Thursday, December 8, 2022

Butuh Bibit Nila? Datang ke Sleman

Rekomendasi

Hari itu terkumpul 40.000 – 50.000 bibit siap kirim ke pontianak, kalimantan barat. Dengan harga rp8/ekor wawan meraup pendapatan sebesar rp1-juta – rp1,25-juta.

 

 

Volume panen sebanyak itu baru setengah dari total permintaan yang mencapai 70.000 – 100.000 ekor. Sebetulnya panenan Wawan berjumlah 70.000 ekor, tapi 20.000 ekor tidak lolos sortir dan harus dibesarkan lagi selama beberapa hari hingga siap jual. Menurut Wawan permintaan bibit nila meningkat pesat dalam 3 tahun terakhir. Makanya kolam-kolam yang dulu untuk pembesaran lele, sebagian menjadi pembibitan nila. Cangkringan sejak 1990-an hingga 2004 dikenal sebagai sentra lele.

Saptono, ketua kelompok Mino Ngembroko di Cangkringan menuturkan, ‘Pergeseran dari lele ke nila dimulai pada 2004 dan puncaknya 2006. Sejak itu usaha pembibitan Oreocromis niloticus di Cangkringan mencapai 70 – 80% dari total usaha perikanan.’ Pemicunya, permintaan nila merah untuk konsumsi dalam dan luar negeri terus melonjak. Kelompok Mino Ngembroko setiap pekan mengirim minimal 1-juta bibit ke Pontianak, Manado, dan Yogyakarta.

Hemat pakan

Di Cangkringan kini ada sekitar 15 pembibit nila merah dengan jumlah kolam 120 buah. Luasannya rata-rata 700 m2/kolam. Dari total kolam itu setiap tahun Desa Cangkringan memproduksi kurang lebih 48-juta bibit nila merah berbagai ukuran mulai dari 2 – 3 cm sampai ukuran glondongan sekilo isi 80 – 100 ekor.

Di Cangkringan pembibitan nila juga sudah tersegmentasi. Artinya ada peternak yang memproduksi larva, BI(bibit ukuran 2 – 3 cm), B2 (3 – 5 cm), B3 (5 – 7 cm), dan glondongan isi 80 – 100 ekor/kg. Peternak penghasil bibit ukuran BI(2 – 3 cm) membesarkan bibit dari larva, peternak B2 (3 – 5 cm) membesarkan bibit dari ukuran BI, dan seterusnya. Dengan begitu waktu yang dibutuhkan oleh masing-masing peternak cukup singkat. Pembesar dari BIke B2 hanya butuh waktu 2 – 3 minggu. Untuk menghasilkan glondongan sekitar sebulan dari bibit ukuran 5 – 7 cm.

Harga masing-masing bibit dibedakan berdasarkan ukuran: larva Rp8/ekor; 2 – 3 cm, Rp25/ekor; 3 – 5 cm, Rp35/ekor; 5 – 7 cm, Rp45/ekor; dan glondongan Rp17.000/kg. Menurut Wawan dengan harga itu peternak bisa meraih untung lumayan. Maklum, peternak memanfaatkan kotoran puyuh sebagai stimulus pakan.

Kotoran puyuh mengundang plankton – sebagai pakan tambahan nila,’ kata Dr Rustadi, dosen Fakultas Perikanan Universitas Gadjah Mada. Kotoran puyuh dapat menghemat biaya pakan 10 – 15%. Bila tanpa kotoran puyuh untuk membesarkan 1 – 1,5 kuintal glondongan sampai 5 – 7 ekor/kg di kolam 200 m2 butuh 8 – 10 sak setara 240 – 300 kg atau senilai Rp1.584.000 – Rp1.980.000. Dengan penambahan kotoran puyuh kebutuhan pakan hanya 216 – 270 kg atau senilai Rp1.425.600 – Rp1.782.000. Kotoran puyuh yang ditambahkan sebanyak 15 sak setara 450 kg atau senilai Rp1.050.000 per kolam untuk 3 periode pembibitan.

