Cangkang udang yang selama ini terbuang sebagai limbah ternyata menyimpan potensi ekonomi besar. Melalui inovasi berbasis bioteknologi, limbah tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi, mulai dari kitin, kitosan, hingga astaxanthin yang banyak dimanfaatkan di industri kesehatan dan nutrisi.
Inovasi itu saya lansir dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang bersama sejumlah mitra nasional dan internasional tengah memperkuat pengembangan ekonomi biru berkelanjutan melalui pemanfaatan limbah cangkang udang. Upaya itu tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga pemberdayaan perempuan pesisir dan pelibatan mahasiswa penyandang disabilitas dalam proses penciptaan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Two-Days GEDSI Workshop on Inclusive Co-Creation and Shrimp Shell Waste Utilization for Fisherwomen Empowerment in Lombok yang berlangsung pada 28—29 April 2026 di Desa Dadap, Lombok Timur, dan Universitas Mataram. Kegiatan itu merupakan bagian dari program BRIN-KONEKSI bertajuk Strengthening Blue Circular Economy in Indonesia: Transforming Shrimp Shell Waste to High Added Value Astaxanthin.
Program tersebut mengintegrasikan riset biologi molekuler, inovasi biomaterial, ekonomi sirkular, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu kerangka pembangunan yang inklusif.
Peneliti utama program BRIN-KONEKSI dari Indonesia, Syahputra Wibowo, mengatakan kegiatan itu menjadi langkah strategis untuk mempertemukan hasil riset dengan kebutuhan nyata masyarakat pesisir.
“Acara ini bukan sekadar workshop. Kami membangun ekosistem kolaboratif jangka panjang antara BRIN, Curtin University, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, dan Universitas Mataram agar riset dapat bergerak lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat pesisir dan lebih peka terhadap prinsip inklusi,” ujar Syahputra.
Pada hari pertama, kegiatan berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat pesisir melalui tema Sustainable Vannamei Farming and Shrimp Shell Waste Valorization. Sebanyak 130 perempuan pesisir, keluarga pembudidaya udang, dan petambak mengikuti berbagai sesi yang membahas budidaya udang vaname berkelanjutan, pengendalian penyakit, biosekuriti, hingga pemanfaatan limbah cangkang udang.
Menurut Syahputra, peserta diperkenalkan pada berbagai hasil riset yang berpotensi diterapkan baik pada skala rumah tangga maupun industri. Salah satunya pemanfaatan kitin dan kitosan hasil ekstraksi limbah cangkang udang untuk berbagai aplikasi di sektor pangan, pertanian, kesehatan, dan lingkungan.
Selain itu, peserta juga memperoleh wawasan mengenai astaxanthin, senyawa bioaktif bernilai tinggi yang memiliki prospek besar untuk pengembangan industri kesehatan dan nutrisi. Para peneliti menjelaskan bahwa limbah cangkang udang yang selama ini dipandang sebagai residu produksi sesungguhnya menyimpan potensi ekonomi besar apabila diolah melalui pendekatan bioteknologi dan biorefinery.
Memasuki hari kedua, fokus kegiatan beralih pada pengembangan kerangka aksi berbasis Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) melalui tema Student-Led Inclusive Action for Blue Circular Economy. Kegiatan yang berlangsung di Universitas Mataram itu melibatkan sekitar 200 peserta, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas dari Universitas 45 Mataram, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas penggiat disabilitas di Nusa Tenggara Barat.
Penyediaan juru bahasa isyarat dan berbagai dukungan aksesibilitas menjadi wujud nyata penerapan prinsip inklusi dalam pelaksanaan kegiatan. Para peserta mengikuti diskusi mengenai penerapan GEDSI dalam riset dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui Inclusive Focus Group Discussion, peserta mengidentifikasi berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan dan penyandang disabilitas dalam mengakses informasi, pelatihan, jejaring, sumber daya, serta ruang pengambilan keputusan di sektor ekonomi biru. Diskusi tersebut menghasilkan sejumlah gagasan untuk memperkuat keterlibatan kelompok rentan dalam pengembangan inovasi berbasis masyarakat.
Sementara itu, dalam sesi Co-Creation Workshop, mahasiswa menyusun rancangan awal Student GEDSI Action Framework sebagai fondasi pengembangan riset dan program pemberdayaan masyarakat yang lebih inklusif. Kerangka aksi tersebut diharapkan mampu memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, komunitas pesisir, dan institusi riset dalam menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN, Elisabeth Farah Novita Coutrier, bersama sejumlah peneliti dan akademisi dari berbagai institusi turut menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam mempercepat hilirisasi inovasi berbasis sumber daya lokal.
Melalui penguatan riset biologi molekuler, pengembangan biomaterial dari limbah udang, serta penerapan prinsip GEDSI dalam penelitian dan pemberdayaan masyarakat, BRIN bersama para mitra berupaya membangun model ekonomi biru yang inovatif, berkelanjutan, dan inklusif. Model tersebut diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia guna memperkuat ketahanan pangan, kemandirian ekonomi masyarakat, serta pengembangan ekonomi biru berbasis ilmu pengetahuan.
