Wednesday, August 10, 2022

Datanglah, Dewi Fortuna

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Balurkan kunyit di sekujur tubuh bayi, maka Dewi Fortuna akan hadir.

Kunyit digunakan hampir di seluruh upacara adat di BaliItulah kepercayaan warga pesisir Orissa Barat, India, saat menyambut kehadiran sang jabang bayi. Mereka merayakan sukacita dengan membalur tubuh bayi memakai kunyit saat memasuki periode Margasira setiap November—Desember. Pada periode itu Mahalaksmi, alias Dewi Fortuna datang berkunjung. Ia akan menebarkan keberuntungan dan melindungi setiap bayi yang baru menghirup udara di Bumi dari hal-hal buruk.

Suku Oriya di India timur juga melakukan hal serupa dengan cara sedikit berbeda. Mereka memberikan turmerik—sebutan kunyit di India—di dahi jabang bayi. Maksudnya supaya sang bayi dijauhkan dari roh-roh jahat dan selalu beruntung dalam hidupnya. Begitu melekatnya kunyit bagi masyarakat India memang tak lepas dari budaya Hindu. Mereka percaya kunyit sebagai zat kemurnian.

Pantas bila kunyit mendapat tempat istimewa.  Bahkan mereka membuat lagu soal kunyit. Rimpang itu barang wajib di setiap upacara keagamaan, kelahiran, serta kematian. “Bagi umat Hindu, kunyit merupakan simbol kesejahteraan dan kemakmuran,” kata Prof Dr Ir Dewa Ngurah Suprapta MSc dari Universitas Udayana, Bali.

 

Kemakmuran

Bila umat Hindu mempercayai kunyit sebagai keberuntungan jabang bayi, lain lagi dengan keyakinan masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat. Mereka mempercayai rimpang anggota famili Zingiberaceae itu sebagai pembawa kesuburan. Sebab itu sebelum upacara perkawinan berlangsung, mempelai wanita wajib mengonsumsi seduhan kunyit dan gula aren selama 3 hari berturut-turut. Tujuannya agar pasangan berbahagia itu segera memperoleh anak.

"Kunyit memang baik untuk kesuburan wanita," ujar Maria Margaretha Andjarwati, herbalis di Jakarta UtaraMaria Margaretha Andjarwati, herbalis di Jakarta Utara, mengatakan kunyit meningkatkan kesuburan wanita. Kesuburan itu salah satunya ditunjukkan dengan lancarnya menstruasi. Hal itu sejalan  riset Ahimsa Yoga Anindita dari Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah, pada 2010. Penelitian Ahimsa memperlihatkan konsumsi minuman kunyit asam mengurangi keluhan gangguan menstruasi pada sejumlah remaja putri di Surakarta.

Keyakinan kunyit mendatangkan kesuburan juga terlihat dari sesajen yang dipakai oleh umat Hindu. Menurut KC Velayudhan dari National Bureau of Plant Genetic Resources Regional Station yang meriset budaya pemanfaatan tradisional tanaman obat di India, kehadiran kunyit pada upacara raja, misalnya, dapat mengundang datangnya kesuburan dan turunnya hujan. Perayaan setiap Juni pekan kedua itu ditutup dengan memandikan patung sang Dewi Bumi menggunakan rempah kunyit.

Masyarakat Hindu di Bali melakukan hal serupa saat menanam padi. Petani sebelumnya menanam kunyit di hulu saluran irigasi sebagai bagian dari beberapa ritual menanam padi. Kehadiran kunyit membuat Dewi Sri itu tumbuh subur dan tidak kekurangan air. Menurut Dewa Ngurah Suprapta, selain kunyit sebetulnya ada lebih dari 300 tanaman yang digunakan dalam sebuah ritual. “Kunyit menjadi istimewa karena menghadirkan warna kuningnya yang pekat,” ujar alumnus pertanian dari Kagoshima University di Jepang, itu.

 

Kunyit memiliki khasiat mengatasi berbagai penyakitPegal

Tak melulu untuk upacara dan ritual, kunyit sesungguhnya sejak lama digunakan nenek moyang untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Suku Soagb di Manokwari, Papua Barat, misalnya, meneteskan herbal suku jahe-jahean itu ke dalam telinga yang terganggu pendengarannya. Sejauh ini riset mengenai peran kurkum tersebut belum terungkap secara ilmiah, selain dugaan ia melenyapkan bakteri penyebab gangguan telinga. Harap mafhum senyawa kurkumin di kunyit bersifat antibakteri.

Bagi masyarakat Ciamis, Jawa Barat, konsumsi rempah kunyit membantu mengurangi lelah dan pegal usai berladang. “Rimpang kunyit cukup diseduh dengan air hangat,” kata Asep Sukma, warga Ciamis. Riset Rifina Murti Almira dari Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, pada 2008 membuktikan bahwa salep berbahan baku kunyit memang mujarab mempercepat penyembuhan luka.

Yang menarik lagi kunyit bisa menjadi obat panu dan kudis. Itulah yang biasa dilakukan oleh beberapa warga di Ambon, Maluku, untuk mengatasi penyakit kulit itu. Caranya mencampur parutan rimpang guraci—sebutan kunyit di Maluku—dan ekstrak daun kedondong. Selanjutnya tambahkan garam secukupnya. Campuran itulah yang dibalurkan ke kulit  selama 3—5 hari berturut-turut. Hasilnya? Panu dan kudis pergi. Itulah “peran lain” dewi fortuna saat kunyit hadir. (Rizky Fadhilah/Peliput: Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img