Tuesday, November 29, 2022

Hitam untuk Ayan

Rekomendasi
Sumilah (kiri) dan Putri Enggar Apriliasari
Sumilah (kiri) dan Putri Enggar Apriliasari

Beras hitam dan beras merah membantu penyembuhan penderita epilepsi.

Libur telah tiba. Putri Enggar Apriliasari girang ketika ibunya mengajak berlibur ke rumah nenek di Sumbermanjing, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Ketika meninggalkan rumahnya di Kepanjen, Kabupaten Malang, siswa kelas enam sekolah dasar itu segar-bugar. Namun, beberapa jam setelah tiba di rumah nenek, suhu tubuh Enggar merambat naik. Untuk mengatasi suhu tinggi itu, sang nenek memberikan ramuan rimpang kunyit dan madu. Sayang suhu tubuh Enggar tak kunjung turun.Itulah sebabnya Sumilah, sang ibu, membawa Enggar pulang dan hendak  ke dokter. ”Setelah di rumah Enggar justru kejang-kejang,” tutur Sumilah yang lantas membawa Enggar ke dokter spesialis saraf di Malang. Hasil pemindaian menunjukkan terdapat gumpalan darah di bagian belakang kepala. Dokter menduga kejang-kejang yang dialami Enggar merupakan epilepsi akibat trauma benturan di kepala.

Kepala terbentur

Beberapa tahun sebelumnya, Enggar memang pernah jatuh dari kursi ketika membersihkan lemari. Kepala terbentur lantai dan Enggar muntah darah. Sumilah yang kaget buru-buru membawa Enggar ke seorang mantri kesehatan. Mantri menyuntikkan obat untuk mengurangi rasa sakit di kepala. “Setelah itu, Enggar ceria kembali seperti tidak terjadi sesuatu,” kata Sumilah mengenang kejadian pada 1999 saat Enggar kelas empat sekolah dasar.

Menurut pendiri dan pembina Yayasan Epilepsi Indonesia, dr Hardhi Pranata SpS MARS, epilepsi merupakan penyakit saraf menahun yang terjadi karena gangguan potensial listrik sel neuron otak yang berlebihan. Penyebab epilepsi antara lain pascatrauma kelahiran, trauma kepala, pascainfeksi otak, pascastroke, tumor otak, atau kelainan genetik. “Gejala epilepsi antara lain kejang-kejang, kesadaran menurun, gangguan memori, kelemahan motorik anggota tubuh, kesemutan, perubahan emosi, serta perilaku mengompol,” tutur Hardhi.

Menurut Hardhi penanganan penderita epilepsi meliputi prosedur diagnostik, mulai dari gejala klinis, pemeriksaan Electro Encephalo Graphy (EEG), pencitraan radiologis MRI (Magnetic Resonance Imaging) otak, dan Computerised tomography (CT)-Scan. Berikutnya ditentukan obat antiepilepsi (OAE) sesuai kondisi penderita seperti phenobarbital, phenitoin, carbamazepin, valproic acid, clonazepam, topiramate, dan leviracetam. “Apabila faktor penyebabnya tumor otak atau malformasi pembuluh darah otak, sebaiknya dikonsultasikan kepada ahli bedah saraf,” tutur Hardhi.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI)  itu mengatakan tingkat kesembuhan dengan OAE mencapai 70%. Syaratnya konsumsi obat secara teratur selama 2 tahun. Selain itu untuk mempercepat kesembuhan, Hardhi menyarankan penderita epilepsi menghindari kegiatan fisik berlebihan seperti bela diri dengan kontak tubuh, panjat tebing, suara bising seperti musik keras, dan kilatan cahaya lampu seperti di diskotek.

