya ia membeli kerangka sangkar berukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm buatan kaum pria warga desa itu Rp50.000.

Sementara para ibu rumah tangga memasang jeruji sangkar dengan upah Rp10.000 per sangkar. Tahap akhir pengecatan dan pemolesan sangkar dikerjakan kaum remaja sesudah pulang sekolah dengan upah Rp60.000—Rp70.000 per sangkar.  Gendut menuturkan dengan bermitra seperti itu ia memproduksi 40 sangkar kualitas wahid per pekan. Ia menjual sangkar itu Rp450.000—Rp750.000. “Jumlah produksi itu masih kurang karena permintaan mencapai 60-an sarang per minggu,” ujar ayah satu putri itu.

Sasaran pria 33 tahun yang pernah menekuni usaha ternak ayam itu adalah pehobi yang memiliki koleksi burung berkicau berharga belasan hingga puluhan juta rupiah. Selain aksesori, penjualan pakan burung juga membubung. Pedagang di Malang, Jawa Timur, Muhtar Kamaludin, menjelaskan saat ini pehobi burung berkicau memburu pakan alami seperti ulat hongkong dan jangkrik. “Selain sebagai pakan harian, juga menjadi pakan penjaga stamina menjelang lomba,” ujarnya. Kamaludin menjual 150 kg ulat hongkong dan 400—450 kg jangkrik saban bulan. Jumlah itu naik 20% dibandingkan 2011. Harga ulat hongkong per 100 grRp5.000.

Tanjid Saefudin meraup pendapatan dari pemasaran sangkar mandi burung
Tanjid Saefudin meraup pendapatan dari pemasaran sangkar mandi burung

Bukan hanya pakan alami yang meningkat, tetapi juga pakan buatan. H Ebod, pemilik CV Ebod Jaya di Bandung, Jawa Barat, menyebutkan penjualan produknya meningkat 100% sejak 2011. Berapa jumlahnya? H Ebod enggan menyebutkan. Namun, pemicu kenaikan itu, “Banyak komunitas burung berkicau yang aktif,” ujar H Ebod yang rajin menjadi sponsor kontes burung berkicau itu. Saat ini CV Ebod Jaya mengeluarkan produk pakan khusus kenari, lovebird, dan muraibatu, selain aksesori seperti sangkar dan gantungan sangkar.

Inovasi

Menurut Boy AG dari BnR, organisasi penyelenggara kontes, pasar seputar kebutuhan burung berkicau terbentang. Tak melulu lokal, tapi juga dari mancanegara. “Kami mendapat permintaan ekspor pakan dari Belgia dan Belanda, tapi belum dapat terpenuhi,” ujar Bang Boy—sapaan akrab Boy AG. Saat ini BnR merilis 20 jenis produk pakan dan suplemen burung serta 5 jenis sangkar. Wisnu Wisnawa dari PT Prima Nutrisi Satwa di Jakarta menyampaikan hal serupa. “Penjualan pakan kami meningkat 2 kali lipat sejak dua tahun terakhir,” kata manajer pemasaran itu. PT Prima Nutrisi Satwa sudah mengeluarkan 4 pilihan pakan Juara untuk para pehobi burung.

Kopral, pedagang aksesori burung di Jakarta Timur menggambarkan saat ini terdapat lebih dari 500 jenis produk untuk burung mulai dari pakan, vitamin, obat, wadah, hingga peluit. Semuanya untuk memenuhi kebutuhan pehobi burung berkicau. Peluit? Barang seharga Rp2.000 itu menurut Kopral laku keras karena menjadi senjata pehobi di kontes. “Peluit dipakai untuk memancing burung berkicau di lomba,” ujarnya. Itu belum menghitung aksesori baju bergambar burung untuk pehobi. “Setiap pameran bisa laku 200—300 baju dengan harga Rp35.000-Rp75.000,” ujar Flan Kli dari F-Lo Kaos Kicau di Jakarta.

Permintaan pakan buatan terus meningkat
Permintaan pakan buatan terus meningkat

Seiring menanjaknya pamor burung berkicau, para pelaku harus terus berinovasi supaya tetap eksis. Wisnu Wisnawa, Boy, dan H Ebod, secara terpisah sepakat bahwa inovasi pakan diperlukan untuk memenuhi keinginan pehobi. “Produk yang bagus akan meningkatkan kepercayaan konsumen sehingga umur produk di pasar itu lebih panjang,” kata H Ebod. Inovasi budidaya untuk penyediaan pakan alami, misalnya, masih diperlukan. Salah satunya cara memproduksi kroto secara massal agar tidak bergantung lagi pada alam.

Dari catatan Trubus budidaya kroto yang dirintis sejak 2008 sampai saat ini hasilnya belum terang- benderang. Meski demikian saat ini Suwandi Laksana di Yogyakarta sudah bisa membudidayakan kroto di stoples plastik. Dari 1.500 stoples, Suwandi memanen 5—10 kg dan dijual Rp90.000 per kg. “Permintaan yang datang sampai 150 kg per hari,” katanya. Bisnis pakan dan pernik burung berkicau terasa manis bila tren burung berkicau terus berkibar. Ibarat ada gula, banyak semut. (Dian Adijaya Susanto/Peliput: Rizky Fadhilah, Riefza Vebriansyah, Muhamad Cahadiyat, Nurul Aldha, & Pressi Hapsari)

[box type=”shadow” ]

Sekolah Burung Berkicau

Syamsul Saputro saat ini mendidik 40 burung "siswa"
Syamsul Saputro saat ini mendidik 40 burung “siswa”

Supaya tetap gacor alias rajin berkicau, burung juga memerlukan latihan. Biasanya latihan itu melibatkan burung  master seperti cililin, cucak jenggot, jalak suren, lovebird, kenari, atau parkit. Artinya burung  berkicau itu akan menirukan suara burung-burung master. Proses pengisian burung membutuhkan banyak biaya karena perlu berinvestasi dengan membeli burung master. Sebagai gambaran harga burung cililin master Rp3-juta per ekor. Padahal untuk mengisi suara itu pehobi membutuhkan minimal 2 cililin dan burung jenis lainnya seperti lovebird.

Namun jangan berkecil hati bila hal itu sulit dilakukan. Saat ini ada sekolah burung berkicau yang menerima bakalan burung untuk diisi. Salah satu pemilik sekolah itu adalah  Syamsul Saputro, pemilik SKL Bird Farm di Indramayu, Jawa Barat. “Sekolah burung cocok bagi pehobi yang tidak mau repot dengan waktu luang mengurus burung yang terbatas,” katanya. Pehobi yang hendak “menyekolahkan” burung harus membayar iuran biaya pendidikan. “Biayanya Rp300.000 sebulan,” ungkap Syamsul.

Dengan harga murah itu pemilik burung tidak perlu repot memikirkan perawatan burung selama sekolah. Burung juga diasuransikan. “Jika burung kabur atau mati selama masa pendidikan akan diganti,” ungkapnya. Pendidikan berlangsung 9—12 bulan. Saat ini total jenderal terdapat 40 burung “siswa” yang belajar di sekolah burung milik Syamsul. Setelah lulus pendidikan, burung-burung itu siap terjun beradu kicauan di kontes. Anda tertarik? (Faiz Yajri, kontributor Trubus di Jakarta)

[/box]

Cover 1.pdf

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img