Trubus.id-Pehobi aglaonema di Jakarta Barat, Songgo Tjahaja, selalu memilih media tanam terfermentasi untuk merawat tanaman kesayangannya. “Menggunakan media tanam hasil fermentasi lantaran membuat tanamn menjadi sehat dan rimbun”, ujar Songgo.
Menurut Songgo media tanam fermentasi membuat busuk akar pada tanaman berkurang. Sehingga penggunaan media tanam terfermentasi mampu memudahkan perawatan tanaman. Songgo hanya melakukan perawatan sederhana.
Pemberian fungisida dilakukaan apabila terdapat gangguan pada bagian akar tanaman saja. “Proses fermentasi dapat mengurangi media tanam berbahan organik yang kompleks menjadi senyawa sederhana sehingga tanaman dapat memanfaatkan hara dalam media tanam,” tambah Songgo.
Selain itu Songgo memastikan tanamannya terkena sinar matahari secara menyeluruh. Kombinasi teknik perawatan di bawah sinar matahari penuh mampu menghasilkan jumlah anakan atau rumpun menjadi lebih banyak.
Menurut ahli pupuk di Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan, Dr. Ir. Nunik Gofar, M.S., jika fermentasi belum tuntas kemudian media tanam sudah dipakai akan menyebabkan fermentasi berlanjut di dalam pot. Hal itu mengakibatkan suhu media tanam dalam pot meningkat.
Suhu media tanam yang tinggi dapat merusak akar dan berdampak buruk terhadap pertumbuhan tanaman. Selanjutnya sebelum media tanam tanam fermentasi digunakan perlu disterilkan trelebih dahulu.
Larutan bekas rendaman dapat digunakan kembali untuk fermentasi berikutnya. Apabila tidak langsung digunakan, penyimpanan media tanam dalam karung bekas beras. Simpan media tanam di tempat teduh alias tidak terkena paparan sinar matahari secara langsung.
Untuk menjaga kelembapan, siram media tanam jika mulai mengering. Menurut Nunik dalam proses fermentasi terjadi kompetisi mikrob. Mikrob baik dalam media fermentasi menekan populasi mikrob jahat seperti bakteri dan cendawan penyebab busuk akar.
