Friday, December 2, 2022

Bomber Cetak Hatrik

Rekomendasi

Berlaga di kelas bintang, Bomber RSK tidak tertandingi di kontes Trenggalek, Bandung, dan Blitar.

Bomber RSK, hatrik di laga bintang“Bomber memang istimewa, ia punya kelebihan: selam tapi tetap aktif bergerak dan ceria,” kata Andry, juri asal Jember, Jawa Timur. Menurut Andry biasanya ayam selam—leher ditarik ke belakang dan kepala terbenam di bawah dada yang membusung—gayanya langsung terkunci, clek, diam hanya kepala yang menoleh ke kanan dan ke kiri. Kelebihan lain stamina serama milik Edy Yuwono asal Kediri, Jawa Timur, itu juga terjaga. Dari awal hingga akhir penilaian selama 3 menit pada kelas laga bintang, Bomber nyaris “bekerja” tanpa istirahat.

Di kelas laga bintang, Bomber menyisihkan 6 peserta lain yang notabene serama-serama jawara. Sebut saja Besi Tua milik Tyok dari SIC Surabaya, Awan Kelabu andalan Dony dari Lampung, dan Torpedo kebanggaan H Iskandar asal Malaysia yang sebelumnya menyabet gelar best of the best  pada kontes di Bandung, Jawa Barat. Bahkan saudara sekandangnya, Bintang 9 yang dijagokan pemilik, dilibasnya. Itu artinya dalam 3 kali kontes berturut-turut Bomber merengkuh gelar juara laga bintang: Trenggalek (Jawa Timur), Bandung dan Blitar.

 

Pasangan serasi

Pantaslah pada Kontes Nasional Kecantikan dan Seni Ayam Serama di Waroeng Lesehan Abina, Blitar, pada awal Oktober 2013 itu, Bomber dielu-elukan maniak serama  tanahair. Serama berbulu cokelat kemerahan itu tidak hanya berjaya di laga bintang. Turun di kelas tanpa lawi, Bomber walau tidak tampil maksimal berhasil menyisihkan 10 pesaing, termasuk Raja Hentak dan Besi Tua.

Pehobi serama dari berbagai kota turun gelanggang di BlitarKinerja serama kelahiran Kelantan, Malaysia, itu mulai menghebohkan penonton ketika bertanding di laga bintang.  “Atraktif dengan gaya kaki menjinjit saat mengangkat dan menurunkan dadanya yang menonjol,” ungkap M Arifin, juri dari Blitar, Jawa Timur.

Kondisi itu setali tiga uang kala memperebutkan gelar bergengsi best of the best. Alih-alih staminanya terkuras di laga bintang, Bomber justru menunjukkan kelasnya.  Ia bergerak dari sudut ke sudut meja penilaian sambil sesekali melirik lawan-lawannya dan mengepakkan sayap.  “Sungguh luar biasa variasi gayanya,“  tutur Agus Supriyanto, juri dari Bali. Pantas bila lima juri Agustinus (Surabaya), Andy Yatno (Bandung), Andry (Jember), Agus Supriyanto (Bali), dan  Karjono (Jakarta) sepakat memilih Bomber sebagai kampiun.

Atas gayanya yang memukau, sampai-sampai para maniak serama berandai-andai Bomber dipasangkan dengan Putri Keramat. “Anak-anaknya susah dibayangkan bagusnya. Mungkin jadi superserama,” kata Rony, pehobi serama di Blitar. Sebelum berlangsung pemilihan best of the best Putri Keramat dinobatkan sebagai juara laga betina.  “Gayanya tidak kalah menawan dibanding Bomber: dada besar, selam, dan aktif,” ucap Agustinus. Serama kesayangan H Iskandar dari Malaysia itu juara di kelas betina dewasa sebelum diterjunkan di kelas laga betina.

 

Ketat di 5 besar

Di kelas betina dewasa Putri Keramat mendapat tantangan berat dari Ajibun, serama milik M Nur dari Tulungagung.  Hanya karena kalah elegan, serama dengan leher getar itu harus puas di posisi kedua. “Kualitas serama di kelas betina dewasa bagus-bagus. Persaingan di lima besar sangat ketat, paling  selisih nilainya hanya setengah poin,” ujar Andy Yatno. Oleh karena itu banyak pehobi kecele ketika serama jagoannya diungguli serama pehobi lain.  Maklum, dari 14 serama yang tampil sebagian besar datang dari Malaysia untuk dijadikan indukan agar menitiskan anakan berkualitas.

Edy Yuwono raih trofi bergengsi atas kesuksesan BomberSebetulnya persaingan ketat terjadi di semua kelas.  Hanya saja di bawah lima besar agak longgar.  “Apalagi jika serama-serama terbaik Blitar diturunkan, persaingan pasti akan lebih ketat,” kata Widodo, koordinator juri dari Blitar.  Berdasarkan informasi dari panitia, selaku tuan rumah para pehobi di Blitar tidak banyak menurunkan seramanya demi menjaga netralitas penjurian.  Padahal, jika lebih banyak  yang turun, mungkin masih bisa ditemukan serama legendaris asal Blitar seperti Oscar.

“Kami puas menyelenggarakan kontes kali ini.  Pesertanya datang dari seluruh Jawa, Lampung, Makassar, dan Malaysia dengan kualitas serama tidak kalah dibanding kontes tingkat nasional lainnya,” tutur Catur Didik, ketua panitia. Didik merinci dari 15 kelas yang dikonteskan terdapat 164 peserta turut turun arena. “Yang lebih menggembirakan, pehobi dari Makassar—pada satu atau dua bulan ke depan akan bertindak sebagai tuan rumah—menyempatkan datang, sehingga tujuan kami untuk bersilaturahim sesama serama mania dan membangkitkan gairah perseramaan di Indonesia tercapai,” lanjut Didik. Andhi Nurcahyo, pehobi serama dari Makassar, pun sepakat. (Karjono)

Previous articleBerganti Kelamin
Next articleNomor Satu Kualitas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img