Thursday, June 4, 2026

Waspadai El Niño pada Akhir 2026, Petani Perlu Siapkan Strategi Adaptasi

Rekomendasi
- Advertisement -

Petani dan pelaku usaha pertanian perlu mulai mencermati perkembangan iklim global. Berbagai hasil pemantauan laut dan atmosfer menunjukkan peluang munculnya fenomena El Niño pada paruh kedua hingga akhir 2026. Jika berkembang menjadi kuat, fenomena itu berpotensi memicu penurunan curah hujan, kekeringan, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.

Indikasi perkembangan El Niño itu disampaikan Profesor University of Maryland, R. Dwi Susanto, dalam Deep-Sea Science Forum: Toward Deep Sea Mission 2045 yang diselenggarakan Pusat Riset Laut Dalam (PR LD) BRIN bekerja sama dengan University of Maryland pada Selasa (2/6).

Menurut Dwi, berbagai data observasi dan model iklim menunjukkan adanya perubahan kondisi laut di Samudra Pasifik yang mengarah pada pembentukan El Niño. Salah satu indikator utama ialah meningkatnya cadangan panas di bawah permukaan laut Pasifik.

Akumulasi panas tersebut berpotensi mendorong perpindahan massa air hangat dari wilayah Pasifik barat menuju Pasifik timur melalui gelombang Kelvin. Fenomena itu merupakan salah satu ciri awal perkembangan El Niño.

“Data observasi dan model menunjukkan adanya akumulasi panas di bawah permukaan Samudra Pasifik. Bersamaan dengan itu, gelombang Kelvin mulai mendorong massa air hangat dari Pasifik barat menuju Pasifik timur, yang merupakan salah satu ciri perkembangan El Niño,” ujar Dwi.

Perubahan kondisi laut tersebut dapat diamati melalui sejumlah parameter, seperti suhu bawah permukaan laut, tinggi muka laut, hingga pola angin di kawasan tropis Pasifik. Berbagai model prediksi iklim internasional pun menunjukkan kecenderungan yang sama.

Posisi Strategis Indonesia

Indonesia memiliki peran penting dalam sistem iklim global karena berada di kawasan western Pacific warm pool, yaitu wilayah dengan suhu permukaan laut tropis terhangat di dunia. Selain itu, Indonesia menjadi jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Karena itu, perubahan kondisi laut di wilayah Indonesia dapat menjadi petunjuk penting untuk memahami perkembangan El Niño. Pemantauan suhu laut, dinamika Arlindo, hingga pergeseran pusat konveksi atmosfer di kawasan maritim Indonesia dinilai dapat membantu mendeteksi perubahan iklim sejak dini.

Bagi sektor pertanian, informasi tersebut sangat penting sebagai dasar penyusunan strategi adaptasi. Prediksi iklim yang lebih akurat memungkinkan petani dan pemerintah menyiapkan langkah antisipasi sebelum dampak kekeringan terjadi.

Tidak Hanya Dipengaruhi El Niño

Dwi menjelaskan bahwa dampak El Niño di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kondisi di Samudra Pasifik. Fenomena lain yang juga perlu dipantau ialah Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia.

“Kita tidak bisa hanya melihat indeks El Niño. Kondisi Indian Ocean Dipole juga harus dipantau karena kombinasi keduanya dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan jika hanya salah satu fenomena yang terjadi,” katanya.

Ia mencontohkan peristiwa pada 1997—1998 saat El Niño kuat terjadi bersamaan dengan IOD positif. Kombinasi kedua fenomena tersebut menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan sehingga memicu kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan di berbagai wilayah Indonesia.

Perkembangan IOD positif dapat dipantau melalui perubahan suhu permukaan laut di perairan selatan Jawa dan Sumatra. Pendinginan yang semakin kuat di kawasan tersebut umumnya berkaitan dengan meningkatnya risiko kekeringan.

Persiapan Sejak Dini

Sejumlah model prediksi iklim saat ini menunjukkan peluang berkembangnya El Niño pada akhir 2026 dengan kecenderungan berada pada kategori kuat hingga sangat kuat. Oleh karena itu, berbagai langkah mitigasi perlu mulai dipersiapkan.

Upaya yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya air, menyesuaikan pola dan jadwal tanam, serta memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Langkah antisipatif tersebut diharapkan mampu mengurangi dampak yang mungkin timbul apabila El Niño berkembang sesuai prediksi.

“Persiapan harus dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan. Yang penting adalah memastikan informasi iklim dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan dan mitigasi,” ujar Dwi.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Laut Dalam BRIN, Prof. A’an Johan Wahyudi, menilai pemahaman mengenai perkembangan El Niño menjadi penting karena fenomena tersebut berpotensi memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari ketersediaan sumber daya air hingga sektor kelautan.

Menurutnya, forum ilmiah menjadi sarana penting untuk memperkuat kapasitas pengetahuan sekaligus mendukung pengambilan keputusan berbasis data dalam menghadapi dinamika iklim yang terus berkembang.

“Forum ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman kita mengenai fenomena laut dan iklim yang berpengaruh terhadap wilayah maritim Indonesia sekaligus mendukung pengembangan riset-riset strategis di bidang kelautan,” ujarnya.

Sumber: laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).


Artikel Terbaru

Jutawan dari Kuping Gajah

Irvan mengekspor 30—50 tanaman kuping gajah setiap bulan. Dari penjualan itu, ia meraup omzet minimal Rp50 juta per bulan....

More Articles Like This