Wednesday, August 10, 2022

Terkuak Karena Nafsu Turun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Lukman Nurhakim lebih memilih kapsul daun sirsak dibanding kemoterapi
Lukman Nurhakim lebih memilih kapsul daun sirsak dibanding kemoterapi

Nafsu makan anjlok menguak keberadaan sel kanker yang telah bertahan 20 tahun.

Sepiring horumonyaki yang hangat itu tak juga menggugah selera Lukman Nurhakim. Padahal, menu khas Jepang itu santapan kegemaran Lukman. Nafsu makan pria kelahiran 1956 itu memang tengah anjlok. Sampai di sini, Lukman tak curiga. Beberapa pekan kemudian, ia sakit perut, mual, dan muntah. Frekuensinya hampir setiap hari. Selain itu Lukman kerap buang air besar bercampur darah. Lukman sebenarnya merasa gejala itu sudah lama. Namun, ia menganggapnya sebagai hal sepele.Namun, ketika frekuensi mual dan muntah kian sering, memaksanya untuk memeriksakan diri ke dokter di Jakarta. Setelah memeriksa, dokter mengatakan terdapat amuba di usus Lukman. Sepekan berselang, tak ada perubahan berarti. Oleh karena itu kakek 4 cucu itu kembali memeriksakan diri ke sebuah rumahsakit di Jakarta. Lukman menjalani tes endoskopi. Dokter juga memindai pria kelahiran 56 tahun silam itu. Hasil tes itu mengagetkan Lukman: kanker usus stadium 3-b.

Gaya hidup

Menurut Dr Aru Wisaksono Sudoyo SpP, KHOM, FCAP, FINASIM dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, faktor utama pemicu kanker adalah gaya hidup tidak sehat. Konsumsi makanan tinggi lemak, misalnya, memerlukan asam empedu untuk pemrosesannya. “Semakin banyak konsumsi lemak dan lambatnya perjalanan makanan ke lambung karena kurang konsumsi serat menyebabkan asam empedu terlalu lama kontak dengan usus besar. Hasilnya terjadi iritasi pada dinding usus besar yang dapat berkembang menjadi kanker atau pertumbuhan sel ganas,” papar Aru.

Lukman memang menggemari makanan berlemak. Setiap hari pemilik industri busana muslim itu selalu menyempatkan diri ke restoran jepang di Jakarta. Di sana ia menikmati jeroan panggang alias horumonyaki dan domba panggang. Menurut Aru kanker juga muncul akibat kerusakan gen oleh unsur lingkungan. Menurut dr Oetjoeng Handajanto, ahli terapi kolon di Bandung, Jawa Barat, 50% timbulnya kanker memang akibat faktor lingkungan serta gaya hidup tidak sehat.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tingkat prevalensi kanker usus mencapai 1,8 per 100.000 penduduk. Kanker usus umumnya ditemukan pada pasien berusia 50-60 tahun ke atas. Di negara maju, seperti di Amerika Serikat, pasien kanker usus besar yang berusia 40 tahun berkisar 3-6%; di Indonesia, lebih dari 30%. Faktor lain yang memicu tumbuhnya kanker adalah riwayat kanker keluarga serta faktor usia. “Semakin bertambahnya usia, risiko terkena kanker usus meningkat,” ujar Aru.

Untuk mengatasi kanker usus, Lukman menjalani operasi pengangkatan. Saat itu, pada 2007 usus besarnya sepanjang 35 cm harus terpotong. Setelah menjalani operasi pengangkatan, kodisi Lukman semakin memburuk, badan lemas dan sakit pascaoperasi. Lukman tegas menolak saran dokter untuk kemoterapi karena pernah mendengar dampak buruk kemoterapi seperti rambut rontok dan badan lemas.  Setelah tujuh hari menjalani perawatan di rumahsakit Lukman memilih pulang.

Daun sirsak

Sebulan pascaoperasi, Lukman masih merasa mual dan lemas. Di tengah kebingungannya mencari pengobatan untuk mengatasi gangguan kesehatan itu, seorang kerabat di Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, menyarankan Lukman untuk menjalani pengobatan alternatif. Kerabatnya itu pernah mengidap kanker usus dan terus membaik setelah rutin konsumsi daun sirsak.

Lukman mendatangi ruang praktik dr Paulus Wahyudi Halim Med Chir, dokter dan herbalis, di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, sebulan setelah operasi. Menurut dr Paulus di usus Lukman masih terdapat sel kanker. Dokter yang pernah bertugas di Uganda itu meresepkan ramuan terdiri dari ekstrak daun sirsak Annona muricata, sambiloto Andrographis paniculata, temumangga Curcuma mangga. Semua ramuan dalam bentuk kapsul.

Setiap hari Lukman mengonsumsi 4 kapsul itu pada pagi, siang, dan malam. Tiga bulan menjalani terapi, Lukman mendapat tawaran berobat di Belanda dari kerabat lain di Jakarta. Namun, Lukman menolak. “Saya tak bisa jauh dari keluarga, keluarga itulah yang bisa memotivasi saya agar cepat sembuh,” ujar Lukman. Setelah 7 bulan konsumsi herbal kondisi fisik Lukman kian membaik, nafsu makan kembali tinggi, bobot badan yang semula turun sampai 17 kg kembali normal menjadi 71 kg. Mual serta feses berdarah juga berakhir. “Walaupun demikian saya belum dinyatakan sembuh oleh dokter,” tutur Lukman.

Merujuk hasil riset Dr Jerry McLaughlin dari Universitas Purdue, Amerika Serikat, daun sirsak mengandung senyawa acetoginins yang terdiri atas annomuricin E dan bersifat sitotoksik atau membunuh kanker, termasuk kanker kolon. Peneliti di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Prof Soelaksono Sastrodihardjo PhD, mengungkapkan bahwa acetogenins menghambat ATP atau adenosina trifosfat yang merupakan sumber energi di dalam tubuh.

Untuk berkembang, sel kanker membutuhkan banyak energi sehingga perlu banyak adenosina trifosfat. Namun, kehadiran acetogenins bakal merusak ATP di dinding mitokondria sehingga produksi energi di dalam sel kanker berakhir. Dampaknya sel kanker mati. Namun, menurut Paulus agar pengobatan kanker bekerja secara sinergis dan maksimal tanaman obat harus dikombinasikan.

Kombinasi herbal bertujuan untuk menetralisir efek samping yang ditimbulkan tanaman obat yang lain. Menurut Paulus, sambiloto sebagai immunostimulan yang meningkatkan aktivitas sitotoksis terhadap sel darah merah dan berefek antikanker. Temumangga kaya antioksidan yang berfungsi mencegah kerusakan senyawa penyusun gen. Kandungan kurkumin berperan mencegah peradangan atau inflamasi. Lukman disiplin mengonsumsi kapsul herbal itu sejak Juli 2007.

Pada November 2012 atau 4,5 tahun konsumsi herbal, dr Paulus menyatakan Lukman sehat  dan menyarankan untuk kembali cek ke rumahsakit. Namun Lukman menolak karena, “Saya sepertinya trauma kembali kerumah sakit. Yang penting sekarang saya sudah merasa sehat sepenuhnya dan bisa menjalani hidup seperti sedia kala,” tutur Lukman. (Muhamad Khais Prayoga)


 

Keterangan Foto :

  1. Daun sirsak mengandung senyawa acetogenins yang terdiri annomuricin E dan bersifat sitotoksik atau membunuh kanker
  2. Lukman Nurhakim lebih memilih kapsul daun sirsak dibanding kemoterapi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous articleRosela Lawan Anemia
Next articleHitam untuk Ayan
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img