
Banyak aral mengebunkan durian, antara lain serangan hama dan penyakit. Perlu siasat khusus untuk mencegah serangan.
Trubus — Aroma khas durian menyeruak ketika wartawan Trubus Imam Wiguna membuka sebuah durian chanee. Rasanya pun jawara, manis legit dengan sedikit sensasi pahit. Namun, begitu membelah juring kedua, warna daging buahnya cokelat berbau busuk. Seekor larva menggeliat mencari jalan keluar. Ketika buah masih pentil serangga hama menusukkan ovipositor untuk meletakkan telur.
Seiring pertumbuhan buah, telur menetas menjadi larva yang meninggalkan bekas berwarna kecokelatan, masam, dan berbau busuk. Penggerek buah hanya satu dari berbagai masalah yang mengadang durian. Organisme pengganggu tanaman (OPT) lain yang mengancam durian adalah penggerek batang, kanker batang, atau cendawan busuk akar. Sebagian bisa diatasi, lainnya harus dicegah sebelum bertandang.

Selubung
Menurut ahli hama dan penyakit tanaman di Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, Dr. Widodo, ulat penggerek buah itu adalah fase larva dari berbagai ngengat. Setidaknya ada 3 ngengat yang menggerek buah durian, yaitu Tirathaba ruptilinea, Conogethes punctiferalis, dan Hypoperigea leprostricta. Penanggulangan larva penggerek sulit lantaran tersembunyi dalam buah. Gejalanya baru tampak ketika buah membesar, yaitu munculnya bagian kehitaman di kulit buah.
Pekebun harus jeli melihat kemunculan gejala itu. Untuk mempermudah pengamatan serangan penggerek, sebaiknya pekebun menyeleksi buah. Pekebun di Lampung Selatan, Kasem Usman, menyeleksi buah sejak dalam fase bunga. Ia menyeleksi bunga berdasarkan diameter cabang. Hitungannya, setiap sentimeter garis tengah cabang setara 1 dompol bunga.
Pada cabang berdiameter 5 cm, ia menyisakan 5 dompol bunga, diameter 10 cm 10 dompol bunga, demikian seterusnya. Ia menyeleksi lagi saat buah sebesar jempol. Kasem merompes pentil berbentuk abnormal atau berimpit. Selanjutnya pentil yang tersisa ia bungkus dengan kertas minyak. Pekerja kebun menyelubungi buah dengan kertas alas kue dan mengikat sisi atas kertas ke pangkal buah. Sisi bawah mereka biarkan terbuka. Dengan adanya bagian terbuka itu kelembapan buah normal sehingga tidak bercendawan.

Meski sisi bawah selubung terbuka, ngengat tidak bisa hinggap bertelur karena harus terbang mendatar sebelum hinggap. Selubung kertas itu koyak seiring membesarnya buah, tapi saat itu ngengat tidak mampu menembus kulit buah lantaran telanjur mengeras. Artinya selubung kertas yang biasanya menjadi alas untuk meletakkan kue itu hanya sekali pakai. Hasilnya memuaskan dan sepadan dengan biaya serta kerepotan memasangnya.
Durian mulus, berbentuk teratur, dan berukuran seragam. Seleksi dan pembungkusan itu sekaligus menghalau cendawan busuk buah. Menurut Dr. Widodo cendawan busuk buah bersifat parasit obligat, artinya hanya menyerang ketika buah sudah rusak. Itu sebabnya buah yang bercendawan biasanya karena lebih dulu berlubang akibat serangan penggerek.
Lain halnya dengan cendawan Phytophthora penyebab kanker batang. Cendawan itu mudah menular hanya melalui perantaraan percikan air hujan atau saat menyiram. Pekebun mencegahnya dengan membuat rorak alias parit di antara larikan pohon. Selain mengalirkan air sehingga tidak menggenang, rorak juga mempermudah pemupukan. Pemupukan vital karena pohon yang cukup mendapat hara lebih tahan serangan cendawan patogen.
Mulsa alami

Cendawan patogen bisa dicegah dengan memberikan pupuk hayati yang mengandung mikrob bermanfaat. Mikrob membuat lingkungan tanah sehat sehingga tidak mendukung pertumbuhan Phytophthora. Biarkan rumput tumbuh maksimal setinggi mata kaki atau sebarkan serasah daun bambu, tebu, atau jagung sebagai mulsa alami. Pilihan lain, menanam tanaman penutup tanah seperti kacang pinto Arachis pintoi. Rumput atau mulsa mempertahankan kelembapan tanah saat kemarau sekaligus melindungi akar.
Alternatif pencegahan lainnya adalah memberikan pemupukan sesuai kebutuhan. Pehobi durian di Jakarta, Catur Dian Mirzada menyatakan, kebutuhan asupan durian sangat banyak. Meski tidak bisa dimakan, bagian buah seperti kulit, biji, atau tangkai pun menyerap nutrisi. Itu sebabnya alumnus Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor itu menganjurkan pemberian pupuk tinggi unsur fosfor, kalium, kalsium, dan mencukupi kebutuhan unsur boron (baca “Atur Pupuk Raja Buah” halaman 22-23). Semua upaya itu demi melanggengkan singgasana sang raja buah. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Muhamad Fajar Ramadhan & Imam Wiguna)