Seputaran Sleman

Di Kabupaten Sleman produsen bibit nila merah lain adalah Kecamatan Kalasan dan Depok. Dinas Perikanan Sleman mencatat pada 2007 total produksi bibit nila merah di Sleman mencapai 1.130,93 ton dan nila hitam 619,42 ton. Produksi itu diperoleh dari 305 kelompok pembudidaya ikan yang rata-rata beranggotakan 40 peternak. Sebesar 75% dari total produksi dipasarkan ke Yogyakarta.

Di Kecamatan Depok ada Kelompok Mina Sembada Makmur di Desa Kadi Suko yang dapat memproduksi bibit berukuran 12 – 15 g/ekor sebanyak 4.000 ekor/2 bulan. Di desa yang ditempuh selama 20 menit dengan berkendaraan mobil dari Cangkringan itu berjejer puluhan kolam rata-rata seluas 1.000 m2 di kiri-kanan jalan.

Terpisah waktu 10 menit berkendaraan ke Desa Tempel Sari, Banjeng, Maguwoharjo, Kecamatan Depok, terdapat Kelompok Pembudidaya Ikan Mina Mulya. Setiap 3 hari kelompok itu memasok 3 kuintal dari 9 kuintal permintaan bibit ke Solo. Menurut Edi Priyanto, penyuluh pertanian di Kecamatan Depok, untuk seluruh Kecamatan Depok produksi bibit pada 2008 mencapai 62.000 kg. Jumlah itu jauh di bawah permintaan sebesar 3 ton/minggu.

Pun di Kecamatan Kalasan, terdapat 3 desa – Kadisuko, Kaliwaru, dan Karang – yang mengusahakan pembibitan nila dengan produksi 8 ton/bulan. Menurut Sudi Suwarto, pembibit sekaligus penyuluh pertanian, yang banyak diminta di tempatnya adalah ukuran glondongan untuk dibesarkan di Waduk Kedung Ombo itu.

Waduk

Tak hanya mengusahakan bibit, beberapa kelompok ikut membesarkan nila sampai ukuran konsumsi, 5 – 7 ekor/kg. Maklum, permintaan ukuran konsumsi juga cukup besar. Kelompok Ikan Mina Mulya memasok 7 kuintal nila ke pengepul.

Volume sebanyak itu antara lain berasal dari Muhammad Irwan, sekretaris kelompok, yang memiliki 4 kolam masing-masing berukuran 150 – 200 m2.

Menurut Irwan membesarkan nila di kolam dangkal tidak secepat di waduk. ‘Pembesaran di waduk lebih singkat 15 hari ketimbang di kolam berkedalaman 1 m,’ ucap Dr Hardaningsih, dosen perikanan UGM. Tak hanya itu, suhu air di waduk stabil di kisaran 26 – 300Csehingga tingkat kematian lebih rendah. Oleh karena itu tidak banyak peternak yang mengikuti jejak Irwan. Lagi pula perputaran uang di usaha pembibitan lebih cepat dan pemasarannya lebih mudah.

Untuk menjaga kualitas bibit, para peternak di Kecamatan Cangkringan, Kalasan, dan Depok rutin mengganti induk yang berumur 1 – 1,5 tahun dengan induk dari balai benih supaya jelas asal-usulnya. Anda perlu bibit nila merah? Datang saja ke Sleman!. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

< Wawan panen 40.000 – 50.000 bibit nila merah ukuran 2 – 3 cm

Sleman, sentra baru pembibitan nila merah

 

Foto-foto: Lastioro Anmi T

Kolam pembibitan di Sleman rata-rata seluas 700 m2

Dr Rustadi, peneliti nila di Fakultas Perikanan UGM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Lengkap! Budidaya Cacing Sutra Sistem Apartemen Hemat Tempat dan Air

Trubus.id — Peningkatan tren ikan hias diikuti dengan permintaan pakan tinggi. Cacing sutra menjadi salah satu pakan ikan hias...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img