Tuesday, January 27, 2026

Cumi Calamari

Rekomendasi
- Advertisement -
Cumi-cumi menjadi bahan baku beragam menu. Terdapat minimal 366 menu berbahan cumi-cumi.
Cumi-cumi menjadi bahan baku beragam menu. Terdapat minimal 366 menu berbahan cumi-cumi.

Mana yang lebih Anda sukai: cumi-cumi, calamari, atau sotong? Bertahun-tahun saya terbiasa dengan oseng-oseng cumi basah, cumi santan cabai ijo, dan sotong hitam bumbu rujak. Namun, belakangan dikenalkan pada calamari rings – cumi goreng potong cincin yang gurih kriuk-kriuk. Ternyata saya hidup bersama para penggemar cumi-cumi. Jane di Den Haag, Belanda, suka nasi goreng cumi yang ireng tung teng atau hitam legam.

Di Padang, Provinsi Sumatera Barat, kolega saya, Sastri, malah setiap kali masak cumi dengan petai dan kemangi. Adik kelas tercinta, Imelda di Tokyo, Jepang, sering membeli ketengan cumi yang harganya 200 yen. Ia lantas membakar sendiri dan menikmatinya dengan mayonaise. Belum lagi cerita Cut Dian dari Bandaaceh yang juga suka cumi-cumi santan. Baru tahu sudah ada 366 resep masak cumi-cumi rumahan.

Ekspor meningkat
Maka terbentanglah dunia cumi-cumi alias Cephalophoda. Kita mengenalnya sebagai sotong, cumi-cumi karang, cumi kurita, bahkan gurita asam-pedas di meja kita. Paling sedikit ada empat macam sotong atau cumi yang biasa disajikan dari lautan. Adapun calamari itu hanya bahasa Italia dari cumi-cumi alias squid. Sotong dalam bahasa Inggris dikenal sebagai cuttle fish, sedangkan gurita adalah octopus.

Di pasar Kramatjati, Jakarta Timur, harga sekilogram sotong terdiri atas enam ekor mencapai Rp70.000 pada saat pasokan sepi. Adapun sekilogram cumi-cumi–yang tubuhnya lebih runcing dan kecil—berkisar Rp35.000—Rp40.000 pada saat pasokan berlimpah. Namun, di Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, cumi-cumi basah bisa lebih mahal daripada sotong.

Sri dari Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, paling suka belanja di sana karena pasokannya segar, bersih, dan sehat. Pertanyaan kita tentu bagaimana pasokan cumi, sotong, calamari, atau gurita itu dapat tercukupi sepanjang tahun. Apakah Indonesia siap memanen cumi-cumi yang berlimpah di laut? Tidak sampai setahun setelah Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menyatakan moratorium perizinan kapal asing pada November 2014, panen hasil laut pun berlimpah.

Pada triwulan pertama 2015, Badan Pusat Statistik mencatat ekspor cumi-cumi melejit sampai hampir US$30-juta. Secara umum ekspor hasil laut meningkat. Sektor perikanan meningkat signifikan. Ekspor udang tercatat hampir US$450-juta, sementara total dalam triwulan pertama menembus US $906,77 juta. Surplus dari cumi-cumi menduduki peringkat ketiga setelah hasil dari ekspor udang dan ikan tuna.

Khasiat cumi
Memasuki kuartal kedua 2015, terjadi banjir tangkapan cumi-cumi dari Pelabuhan Pasuruan, Jawa Timur. Maka pantaslah disebarkan resep menikmati calamari sampai ke dapur ibu-ibu di mana saja berada. Mengapa? Bukan karena panennya berlimpah, tapi terutama karena khasiatnya juga. Mengapa ibu-ibu muda suka gulai cumi asam pedas dan balado cumi-cumi?

Jawabnya cumi berkasiat merawat kulit dan menambah pasokan darah. Jadi cocok untuk menjaga kecantikan dan menguatkan perempuan setelah datang bulan. Namun, ada 7 khasiat lain yang lebih penting. Kandungan protein yang tinggi dan kekayaan mineral, seperti tembaga, seng, dan yodium membuat sotong diyakini membantu pertumbuhan tulang, memperkuat jantung.

Memang cumi goreng dikhawatirkan meningkatkan kandungan kolesterol. Namun, kadarnya belum seburuk jeroan. Bahkan tergolong moderat di antara hasil laut lain seperti kepiting dan udang. Yang menarik adalah manfaat tinta pada cumi-cumi yang dipercaya dapat mencegah tumor. Penelitian di Jepang menunjukkan tinta cumi bisa menahan pertumbuhan sel-sel kanker pada tikus.

