Trubus.id — Hama penggerek buah kakao (PBK) Conopomorpha cramerella menjadi salah satu momok bagi pekebun kakao. Serangan hama PBK dapat mengakibatkan pekebun gagal panen. Oleh karena itu, pekebun perlu mengetahui cara untuk mengatasi hama PBK.
Samidi, Petani di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memiliki cara sendiri mengatasi hama PBK. Ia menggunakan perangkap yang digantung pada tanaman kakao.
Perangkap dilengkapi lem dan feromon betina untuk menarik pejantan. Perangkap efektif mengurangi hama PBK terutama pejantan hingga 30 persen. Meski demikian, betina tetap ada dan menyerang buah.
Ketut Indrayana dan Hatta Muhammad, peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Barat dan Gorontalo, dalam risetnya menemukan tingkat serangan PBK di Kabupaten Mamuju dan Polewali Mandar mencapai 20–50%.
Ketut dan Hatta menyarankan teknologi pengendalian terdiri atas pengendalian secara hayati, kultur teknis, dan kimiawi. Pengendalian secara hayati dapat dilakukan dengan organisme hayati berupa semut hitam Dolichoderus thoracicus.
Semut predator tersebut menekan populasi hama dengan memangsa telur dan pupa PBK. Pengendalian secara kultur teknis melalui pemangkasan, pengasapan, dan pemanenan buah sesering mungkin.
Adapun pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan 0,4 cc insektisida racun kontak dan lambung berbentuk pekatan per liter air. Sebaiknya, opsi itu dilakukan bila hampir semua tanaman terserang PBK.
Penerapan teknologi pengendalian di Desa Campaloga, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, itu menunjukkan peningkatan rerata hasil panen 36,5 persen.
Adapun Rusli Rustam dan Revi Hariyati, peneliti dari Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Riau, menguji keefektifan insektisida nabati ekstrak tepung daun sirsak untuk mengendalikan hama PBK.
Riset dilakukan di Kecamatan Nansabaris, Kabupaten Padangpariaman, Sumatra Barat, pada Juli–Oktober 2019. Perlakuan terbaik dengan mengaplikasikan ekstrak tepung daun sirsak Annona muricata dengan konsentrasi 100 gram per liter air.
Persentase buah yang terserang turun menjadi hanya 10 persen dengan intensitas kerusakan buah rendah yakni 12,48 persen. Kandungan skuamosin dan asimisin dalam ekstrak tepung daun sirsak menghambat pertumbuhan dan perkembangan hama serta menghambat makan.
Kedua senyawa itu juga mematikan hama PBK sehingga intensitas kerusakan sedikit. Senyawa annonain dan asetogenins bekerja sebagai racun lambung yang mematikan larva PBK.
Aroma ekstrak daun sirsak juga memengaruhi ngengat PBK saat meletakkan telur pada buah kakao. Telur mengalami penghambatan perkembangan jaringan sel sehingga tidak menetas. Penggunaan insektisida nabati daun sirsak terbukti menekan populasi larva PBK. Diameter buah dan berat biji kering yang dihasilkan juga optimal.
