Tuesday, January 27, 2026

Bisnis Yahud Kaviar Hijau

Rekomendasi
- Advertisement -
Anggur laut layak dikembangkan
karena budidaya relatif mudah serta
diminati pasar dalam dan luar negeri.

Pasar dalam dan luar negeri menunggu pasokan anggur laut berkualitas. Prospek pasar bagus mendorong beberapa pihak serius mengembangkan anggur laut bermutu prima.

Trubus — Kadek Lila Antara, S.Pi., M.P., rutin memanen 800—1.000 kg anggur laut setiap bulan. Pembudidaya anggur laut di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, itu menjualnya dalam dua bentuk yaitu segar dan kering (menggunakan teknik dehidrasi). Penjualan segar mencapai separuh dari kapasitas produksi setara 400—500 kg. Harga jual Rp300.000—Rp400.000 per kg sehingga Lila beromzet minimal Rp120 juta.

Adapun penjualan kering mencapai 200 kg per bulan. Lila memerlukan 2 kg segar bulung boni—sebutan anggur laut di Bali—untuk menghasilkan 1 kg kering. Harga jual anggur laut kering mencapai Rp100.000 per gram atau Rp1 juta per kg. Jadi, omzet Lila dari perniagaan anggur laut kering minimal Rp200 juta. Total jenderal pendapatan Lila dari anggur laut Rp320 juta saban bulan.

Ia mengutip laba minimal 25% setara Rp80 juta. “Banyak dana yang digunakan untuk riset,” kata anggota staf pengajar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali, itu. Konsumen anggur laut Lila berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Bali, Jakarta, dan Surabaya (Jawa Timur). Restoran, hotel, dan masyarakat termasuk konsumen anggur laut produksi Lila.

Komoditas baru

Anggur laut merupakan komoditas baru. Dunia internasional menyebutnya green caviar. Itu mengacu pada bentuk anggur laut yang mirip telur ikan kaviar—anggota famili Acipenseridae dan berwarna hijau. Lila Antara membudidayakan kaviar hijau di kolam semen berukuran 3 m x 3 m sejak 2017. Ia melengkapi pipa inlet dan outlet serta sistem aerasi pada sekitar 60 kolam semen. Tujuannya menjaga kandungan oksigen dalam air.

Sistem aerasi berfungsi hanya pada malam hari. Tinggi air dalam bak sekitar 30 cm. Lila memanfaatkan persegi panjang berbahan pipa berukuran 1 m x 0,5 m (matras alga atau algae mat) sebagai wadah penempelan bibit anggur laut. Setiap matras alga berisi 3 kg bibit. Ia membersihkan anggur laut dari gulma sekali setiap pekan.

Head Project PT Tropical Ocean Prawn (TOP), Novie Dwi Karlina, menjadikan anggur laut sebagai salah satu komoditas yang terus dikembangkan demi mendapatkan keuntungan.

Selang 35 hari umi budo—sebutan anggur laut di Jepang—berkembang menjadi 6 kg per matras alga. Dua pekerja hanya memilih anggur laut dengan panjang 7—10 cm sesuai permintaan pasar. Mereka mengembalikan alga anggota famili Caulerpaceae itu di luar ketentuan itu ke kolam sebagai bibit. Lila tidak sendirian menikmati lezatnya laba anggur laut.

Head Project PT Tropical Ocean Prawn (TOP), Novie Dwi Karlina, pun mengembangkan anggur laut sejak Januari 2019. “Potensi pasar anggur laut ada, tapi budidaya belum ada. Kami ingin memunculkan sesuatu yang unik dan baru,” kata Novie. Perusahaan itu menanam anggur laut di Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali. Kapasitas produksi PT TOP 200 kg anggur laut segar per bulan.

Omzet Novie Rp30 juta per bulan. Sayang, ia enggan menyebutkan laba bersih. “Budidaya anggur laut pasti menguntungkan,” kata perempuan kelahiran Jakarta itu. Menurut Lila untuk menghasilkan 1 kg anggur laut segar petani memerlukan biaya Rp70.000—Rp100.000. Adapun harga jual lebih tinggi daripada biaya itu.

