Trubus.id—Ekoenzim merupakan enzim cair hasil fermentasi dari berbagai sampah organik seperti kulit buah, sayuran, dan biji-bijian. Bahan itu terfermentasi kurang lebih tiga bulan.
Sepintas sederhana cara membuat ekoenzim. Namun, harus hati-hati terutama dalam pemilihan wadah fermentasi. Anda dapat menggunakan stoples bertutup atau wadah bekas es krim berukuran 8 liter. Makin besar mulut wadah, tutup tak perlu sering dibuka. Bila perlu melapisi tutup dengan plastik.
Pegiat ekoenzim di Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, Erli Oktania Susanti menuturkan komposisi bahan baku terbaik 80% kulit buah dan 20% sisa sayuran. Itu agar hasil akhir beraroma segar.
Sebaiknya hindari sayuran kubis dan sawi sebab dapat menghasilkan banyak gas dan ekoenzim beraroma kurang sedap. Salah satu sukarelawan Komunitas Ecoenzyme Nusantara, Lie Min Fu, mengatakan indikator keberhasilan pembuatan ekoenzim ada dua yakni kadar keasaman dan aroma.
Nilai pH 4 atau kurang dari itu. Aroma harum khas fermentasi. Bila dua kondisi itu tak tercapai, Lie menyarankan fermentasi kedua. Lie pernah menemukan larva di larutan ekoenzim. Ia membuangnya dan melanjutkan fermentasi kedua selama sebulan.
Bila masih ada larva, Lie menjemurnya di bawah matahari sekitar 30 menit setiap pagi selama tiga hari. Kalau masih muncul juga, ia menambahkan gula satu bagian seperti takaran awal dan memfermentasikan selama tiga bulan.
Menurut pengalaman Lie dan rekan-rekan, upaya itu biasanya membuahkan hasil. Penambahan gula dapat meningkatkan kerja bakteri.
