Tuesday, November 29, 2022

Dari 10 Jadi 17

Rekomendasi
Per tandan 13—15 sisir, lazimnya 10 sisir
Per tandan 13—15 sisir, lazimnya 10 sisir

Pupuk kandang dongkrak produktivitas pisang susu di kebun Zainal Gani 1,5 kali lipat. Jumlah sisir per tandan mencapai 13-17 buah, lazimnya 10 sisir. Total bobot per tandan menjadi 23-25 kg,  semula 10-15 kg. Tiga bulan terakhir herbalis sekaligus dokter di Malang, Provinsi Jawa Timur, dr Zainal Gani, tengah bersukacita. Ia menuai hasil jerih payah selama 9 bulan menanam 800 pisang susu di kebun seluas 10 hektar di Kecamatan Asambagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.“Sekarang sudah panen yang ketiga kalinya dengan total 25 pohon dipanen,” tuturnya saat Trubus sambangi pada 5 Januari 2013. Dokter alumnus Universitas Brawijaya yang gemar bercocok tanam itu pantas semringah. Dari setiap tandan yang dipanen ia mendapat 13-17 sisir. Menurut ahli pisang dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Hortikultura, Prof I Djatnika lazimnya jumlah sisir pada pisang susu rata-rata sebanyak 10 sisir per tandan. Penambahan jumlah sisir membuat bobot per tandan hasil panen Zainal pun naik: 23-24 kg per tandan. Pekebun lain rata-rata 10-15 kg per tandan.

Pupuk sapi

Djatnika menduga penambahan jumlah sisir karena faktor genetik dan cara budidaya intensif. Harap mafhum, kebanyakan pekebun pisang susu tidak melakukan perawatan intensif. “Biasanya mereka hanya menanam setelah itu membiarkan saja dan menunggu hingga panen,” tutur mantan Kepala Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu) di Solok, Provinsi Sumatera Barat, itu.

Zainal Gani justru memupuk tanaman secara intensif. Pada Februari 2012 Zainal mendatangkan 800 bibit setinggi 1-1,5 m dari pekebun di Tumpang, Malang. Zainal tertarik mengebunkan pisang susu karena melihat prospek bisnis pisang itu yang bagus. Pekerja menanam bibit-bibit itu di dalam lubang tanam ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm secara bertahap. Ke dalam lubang tanam pekerja membenamkan 7,5 kg pupuk kandang sapi yang telah terfermentasi sebagai pupuk dasar (lihat ilustrasi).

Kotoran ternak itu didapat dari 8 ekor sapi pedaging berumur 1-1,5 tahun yang diternakkan di kebun. Pemupukan susulan diberikan ketika tanaman memasuki umur 4 bulan setelah tanam. Pekerja memupuk dengan 100 g NPK per tanaman. Selain itu setipa minggu sejak tanam pekerja menyiramkan 2 liter pupuk organik cair asal kotoran dan urine sapi per tanaman.

Menurut guru besar Departemen Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Iswandi Anas Chaniago, kotoran sapi mengandung unsur hara lengkap yang dibutuhkan tanaman. “Setidaknya ada 16 unsur hara, termasuk di dalamnya unsur nitrogen, fosfat, dan kalium,” tuturnya.

Meski jumlahnya kecil tapi kandungan unsur hara pada pupuk kandang juga turut meningkatkan nutrisi tanah. Kandungan mikrobnya membuat penyerapan hara oleh akar lebih maksimal. Tekstur yang remah sehingga unsur haranya mudah diserap akar.

Oleh karena itu, kombinasi pemupukan antara pupuk organik dengan pupuk kimia seperti dilakukan Zainal Gani sudah sangat tepat. “Kombinasi tersebut pada akhirnya akan memaksimalkan fase vegetatif dan generatif tanaman sehingga tanaman bisa lebih produktif,” papar Iswandi Anas. Menurut Iswandi Anas dengan kondisi itu maka peningkatan produktivitas pisang susu seperti dialami Zainal Gani sangat memungkinkan.

Fermentasi dulu

Ahli Bioteknologi Tanah itu mensyaratkan pemberian pupuk kandang dalam bentuk sudah terfermentasi. Zainal Gani memfermentasi dengan cara menampung kotoran sapi di 4 bak khusus. Mula-mula pekerja menyemprotkan air ke lantai kandang hingga membawa kotoran ke saluran pembuangan yang terhubung dengan bak khusus. Setiap bak berbentuk tabung berdiameter 3 m dan tinggi 1 m itu mampu menampung sekitar 1.800 liter cairan kotoran sapi. Kotoran sapi yang sudah bercampur dengan air itu lalu dibiarkan selama 30 hari sebelum siap digunakan. Zainal yang juga memupuk 12.000 pohon gmelina di kebun dengan pupuk kotoran sapi cair tidak menambahkan bakteri fermentasi. Bagian atas bak pun dibiarkan terbuka.

Menurut Iswandi Anas, kotoran sapi mengandung mikroba yang berfungsi untuk memfermentasi selulosa sehingga kita tidak perlu menambahkan mikrob dalam proses fermentasi. Hanya saja tanpa penambahan mikroba proses fermentasi menjadi lebih lama. “Bisa selisih 10 hari,” tutur doktor dari University of Gent, Belgia, itu.

Sebelum aplikasi, pekerja mengencerkan pupuk kandang terfermentasi itu dengan air perbandingan 1:5. Zainal Gani memperkirakan biaya perawatan sebelum memperhitungkan biaya lahan dan tenaga kerja mencapai Rp10.000 per pohon. Pengepul berani membeli pisang susu hasil panen sang dokter Rp4.000 per kg. Dengan bobot mencapai 23-24 kg per tandan, mantan Kepala Rumahsakit Bersalin Kota Malang itu mengantongi keuntungan bersih Rp82.000-Rp86.000 per tandan.

Kini 775 pohon yang belum panen tengah memamerkan buah muda; sebagian lagi masih berbunga. Zainal memperkirakan ia kembali menuai buah matang pada Maret sebanyak 200 pohon. Itu sumber pundi-pundi tambahan dokter pencinta tanaman itu. (Bondan Setyawan)

Keterangan Foto :

  1. Per tandan 13-15 sisir, lazimnya 10 sisir
  2. Limbah cair pupuk kandang sapi tingkatkan produksi pisang susu
  3. dr Zainal Gani, menanam 800 pohon pisang susu
Previous articleHitam untuk Ayan
Next articleBintang Top Tanah Gersang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img