Antosianin

Untuk mengatasi epilepsi itu, “Dokter memberi obat penenang yang diminum 3 tablet setiap kali minum, sehari 3 kali selama dua tahun,” tutur Sumilah. Menurut Sumilah obat itu rutin dikonsumsi. Namun, kondisi sang buah hati tidak menunjukkan perubahan berarti. “Tapi saya juga tidak ingin anak saya bergantung terus kepada obat kimia,” tutur Sumilah yang kemudian mulai mencari obat alternatif. Atas saran seorang tetangga, Pudji Rahardjo, pada 2010 Sumilah memberi beras hitam yang dikombinasikan beras merah.

Pudji Rahardjo pernah mengidap lemah jantung dan membaik setelah rutin mengonsumsi beras merah dan beras hitam. Sumilah memperoleh kedua beras itu dalam bentuk tepung halus. Untuk membuat sediaan, Sumilah mengambil masing-masing satu sendok makan beras hitam dan beras merah. Ia menyeduh tepung beras dengan segelas air air mendidih, mengaduk, dan memberikannya kepada Enggar. Frekuensi konsumsi dua kali sehari.

Sepekan mengonsumsi tubuh Enggar seperti menolak. “Saya pusing-pusing, mual, dan pernah hampir pingsan,” kata Enggar yang terus mengonsumsi atas dorongan ibunda. Menurut Lina Mardiana, herbalis di Yogyakarta, mual dan pusing merupakan bagian proses detoksifikasi atau pengeluaran racun di tubuh. Namun, setelah sepekan, mual dan pusing berakhir. Dua bulan rutin mengonsumsi ramuan itu, kondisi Enggar mulai menunjukkan perbaikan.

Tubuhnya tidak mudah kejang dan jatuh tiba-tiba. “Dulu saat memegang benda tiba-tiba langsung dilempar, sekarang tidak lagi. Bahkan ia sudah bisa menyeduh minuman untuk tamu,” tutur Sumilah. Frekuensi kejang juga menurun. Meski kondisi terus membaik, Enggar tetap mengonsumsi seduhan beras hitam, beras merah, dan obat dokter. Menurut Lina Mardiana beras hitam dan beras merah berkhasiat antiepilepsi. Ia meresepkan beras hitam dan beras merah untuk pasien epilepsi.

Ia menyarankan penderita epilepsi atau ayan untuk mengonsumsi nasi beras itu. Porsi beras hitam 40%, beras merah 40%, dan beras putih 20%. Ketiga jenis beras itu ditanak seperti biasa hingga matang dan siap konsumsi. Penderita epilepsi mengonsumsi nasi itu seperti makan biasa sebanyak 3 kali sehari. “Setelah 3 bulan mengonsumsi penderita mulai menunjukkan perbaikan,” tutur Lina.

Menurut Hardhi penderita epilepsi perlu diet ketogenik, yakni menghindari konsumsi bahan pangan yang mengandung lemak nabati tinggi. Beberapa contoh makanan yang kaya lemak nabati tinggi adalah minyak zaitun dan virgin coconut oil. Selain itu pasien juga menghindari protein nabati seperti jamur dan tahu, makanan tinggi karbohidrat (gula dan nasi). Hardhi Pranata menuturkan beras merah dan beras hitam mengandung antioksidan berupa antosianin serta rendah kalori. Kalori beras merah 352 kilokalori, beras hitam 351 kilokalori, dan beras putih 357 kilokalori.

Menurut Lina antioksidan dapat menghancurkan sumbatan-sumbatan di pembuluh darah pada penderita epilepsi. Siti Dewi Indrasari dan Prihadi Wibowo dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi membuktikan bahwa kadar antosianin nasi asal beras merah mencapai 1,62 mg, beras hitam 5,86 mg, dan beras putih 0,29 mg per 100 gram. (Bondan Setyawan)

Keterangan Foto :

  1. Sereal beras hitam mampu sehatkan penyandang epilepsi
  2. Sumilah (kiri) dan Putri Enggar Apriliasari
  3. Beras merah memiliki antosianin 1,62 mg per 100 g
  4. Lina Mardiana, “Antioksidan dapat menghancurkan sumbatan pembuluh darah”
Previous articleTerkuak Karena Nafsu Turun
Next articleDari 10 Jadi 17

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img