Produsen teh skala rumahan bermunculan, membuktikan teh menjanjikan laba.
Trubus — Lingkungan kediaman baru pasangan Dzein dan Inne Pardiana di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, jauh berbeda dengan rumah mereka sebelumnya di Kota Bandung. Tidak sampai 10 menit berkendara, kebun teh menghampar luas sejauh mata memandang. Terbiasa berwirausaha sejak belum menikah, Dzein seketika melihat peluang berbisnis teh. Inne—pengajar bakeri pastri akademi perhotelan di Bandung—mendukung ide suami.

Setelah berkonsultasi dengan ibu yang juga penggemar teh, pasangan itu mantap berbisnis teh. Namun, Dzein enggan berniaga semua jenis teh. “Produk teh di pasar banyak, punya saya harus berbeda,” katanya. Setelah mendapat masukan dari mertua, ibunda Inne, Dzein lantas memilih teh putih. Teh putih merupakan hasil dari daun teh yang masih kuncup atau menggulung, masih ada bulu-bulu halus yang tumbuh di daun.
Proses minimal dan oksidasi rendah menghasilkan teh bercita rasa lembut. Dzein memilih teh putih dengan alasan harga tinggi dan manfaat yang terbukti dirasakan banyak orang. Pengalaman Dzein, menjual barang mahal maupun murah kesulitannya sama. Dzein menuturkan menjual barang mahal, meski sedikit hasilnya langsung terasa.
Olah kuncup

Sejak pertengahan 2016, Dzein berbisnis teh putih dengan merek Teawidey. Ia menjual teh putih dalam kemasan berisi 100 gram Rp200.000. Harga yang tergolong fantastis tidak membuat pembeli mundur. “Hampir semua pembeli kami menjadi pelanggan,” kata pria berusia 40 tahun itu.
Selain kepada pembeli akhir, ia juga menjual kepada produsen lain yang melabel ulang produk Teawidey dengan merek mereka sendiri. Setiap bulan rata-rata 5 kg atau 50 kemasan Teawidey meluncur ke pembeli. Artinya omzet bulanan Dzein dan Inne Rp10 juta. Ia memperoleh pasokan dari 20 pekebun rakyat yang kepemilikan lahannya hanya 1—2 ha.
Menurut Inne teh putih sangat mahal karena produksinya sedikit. “Pemetik bekerja sebelum matahari terbit agar kelembapan pucuk terjaga. Mereka paling mendapat beberapa kuncup yang nantinya menjadi teh putih,” katanya. Produksi kuncup yang minim itu makin merosot ketika hujan lama tidak turun ataupun sebaliknya ketika hujan terlalu banyak. “Kalau banyak hujan kuncup rusak, kalau kurang hujan kuncup layu,” kata Inne.

Selain cuaca, kendala yang kerap mereka jumpai adalah kompetitor yang menjual dengan harga rendah. Perempuan 40 tahun itu menyatakan, harga jual rendah berarti harga beli dari pekebun pun murah. Padahal teh putih menjadi sumber pendapatan tambahan pekebun. Menurut Inne pekebun biasanya hanya menjual pucuk basah kepada pengepul seharga Rp1.800—R2.200 per kg tergantung jarak ke tempat pengangkutan. Sementara itu dengan mengolah sendiri kuncup daun menjadi teh putih, “Pekebun memperoleh pendapatan tambahan beberapa puluh ribu rupiah per kg setiap panen,” kata Inne.
Sayang, Inne enggan merinci jumlah tepat yang dimaksudkan lantaran menjadi rahasia dapurnya. Jika harga jual ditekan, maka pekebun yang memetik dan mengolah berjam-jam itulah yang paling dirugikan. Praktik yang merugikan pekebun itulah yang ingin dihindari pendiri Teh Sila di Kota Bogor, Jawa Barat, Ir Iriana Ekasari. “Industri teh saat ini tidak berpihak kepada pekerja atau pekebun kecil,” katanya.
Omzet meningkat
Iriana memoles teh yang hasil pembelian langsung dari pekebun dalam racikan berbentuk tisane atau tambahan bahan dari bunga, akar, atau daun selain tanaman teh yang dikeringkan dan dikonsumsi sebagai minuman herba (baca: “Cara Baru Sajikan Teh” halaman 96—97). Menurut Iriana berbagai bahan aromatik atau rempah seperti bunga kamomil, biji adas, pekak, mawar merah, kayu secang, maupun kayumanis. Ia menyasar kaum muda dan penggemar teh racikan dari berbagai usia. Oleh karena itu, ia mengemas dalam wadah apik dan memikat

Teh Sila tidak sendirian meluncurkan produk tisane. Produsen teh organik di Cianjur, PT Bukitsari, meluncurkan produk teh artisan alias blending tea mereka dengan merek Bankitwangi. Menurut Manajer Produk Bukitsari, Ronald Gunawan, produk teh artisan mengincar kaum muda yang peduli kesehatan. Iriana tidak khawatir dengan kehadiran kompetitor. “Kalau produsen sedikit, pasarnya kurang menarik bagi konsumen. Mana mungkin membeli kalau tertarik saja tidak?” ungkap mantan direktur utama salah satu anak perusahaan pelat merah itu.
Menurut Iriana kehadiran kompetitor juga mempermudah proses pendidikan konsumen. “Saya ikut diuntungkan,” katanya. Itu sebabnya ia yakin menerjuni bisnis teh meski hasil usaha yang ia rintis sejak Februari 2018 itu belum menutup biaya operasional. Ia yakin lantaran omzet terus meningkat setiap bulan.
Keyakinan sama juga dimiliki Edy Santoso di Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta. Ia meninggalkan dunia perbankan untuk berbisnis teh. “Saya ingin membuat teh khas Yogyakarta dengan kemasan berpenampilan cantik dan pantas untuk oleh-oleh,” katanya. Mendapat pasokan dari salah satu sentra teh, pada Juli 2018 ia meluncurkan label Teh Siji. Edy mengatakan, penjualan belum lancar, masih mengandalkan teman-teman kerja di tempat terdahulu, keluarga, dan kerabat. Ia yakin bisnis teh menguntungkan. (Argohartono Arie Raharjo)
