Saturday, August 13, 2022

Cabai Jatinangor, Kebal Antraknosa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Prof Ir Ridwan Setiamihardja MSc PhD dan Dr Ir Neni Rostini MS meriset cabai tahan antraknosa sejak 1979Cabai merah besar Balitsa produktivitas capai 18,5 ton/haDr Ahsol Hasyim dan Ir Yeni Kusandriani, pemulia Balitsa, cabai baru produktivitas tetap tinggi meski turun hujanAntraknosa akibat cendawan Colletotrichum capsici dan C. gloesporioides momok bagi pekebun cabai. Mafhum serangan penyakit patek itu menyebabkan pekebun cabai rugi hingga 90%. Menurut Dr Ir Widodo MS dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, cendawan itu berkembang pesat saat kelembapan udara tinggi dan suhu rendah  terutama di musim hujan.

Buah terserang akan tampak kuning kecokelatan, mengerut, dan mengering. Pada tanaman muda antraknosa menyebabkan pucuk daun mati lalu menjalar ke daun dan batang hingga tampak busuk cokelat kehitaman. Pekebun cabai selama ini mengatasinya dengan menyemprotkan fungisida berbahan aktif benomil, tebukonazol, atau propineb.

Tahan antraknosa

Prof Ir Ridwan Setiamihardja MSc PhD dan Dr Ir Neni Rostini MS dari Jurusan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran Bandung mencoba menjawab kendala itu dengan meluncurkan cabai tahan antraknosa dan produktivitas tinggi: jatinangor-6. Sejatinya Ridwan telah meriset cabai tahan antraknosa sejak 1979. Ia memulainya dengan menyilangkan betina rawit dan jantan cabai merah besar jatinangor-1. “Secara genetis cabai rawit lebih tahan antraknosa,” tutur kelahiran Ciamis 28 Juli 1936 itu.

Dari ratusan persilangan, diperoleh 1 tanaman yang tumbuh di media campuran tanah dan pupuk kandang. Sosok cabai panjang menyerupai cabai keriting, tapi diameternya lebih besar. Selanjutnya Ridwan mengawin-balikkan dengan tetua jatinagor-1. Seleksi terus dilakukan sampai generasi ke-12 pada 1993.

Sempat mandeg, tapi pada 2010 dilanjutkan dengan melakukan serangkaian uji multilokasi di Jatinangor, Yogyakarta, dan Surabaya. Hasilnya diperoleh galur harapan baru: cabai besar jatinangor-2 dengan rata-rata produktivitas 876,79 g/tanaman dan toleran antraknosa. Dari jatinangor-2 itu diseleksi kembali hingga muncul Jatinangor-6 yang tahan antraknosa. Cabai baru itu telah melewati uji lapangan terbatas dan tengah dipersiapkan pada pertengahan 2011 untuk tahap uji lapangan dalam skala lebih luas.

Produksi tinggi

Masih dari Bandung, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) di Lembang, tengah bersiap merilis cabai merah besar dan cabai keriting toleran antraknosa dan produktivitas tinggi. Menurut Ir Yeni Kusandriani, periset di Balitsa, varietas baru cabai merah besar merupakan hasil pemurnian genetik dan seleksi dari koleksi plasma nutfah cabai di Balitsa yang sudah dilakukan sejak 1996.

Varietas cabai keriting didapat dari pemurniaan dan seleksi di Balitsa sejak 2004 hingga muncul galur-galur terpilih dengan produksi tinggi dan sesuai preferensi konsumen. Galur-galur terpilih itu pada 2009—2010 menjalani uji multilokasi di Subang, Tasikmalaya, dan Ciamis—seluruhnya di Jawa Barat.

Menurut Dr Ahsol Hasyim, Kepala Balitsa, musim kemarau basah dengan curah hujan tinggi selama masa uji multilokasi, terbukti tidak menyurutkan potensi galur yang ditanam. Galur cabai merah besar mampu menghasilkan 18,5 ton/ha, cabai merah keriting 18 ton/ha. Serangan cendawan antraknosa saat musim penghujan hanya menyerang menjelang akhir penanaman. “Yang terserang kurang 5% dari total populasi,” tutur Yeni. Itu pun serangan diduga karena cabai minim perawatan. Selamat datang cabai-cabai unggul. (Faiz Yajri)

Prof Ir Ridwan Setiamihardja MSc PhD dan Dr Ir Neni Rostini MS meriset cabai tahan antraknosa sejak 1979

Cabai Jatinangor-6 tahan antraknosa

Cabai merah besar Balitsa produktivitas capai 18,5 ton/ha

Dr Ahsol Hasyim dan Ir Yeni Kusandriani, pemulia Balitsa, cabai baru produktivitas tetap tinggi meski turun hujan

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img