Trubus.id— Awal musim hujan, waktu penanaman paling pas untuk mamey sapote. Terutama di daerah yang tak memiliki sumber pengairan permanen. Tanah diolah dan diberi pupuk kandang.
Pengolahan tanah di sekitar lubang tanam harus gembur benar, agar kantung air tak terjadi. Setelah itu bibit ditanam dengan jarak 4 m x 7 m, atau bila lahan luas 6 m x 9 m.
Bila mamey ditanam di halaman rumah, pastikan jaraknya 9 m dari bangunan. Ini untuk menghindari kerusakan tajuk dan struktur tanah di sekitar bangunan.
Setelah ditanam, bibit harus langsung disiram secukupnya. Usahakan agar tanaman muda selalu bebas dari gulma. Beri mulsa jerami berketebalan 5—10 cm di sekitar bibit. Cara ini bermanfaat untuk menjaga kelembapan media.
Ketika tunas muda muncul, saatnya memberi pupuk lanjutan. Seperti memberi pupuk kandang rutin setiap bulan. Bila diperlukan, berikan pupuk NPK sebagai tambahan. Namun, frekuensinya cukup 2—3 bulan sekali.
Pemupukan dilakukan secara teratur sampai 3 tahun pertama. Penyiraman intensif syarat mutlak bagi tanaman muda. Penyiraman di awal pertumbuhan sangat menentukan keberhasilan tumbuh mamey. Jika curah hujan sedikit, pastikan bibit mendapat pasokan air rutin setiap hari.
Mulai awal penanaman sampai 6 minggu pertama, hindari tanaman menjadi layu atau malah “banjir” air. Penyiraman juga sangat diperlukan saat musim kemarau panjang tiba, 2—3 kali per minggu.
Begitu pula saat pembungaan, pembentukan buah, dan masa awal berbuah. Pemangkasan dilakukan agar tajuk tanaman terbentuk sempurna. Mamey cenderung membentuk 3—4 anak cabang yang saling berdekatan. Karenanya pangkas anak cabang tak berguna.
Sisakan yang kuat dan bagus untuk pembentukan tajuk tanaman. Bila tumbuh baik, setelah 3—4 tahun, mamey akan berbuah. Buah masak merekah atau sedikit retak pada kulit. Warna berubah dari kehijauan menjadi cokelat, kemerahan, atau oranye, tergantung varietas.
Cara petiknya dengan memutar buah atau memotong dengan pisau. Buah lalu diperam selama beberapa hari sampai lunak.