Dari 15 tikus yang terserang kanker ganas, berkat suntukan tinta murni cumi-cumi hanya 3 ekor yang mati. Selebihnya hidup terus. Temuannya menyebutkan tinta  cumi dapat mengaktifkan  sel  darah  putih  untuk melawan tumor. Jadi menu masa kecil saya cumi masak hitam, selain menjamin sedapnya rasa, ternyata bergua untuk menjaga kesehatan. Pada masa lalu tulang tempurung sotong dan cumi-cumi kering bisa digerus untuk penghalus kulit. Padahal, abon cumi-cumi juga enak untuk kudapan dan mudah dibawa bepergian.

Sandat sotong
Memancing cumi-cumi atau squid jigging adalah kegiatan paling digemari di berbagai lautan. Malaysia mengadakan festival internasional “Sandat Sotong” istilah untuk memancing cumi. Pada 2015 diadakan di Terengganu dengan peserta dari Perancis, Spanyol, Hongkong, dan tuan rumah. Secara tradisional sandat sotong sering dilakukan pada saat bulan purnama. Suasananya meriah dengan sorak-sorai nelayan ketika merasakan sotong tersangkut di ujung kail.

Di Indonesia kebiasaan sandat sotong juga banyak dilakukan oleh anak-anak yang suka bermain di dermaga dan di tembok penahan gelombang. Di Pelabuhan Merak dan Cilegon, Provinsi Banten, anak-anak Banten menangkap cumi-cumi secara manual dengan pancing buatan sendiri. Namun, di toko pancing juga tersedia joran bersama tali dan umpan berbentuk udang-udangan.

Cumi-cumi suka keluar pada malam hari mencari pakan berupa udang dan ikan teri. Di sekitar pelabuhan mereka mencari lampu datang bergerombol membentuk bayangan berwarna merah muda. Cara memancingnya perlu halus, tidak memaksa. Jangan melemparkan umpan langsung ke gerombolan, karena mereka bisa segera menghilang. Cukup di dekatnya saja dan menunggu dengan peka. Hentakan cumi kanan umpan nyaris tidak terasa.

Sarwing Suryanto, seorang blogger dan pemancing di Banten menceritakan dengan lebih sensitif dan mantap menyentak kail pada saat yang tepat, Anda dapat mengumpulkan sotong sebanyak-banyaknya. Tidak usah bersorak-sorai seperti dalam festival, supaya orang tidak menyerbu lokasi favorit Anda.

Eka Budianta
Eka Budianta

Teluk Nare
Budidaya sotong buluh Sepioteuthis lessoniana sudah dikembangkan di Teluk Nare, Lombok Barat, sejak 2001. Indukan sotong yang ditangkap dengan umpan udang-udangan dipelihara dalam jaring apung berukuar 2,5 m x 2,5 m di kedalaman 3 meter dari permukaan laut. Setiap unit karamba diisi 100—140 ekor tergantung ukurannya. Kawasan Lombok Barat dengan areal padang lamun dan batu-batu karang cocok untuk budidaya sotong, sekaligus pemberdayaan para nelayan.

Persediaan pakan berupa anakan teri dan udang jembret banyak tersedia di seputarnya. Pasar untuk menyalurkan hasilnya juga sudah siap, dengan munculnya banyak restoran dan tempat wisata. Lebih dari itu, sejak lama Indonesia sudah dikenal sebagai negara pengekspor cumi-cumi. Tentu, dengan berlimpahnya tangkapan, diperlukan industri besar. Kapal pemanen cumi-cumi dengan desain khusus juga semakin dibutuhkan.

Yang lebih penting adalah menjembatani potensi besar dengan pegiat yang hidup di lapangan, yaitu para nelayan kecil. Untuk intensifikasi pemanenan cumi disediakan atraktor, sejenis rumpon dengan desain menyerupai kelopak bunga berdiameter 120 cm dengan tinggi 35 cm. “Untuk membuat alat ini sangatlah mudah. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat alat ini pun gampang diperoleh di mana saja. Seperti kawat, tambang dan lembaran plastik hitam yang berfungsi untuk menutup bagian atas rumpon,“ ujar Baskoro seorang penyuluh budidaya cumi-cumi.

Setelah satu bulan diletakkan baru terlihat ada telur cumi-cumi yang diletakkan induknya di alat itu. Seekor induk cumi-cumi rata-rata mampu menghasilkan sekitar 500 telur. Pembudidaya cumi-cumi seyogyanya memiliki 10 unit atraktor, sehingga tiap bulan mengumpulkan 5.000 telur cumi. Bila sampai panen tingkat keberhasilannya mencapai 85%, maka hasilnya lumayan. Budidaya inilah kunci utama agar teman-teman saya tidak akan kekurangan pasokan cumi, sotong, dan calamari sepanjang zaman. (Eka Budianta*)

*) Budayawan, kolumnis majalah Trubus sejak 2001, pengurus Tirto Utomo Foundation dan Mitra Utama Senior Living @ D’Khayangan.

 

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img