Thursday, August 18, 2022

Buah Thailand Siap Tempur

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Pemerintahan Taksin Chinawatra siap menjalankan program food safety pada 1 Oktober 2004. Program itu menjamin konsumen dalam dan luar negeri akan keamanan produk pangan. Kandungan residu bahan kimia salah satu tolok ukurnya. Maklum sejak 3 tahun belakangan keamanan produk pertanian buat konsumennya memang terus didengungkan.

Sebagai negara pengekspor buah dan sayuran, Thailand jelas punya kepentingan untuk bisa memenuhinya. Dengan Good Agricultural Practice (GAP) produk negeri Gajah Putih itu siap bersaing di pasar internasional.

Sosialisasi yang dilakukan sejak 3 tahun silam ditanggapi serius oleh para pekebun. Maklum jika GAP tidak diterapkan, besar kemungkinan hasil panen mereka tidak akan laku di pasaran dunia. GAP merupakan cara budidaya yang mengarah pada pertanian organik. Meski organik, kualitas dan produktivitas panen tak kalah dengan budidaya secara konvensional. Akhir September silam Trubus mengunjungi beberapa kebun yang sudah menerapkannya.

Preventif lebih baik

Virat Paibun, pekebun nam dok mai si thong kawakan di Rayong, mengaku kini lebih sulit memasarkan hasil panennya. “Jepang—ini pasar ekspor terbesar mangga Thailand—lebih ketat memasukkan buahbuahan impor. Tingkat kemanisan, warna, dan residu kimia harus sesuai standar. Jika tidak, barang akan ditolak,” ucap pria 60 tahun itu.

Sudah 3 tahun Virat Paibun menerapkan GAP di kebun seluas 43 ha miliknya. Pupukdan pestisida kimia dikurangi. Sebagai pengganti rabuk kimia, ketua kelompok pekebun mangga kelahiran Chonburi itu memilih kompos dan pupuk kandang. Pestisida kimia masih digunakan untuk mengatasi hama aphids. Maklum “Aphids hanya mempan dengan pestisida kimia,” ucapnya. Walau demikian, penggunaan racun itu dibatasi jika serangan terjadi.

Pekebun berpengalaman selama 40 tahun itu lebih suka melakukan tindakan preventif sebelum hama merajalela. Saat bunga muncul, ia rajin menggoyanggoyangkan bunga di atas selembar kertas putih untuk mendeteksi serangan hama kecil itu. Selama serangan masih di bawah ambang batas, pemberian racun kimia ditiadakan. Sebelumnya setiap kemarau tiba, ada atau tidak ada serangan, pestisida kimia disemprotkan.

Penanggulangan hama dengan cara ramah lingkungan juga dilakukan oleh Panya, pekebun manggis di Rayong. Pria 48 tahun itu menggantungkan sebuah papan kecil berwarna kuning di 300 pohon manggis. Serangga yang menempel di papan berlapis perekat itu kemudian diidentifi kasi.

Dengan begitu Panya bisa menentukan pestisida yang digunakan dan dosisnya. Pemeriksaan yellow trap dilakukan setiap pekan, sehingga pria asal Rayong itu dapat memberikan pestisida tepat waktu. Pembatasan penggunaan pestisida, selain lebih ramah lingkungan sekaligus menghemat biaya.

Lebih aman

Dalam penerapan GAP, penggunaan pestisida untuk mengatasi hama memang dikontrol. Kitti, pekebun duku di Rayong memilih menyemprotkan pestisida alami ketimbang kimia di kebun seluas 10,5 ha miliknya. “Pestisida alami digunakan untuk mencegah serangan hama,” ujar alumnus Fakultas Pertanian Universitas Mae Jo, Chiangmai itu. Daun nimba, sereh hutan, dan eucalyptus masing-masing 2 kg direbus dengan 70 l air dalam solar cell berbahan bakar energi sinar matahari. Larutan direbus minimal selama 2 hari 2 malam.

Setelah itu, 1 l larutan dicampur dengan 100 l air. Campuran itu cukup untuk menyemprot 5 pohon duku. Penyemprotan dilakukan 5—10 hari sekali. Bau menyengat dan rasa pahit membuat hama enggan mendekat. Karena aman, pestisida alami dapat digunakan sesering mungkin dan disimpan untuk waktu lama.

Biopestisida juga digunakan Khairat, pekebun asparagus di Nakhonpathom, untuk mengatasi serangan penyakit. Yang digunakan Trichoderma harzianum. Mikroorganisme itu terbukti ampuh membunuh bakteri dan cendawan patogen penyebab penyakit, seperti busuk akar dan batang pada tanaman buah dan sayuran.

Pria paruh baya itu membiakkan trichoderma dalam media nasi. Media yang sudah ditumbuhi mikroorganisme dicuci agar spora larut dalam air. Larutan spora yang berasal dari 1 kg media itu disaring dan ditambah lagi dengan air hingga volume 200 l. Penyemprotan dilakukan pada pagi atau sore, saat sinar matahari tidak terik. Sebelumnya lahan dibasahi dulu agar lembap. Untuk luasan lahan 100 m2 dibutuhkan 10—20 l larutan biopestisida.

Residu kimia dalam produk pertanian bisa juga berasal dari pupuk. Oleh karena itu, dalam GAP pemberian pupuk kimia harus dikurangi. Kompos dan pupuk kandang merupakan pilihan yang disarankan.

Kompos dibuat dengan cara sederhana. Limbah pertanian dan dapur, seperti molase, cangkang kerang, tulang ikan, sekam padi, kulit telur, kulit buah-buahan, dan daun-daun kering difermentasi dalam wadah tertutup dengan bantuan Bioextract (BE). BE merupakan mikroorgnisme sejenis EM4 di tanah air. Kotoran sapi merupakan bahan baku pupuk kandang yang lazim digunakan.

Pupuk hijau juga banyak digunakan. Panya memanfaatkan pelepah daun pisang yang dicacah kemudian diletakkan di sekeliling tajuk pohon manggis. Pelepah itu dibiarkan lapuk secara alamiah. Ia juga sengaja menumbuhkan ganggang di kolam di dekat kebun. Tanaman air tersebut dibenamkan bersama pupuk kandang di sekeliling tajuk. “Pohon yang diberi ganggang pertumbuhannya terlihat cepat,” ujar pemilik kebun manggis seluas 3 ha itu.

Dukungan pemerintah

GAP yang telah dilakukan oleh beberapa pekebun itu mendapat dukungan dari DOAE (Department of Agriculture Extension)—Deptan-nya Thailand. Suwat Saengakad, pekebun durian di Rayong, mencatat setiap kegiatan budidaya di kebun seluas 3 ha miliknya. Mulai dari persiapan, pengolahan tanah, perawatan, hingga panen. Sebab petugas DOAE akan berkunjung dan memeriksa catatannya secara rutin.

Deptan Thailand juga memberikaan bantuan sarana prasarana budidaya. Misal Kitti yang bisa membeli solar cell dengan harga lebih murah.

Kalau Thailand dengan buah-buahan dan sayuran unggul hasil GAP siap bersaing di pasar dunia, Indonesia baru akan mencangkan go organik pada tahun 2010. Jalan panjang masih harus disusuri produk pertanian Indonesia menuju pasar dunia. (Indun Dewi Puspita)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img