Monday, August 8, 2022

Telah Datang Bakal Pesaing Pondoh

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Harga selangit itu lantaran daging kuning, tekstur halus, dan rasa sangat manis—mencapai 18o brix. Aromanya yang harum membuatnya benar-benar istimewa. Bila dipetik tua daging buah mengeluarkan cairan kuning semacam madu.

Itu yang memberi rasa sangat manis pada salak berkulit cokelat kehitaman. Dengan sejumlah kelebihan itu wajar ia jadi salah satu primadona di ajang Festival Buah Indonesia 2003 di Denpasar, Bali, awal Desember.

Mutasi gen

Salak madu sebenarnya salah satu varian salak pondoh. “Daging buah yang manis sejak muda, menandakan ia masuk kelompok pondoh,” papar Ir Thamrin MSc, peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta. Persilangan alami yang berlangsung lama antara pertanaman salak di beberapa sentra di Kabupaten Sleman diduga menyebabkan terjadinya mutasi gen. Muncullah varietas baru.

Salak madu mudah dikenali. Bentuk buah hampir bulat sempurna dan berukuran kecil, diameter hanya 5—5,5 cm. Seperti pondoh, daging madu juga tergolong tipis. Bahkan, karena memiliki cairan madu, daging hampir transparan sehingga biji di dalam terlihat jelas. Biji kecil, bulat, dan berwarna kehitaman.

Salak hasil eksplorasi bareng BPTP Yogyakarta dan BPSB Yogyakarta itu sudah lama hadir di kebun-kebun petani. Ia juga dijajakan di kios-kios buah bersama salak pondoh. Di kalangan petani si madu dikenal dengan beragam nama. Di antaranya ada yang menyebut salak cincin. Namun, karena produksi terbatas, saat dipasarkan ia dicampur dengan salak pondoh.

Belakangan, beberapa agen pengumpul mencoba memisahkannya dari salak pondoh dan menjual dengan harga berbeda. Mujono, pekebun di Dusun Balerante, Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Sleman, mengebunkan secara khusus. Dinas Pertanian DIY bekerjasama dengan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) dan BPTP setempat pun tertarik menelusuri keberadaan salak ini lebih jauh.

Hasil identifikasi tanaman dan penelitian genotip membuktikan, ia termasuk varietas baru. Ia pun diusulkan untuk dilepas sebagai salak unggul baru.

Bibit mahal

Debutan baru itu diduga berasal dari Dusun Sokotegal, Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Sleman. Dari sana barulah ia tersebar ke beberapa sentra salak di wilayah itu. Menurut tim eksplorasi, salak madu ditemukan di beberapa kebun di Kecamatan Tempel, Turi, bahkan hingga ke wilayah Kecamatan Srumbung, Magelang. Namun, “Dibanding pondoh, populasi salak madu masih sangat terbatas,” ujar Thamrin.

Di Kecamatan Turi misalnya, populasi tanaman yang telah teridentifi kasi 1.191 rumpun. Di daerah asalnya di Kecamatan Tempel, bahkan baru 200 rumpun. “Di sana salak madu hanya dirawat seadanya, belum mendapat sentuhan teknologi yang memadai,” ungkap pakar Manajemen Tanah dan Air lulusan Pascasarjana UGM itu. Padahal, ia terbilang rajin berbuah. Tanaman mampu berbuah 4 kali setahun dengan produksi 6 tandan/musim sebanyak 7—8 buah setandan, atau setara 3 kg/rumpun/musim.

Menurut Ir Indria Wiweko, fungsional Pengawas Benih Tanaman di BPSB DIY, pengembangan salak madu memang masih terbatas. “Karena harga jualnya tinggi, pemilik tanaman induk masih membatasi distribusi bibitnya,” paparnya. Salak madu hanya berkembang di kalangan keluarga tertentu saja.

Saat ini Kelompok Tani Sari Madu pimpinan Mujono di Dusun Balerante, Wonokerto, Turi, Sleman mulai aktif mengembangkan bibitnya. Dengan pohon induk sebanyak 931 rumpun, ribuan batang bibit sudah dihasilkan. Namun, harga jual bibit yang berkisar Rp150.000—Rp300.000/batang terasa memberatkan. Karena itu tak banyak pekebun yang tertarik mengembangkan. (Fendy R Paimin)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img