Novie memelihara anggur laut di bak bundar plastik berdiameter 2,5 meter. Saat ini ada 20 bak berukuran sama. Cara budidaya itu mirip dengan yang dilakukan Lila yakni teknik tertutup sebagian (semiindoor). Sejatinya keberadaan Lila dan Novie di Bali membuktikan berkembangnya penanaman anggur laut di tanah air. Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar pelopor pengembangan lawi lawi di Indonesia.

Masyarakat setempat menyebutnya lawi-lawi. “Lawi lawi termasuk komoditas kelautan yang relatif baru lantaran berhasil didomestikasi pada 2011,” kata peneliti anggur laut di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar, Sulawesi Selatan, Dr. Dasep Hasbullah, S.Pi, M.Si. Semula masyarakat mendapatkan anggur laut langsung dari alam, tanpa membudidayakan. Namun, kini masyarakat mampu membudidayakannya.

Menguntungkan

Budidaya anggur laut di PT TOP.

Dasep dan tim berhasrat agar kelestarian anggur laut di alam selalu terjaga. Harap mafhum, masyarakat Sulawesi Selatan gemar menyantap anggur laut. Tim peneliti pun berinisiatif mengembangkan teknik budidaya latoh—sebutan anggur laut di Jawa—yang ramah lingkungan berupa penanaman di tambak sejak 2009. Dasep dan tim menyempurnakan teknik budidaya dengan metode penanaman di tambak dan di ruangan yang tertutup sebagian (baca Hasilkan Anggur Laut Bermutu halaman 16—17).

Dasep menuturkan, budidaya anggur laut terus berlanjut, produktivitas cenderung meningkat, dan jumlah pembudidaya bertambah. “Jika dikelola dengan baik usaha budidaya lawi lawi mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan,” kata doktor alumnus Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, itu.

Amin Mustono Daeng Nyala salah satu pembudidaya yang lebih dahulu merasakan gurihnya keuntungan dari anggur laut. Permintaan paling banyak empat bulan menjelang bulan puasa. Saat itu ia menuai sekitar 300 karung anggur laut setiap bulan. Satu karung berbobot 50 kg dan dibanderol Rp150.000 per karung. Oleh karena itu, Daeng Nyala memperoleh omzet Rp45 juta.

“Keuntungan bersih sekitar Rp80.000 per karung,” kata warga Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, itu, kepada reporter Trubus, Tamara Yunike. Itu berarti tabungan Daeng Nyala bertambah Rp24 juta setiap bulan saat menjelang puasa.

Wajar saja ia menjadikan budidaya anggur laut sebagai salah satu sumber pendapatan utama karena laba sebesar itu (baca Profit dari Anggur Laut halaman 16-17).  Banyak warga lain yang juga merasakan nikmatnya laba anggur laut. Hasil penelitian Arnina dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, memperkuat anggapan itu.

Permintaan tinggi

Kemasan modern anggur laut milik PT Segara Sumber Kahuripan. (Dok. Muhammad Azhari Dadas)

Respons konsumen di Sulawesi Selatan pun bagus dengan adanya anggur laut hasil budidaya. Menurut Dasep terdapat delapan pasar tradisional di Makassar, Sulawesi Selatan, yang menjajakan anggur laut. Sebelumnya pasokan anggur laut di semua pasar itu berasal dari tangkapan alam. “Kini hampir 70% pasokan anggur laut di delapan pasar itu berasal dari tambak,” kata peraih dua kali tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya pada 2014 dan 2018 itu.

Itu bukti sahih berkembangnya bisnis anggur laut yang juga dialami Lila, Novie, dan Daeng Nyala. Semula Lila hanya menanam bulung boni di 20 bak berukuran 1 m x 1 m. Kini ia mengembangkan anggur luat di 60 bak berukuran 3 m x 3 m. Novie pun berencana menambah 50 bak baru sehingga total jenderal ada 70 bak pada 2020. “Pada tahap awal penambahan 20 bak dahulu,” kata alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, itu.

