Sunday, August 14, 2022

Ciplukan Rival Kanker Darah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Bawang putih berpotensi sebagai pencegah leukemiaBegitulah nasib ciplukan Physalis angulata. Banyak orang menganggap tanaman semak setinggi maksimal 1 meter itu sekadar gulma.  Padahal, khasiat ciplukan luar biasa sebagaimana hasil riset Novik Nurhidayat bersama rekan di Pusat Penelitian Biologi, LIPI, Bogor, dan  Departemen Biokimia, Institut Pertanian Bogor. Mereka menguji khasiat daun ciplukan secara invitro pada 2 jenis kultur sel kanker: namalwa atau sel kanker limfa dan HL-60 (sel kanker darah).

Dalam penelitian itu Novik juga menguji khasiat herbal lain yakni bawang putih Allium sativum dan bakteri yang tumbuh pada suhu di atas 45oC, Geobasillus 22a sebagai pembanding. Ia memperoleh ciplukan dan bawang putih dari Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Harapannya kedua bahan itu mengandung selenium yang biasanya terkandung pada tanaman di daerah  vulkanis. Rekan Novik, Sri Hartin Rahaju lalu menanam kedua herbal itu di kebun koleksi LIPI di Cibodas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Selenium

Novik memberikan masing-masing 50 ppb (5×10-8)  ekstrak ciplukan, bawang putih, dan bakteri Geobasillus 22a pada kedua kultur sel kanker. Hasilnya, 12 jam setelah perlakuan, ukuran sel kanker mengecil. Dari ketiga bahan itu ciplukan memiliki daya bunuh sel kanker  paling tinggi (lihat ilustrasi). Bagaimana duduk perkara ciplukan memperkecil sel kanker? Menurut Novik, sel kanker mengecil akibat terjadi kerusakan fungsi mitokondria.

Akibat  kerusakan mitokondria, sel kekurangan energi untuk melakukan  pembelahan sehingga ukurannya mengecil. Bukti ampuhnya ciplukan mengatasi sel kanker darah  itu tentu saja menjadi kabar gembira bagi para pasien leukemia. Maklum, hingga kini prevalensi penyakit yang disebabkan produksi sel darah putih berlebih (di atas 50.000 sel)  itu masih tinggi, yakni 130 orang di antara 1-juta orang per tahun. Sebanyak 15% di antaranya menyerang anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Dokter di klinik Evergreen, Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr Prapti Utami, menuturkan penyebab utama leukemia hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Gejalanya tubuh pucat, pendarahan ketika menggosok gigi, dan daya tahan tubuh turun. Biasanya gejala muncul setelah pasien terkena leukemia. “Terkadang tidak muncul gejala, tetapi pasien sudah terkena,” ujar dokter alumnus Universitas Diponegoro itu.

Menurut Novik keampuhan ekstrak daun ciplukan,  bawang putih, dan bakteri Geobacillus 22a memperkecil sel kanker darah berkat senyawa selenium yang terkandung dalam ketiga bahan. “Selenium memicu sel kanker bunuh diri alias apoptosis,”  kata peneliti terbaik Competitive Award LIPI 2006 itu. Tubuh memerlukan selenium  sebagai  unsur mikro esensial.  Pemenuhannya antara lain dari biji-bijian dan sayuran.

Kebutuhan selenium rata-rata orang dewasa 5 – 7 x 10-5 g per hari. Selenium juga tersedia melimpah di alam, biasanya bersatu dengan sulfur di tanah, terutama di daerah vulkanis. Jaringan tanaman menyerap selenium dalam tanah. Oleh karena itu Novik menyarankan untuk mencegah kanker secara alami, konsumsi sayuran yang tumbuh di daerah vulkanis, seperti  bunga kol, kubis, dan seledri.

Berkumpul di daun

Kadar selenium pada tanaman paling banyak terdapat di daun. Di daun selenium bersatu dengan asam amino sistein dan metionin menjadi selenosistein dan selenometionin. Selenoprotein itu masuk ke jalur metabolisme, lalu diubah menjadi metilselenosistein yang memiliki aktivitas induksi apoptosis dengan menghambat siklus sel pada fase sintesis deoxyribonucleic acid (DNA). Akibatnya, terjadi kegagalan replikasi DNA sehingga fungsi mitokondria sel kanker rusak.

Jumlah selenium yang terkandung pada daun ciplukan dan bawang putih sejatinya hampir sama, yaitu 3,14 ppm dan 3,55 ppm setara 0,00000314 gram dan 0,00000355 gram. Namun, daya bunuh sel kanker leukemia daun ciplukan lebih hebat karena kadar metilselenosistein lebih tinggi.  Meski daya bunuh sel kanker  bawang putih kecil, tetapi berpotensi untuk mencegah kanker. Kandungan selenoprotein  dalam umbi lapis  berfungsi sebagai antioksidan dan antikanker. “Ciplukan untuk terapi pengobatan, bawang putih untuk terapi pencegahan,” ujar Novik.

Selama ini dunia kesehatan memanfaatkan selenium sebagai antiketombe, antidiabetes, antioksidan, imunitas, gondok, dan kesuburan. Faedah ciplukan nyatanya bukan hanya terbukti di laboratorium. Setelah mengetahui hasil riset itu, Sri Hartin Rahaju yang mengidap tumor kelenjar ludah mencoba mengonsumsi ciplukan. Ia menyeduh seperempat sendok ekstrak daun ciplukan dengan 150 cc air mendidih. Ia meminum ramuan itu 2 kali sehari.

Beberapa hari kemudian kondisi tubuhnya membaik. “Di perut terasa enak,” kata Sri.  Sebelum mengonsumsi ramuan itu perutnya sering terasa mual. Benjolan di kelenjar tiroid juga mengecil.

Di kalangan herbalis tanaman anggota famili Solanaceae itu sejatinya bukan herbal baru. Wahyu Suprapto, herbalis di Kotamadya Batu, Jawa Timur, sering menggunakan ciplukan untuk mengobati hipertensi. Ia meresepkan 20 gram daun ciplukan yang direbus dalam 2 gelas air hingga mendidih dan tersisa 1 gelas. Selain daun, buah ciplukan juga mengandung antioksidan, vitamin A, dan vitamin C. (Desi Sayyidati Rahimah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img