Sementara perkembangan bisnis Daeng Nyala ditandai dengan meluasnya wilayah pemasaran hingga ke Kabupaten Maros, sebelumnya hanya di Takalar. Lila dan Novie sepakat peluang pasar anggur laut di masa depan cerah. Pasar dalam dan luar negeri memerlukan sosialisasi dan edukasi yang lebih intens. Alasannya anggur laut termasuk barang baru terutama masyarakat perkotaan.

Meski begitu kini mulai marak penjualan anggur laut melalui media sosial sehingga makin banyak masyarakat yang mengenal biota laut itu. Kepada reporter Trubus, Muhamad Fajar Ramadhan, salah satu pedagang anggur laut daring di Jakarta, Afifah, mengatakan menjual Caulerpa sp. Sejak 2018 karena belum banyak masyarakat yang mengenal alga hijau itu. Ia menyediakan dua jenis produk (kualitas A dan premium) dalam kemasan 250 g. Harga anggur laut kualitas A Rp140.000, sedangkan premium Rp190.000.
Afifah menjual 40—100 kemasan per bulan. Ia menjamin anggur laut yang dijual hasil budidaya dan aman. Oleh sebab itulah ia memasarkan anggur laut miliknya sebagai makanan super (superfood) lantaran banyak khasiatnya (baca Singkap Rahasia Anggur Laut halaman 18—19).

Pasar ekspor

Kadek Lila Antara, S.Pi., M.P. mengembangkan anggur laut di kolam semen sejak 2017.

Tidak hanya pasar dalam negeri yang menggeliat. Pasar mancanegara pun menyukai anggur laut produksi Lila. “Ada permintaan sekitar 3 ton anggur laut kering dari Rusia, Amerika Serikat, Kanada, dan Turki,” kata warga Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, itu. Rencananya September 2020 ekspor ke empat negara itu terwujud. Lila juga tengah menegosiasikan harga dengan Singapura, Jepang, dan Tiongkok.

Ketiga negara itu meminta pasokan masing-masing 1—3 ton anggur laut kering per bulan. Permintaan ekspor menunjukkan kualitas anggur laut dari Indonesia bersaing dengan negara produsen lain seperti Jepang, Thailand, dan Vietnam. Itulah sebabnya Lila tengah menambah kapasitas produksi sekitar 3 ton. Ia juga berencana membudidayakan anggur laut di tambak 1 hektare pada 2020 demi tercapainya ekspor.

Musababnya produktivitas anggur laut di tambak lebih tinggi ketimbang di kolam semen. Novie pun menargetkan pasar ekspor pada 2021. Jepang dan Tiongkok kepincut anggur laut produksi Novie. Menurut anggota staf bagian pemasaran PT Segara Sumber Kahuripan, Muhammad Azhari Dadas, anggur laut terkenal di Jepang, terutama di Okinawa.
Di sana panen anggur laut tidak bisa sepanjang tahun karena ada musim dingin. Harga pun melonjak karena pasokan sedikit. Lalu negara lain seperti Thailand, Filipina, dan Vietnam, mengetahui tingginya permintaan anggur laut di Jepang, sedangkan produksinya sedikit. Ketiga negara itu pun mulai menanam anggur laut.

Sebetulnya Okinawa meminta pasokan anggur laut segar. Cara menjaga lawi lawi agar tetap segar ketika sampai tujuan yang masih menjadi pekerjaan rumah produsen di dalam negeri. Dadas mengatakan anggur laut tidak bisa terlalu panas dan beku. Berbeda dengan gurita yang bisa mati suri ketika dibekukan. “Anggur laut akan rusak dan mengerut jika dibekukan,” kata alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Udayana, itu. Kendala lainnya yakni pemasaran dan musim hujan (Baca Banyak Aral Tanam Latoh halaman14-15). Jika hambatan teratasi, laba pun didapat. (Riefza Vebriansyah)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img