Tuesday, January 27, 2026

Demang dan Siputri Durian Kampiun

Rekomendasi
- Advertisement -
Durian demang menjadi juara pertama kontes durian di Festival Buah Gedor Sukabumi 2020. Demang meraih nilai total 267. Kelebihan demang berdaging buah tebal, biji kempis, serta cita rasa manis dan legit. (Dok. Trubus)

Daging buah tebal, beraroma kuat, cita rasa legit dan manis modal para jawara kontes durian.

Trubus — Banyak orang justru memperebutkan korona. Daging buah relatif tebal, warna kuning, serta cita rasa manis dan legit. Itulah durian korona, bukan virus maut yang menyebar dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, yang menewaskan ratusan orang. Durian milik Heru itu meraih juara kedua pada Festival Buah Gedor Sukabumi, 1 Februari 2020. Gedor akronim dari Gerakan Dorong Produksi Ekspor Buah dan Ramah Lingkungan.

Durian demang menjadi durian terbaik pada kontes itu. Menurut juri kontes, Dr. Liferdi Lukman, S.P., M.Si, keistimewaan durian demang memiliki rasa manis legit berujung pahit dengan tekstur daging buah pulen berserat. “Warna daging kuning dan sangat tebal, biji kecil cenderung kempis, juring penuh, ukuran buah merata, aroma daging buah sangat tajam,” kata Liferdi yang menjabat Direktur Buah dan Hortikultura Kementerian Pertanian.

Bupati Sukabumi, Marwan Hamami saat membuka Festival Buah Gedor Sukabumi 2020. (Dok. Trubus)

Daging tebal

Kulit buah tipis dengan duri banyak dan tidak tajam. Daging buah demang sangat tebal. Saat penilaian, juri memanfaatkan tusuk gigi bersih untuk mengetahui ketebalan daging buah. Mereka menusukkan peranti yang terbuat dari bambu itu di beberapa pongge. Bambu itu melesak cukup dalam yang mengindikasikan daging buah tebal. “Satu buah paling hanya ada 2 biji yang normal selebihnya kempis,” kata pemilik demang, Anang Sobandi.

Rasa demang juga manis dan legit dengan paduan sedikit pahit. Kelebihan itu yang mengantarkan demang menjadi kampiun kontes buah durian di lapangan Cangehgar, Palabuahanratu. Anang baru kali pertama mengikutkan demang—panggilan untuk anak keduanya Muhammad Al Hikam (2,5 tahun). Menurut Anang semua durian demang merupakan durian jatuhan sehingga matang maksimal.

Ayah tiga anak itu mengupah tenaga khusus untuk mengikat tangkai durian dewasa. Ketika buah jatuh, durian pun menggantung di tali rafia sehingga tidak membentur tanah. Anang praktis tidak pernah memberi pupuk sebagai sumber nutrisi pohon yang kini berukuran dua pelukan manusia dewasa itu. Anang memiliki sebuah pohon durian yang tumbuh di pekarangannya di Ridogalih, Kecamatan Cikakak—15 km arah barat dari Palabuhanratu, ibu kota Kabupaten Sukabumi.

Pohon durian demang setinggi 30 meter merupakan warisan orang tua Anang yang wafat pada 2015. Anang memperkirakan umur pohon 60 tahun dan menghasilkan 150 buah per musim. Pria 34 tahun itu menjual eceran di dekat rumahnya Rp40.000—Rp100.000 per buah. Itu berarti omzet Anang minimal Rp6 juta per musim jika harga jual Rp40.000 per buah dan semua terjual.

Durian sibokor menjadi juara ketiga. Liferdi mengatakan, sibokor bercita rasa manis legit berujung agak pahit. Tekstur daging buah pulen. Sayangnya, cenderung lembek. Kelebihan lain daging buah tebal dan berwarna kuning, biji kecil, juring penuh ukuran buah kurang merata. “Harapan saya tindak lanjut dari kontes yaitu Sukabumi harus mempunyai program pengembangan durian lokal pemenang kontes secara masif,” kata Liferdi.

Ragam olahan daging buah durian pemenang kontes Festival Durian
Banten. Berturut-turut dari kiri ke kanan piza durian (Juara I), sup durian
(II), dawet durian (III). (Dok. Trubus)

Bupati Sukabumi Marwan Hamami menginginkan festival buah berlangsung setiap tahun. Anggota panitia kontes, Deni Ruslan, S.P. mengatakan, “Rencananya durian pemenang akan diusulkan menjadi vatietas unggul nasional.” Panitia Festival Buah Gedor Sukabumi juga menyelenggaraka kakan durian gratis yang dihadiri 4.000 orang. Selain itu panitia membagikan 2.000 durian gratis.

Total peserta kontes durian 36 buah yang berasal dari berbagai wilayah di Sukabumi. Tiga juri, Liferdi, Syafrien Arianto (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat), dan Sardi Duryatmo (Majalah Trubus). Mereka menilai satu per satu semua buah meliputi 14 aspek seperti rasa, ketebalan daging buah, warna, aroma, dan juring.

Durian Banten

Selain di Kabupaten Sukabumi, kontes durian juga berlangsung di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Total peserta 58 durian dari berbagai wilayah di Provinsi Banten. Durian siputri menjadi yang terbaik pada kontes itu. Durian milik Muhammad Ajid dari Pandeglang itu meraih nilai 215,3. Juri kontes, Tatang Halim, mengatakan, “Kualitasnya jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya. Warna, penampilan, tekstur, aroma, dan rasa jauh lebih enak daripada tahun kemarin.”

Tekstur siputri kering dan daging buah berwarna kuning. Cita rasa daging buah legit, manis, dan tidak terlalu pahit. Juri kontes, Iwan Surbakti mengatakan, rasa siputri sangat lembut dan kental. Purnarasa atau after taste juga ada rasa pahit. Bobot sebuah rata-rata 3 kilogram. Buah itu berasal dari pohon berumur 30 tahun. Pemilik hanya memberikan 25 kg pupuk kandang sebulan sekali. Pemilik juga memangkas sekali setahun.

Adapun durian terbaik kedua sikunir yang meraih nilai 201,75 dari tiga juri. Juri kontes, Iwan Surbakti mengatakan, durian juara kedua mirip dengan juara pertama. Perbedaannya, kadar air lebih banyak. Dampaknya faktor lengketnya kurang. Kadar pahit pada purnarasa lebih tinggi daripada siputri. Sementara itu durian terbaik ketiga silodong bersosok besar. Bobot siloodng 3,45 kg.

“Kami berkesan durian berukuran 3 kg lebih dan bisa matang sempurna. Rasanya lumayan enak tapi sayang warnanya kurang menonjol,” kata Iwan. Panitia juga menggelar kontes olahan durian yang terdiri atas 5 peserta. Menurut panitia semula 20 orang mendaftarkan diri. Namun, kondisi cuaca menyebabkan beberapa peserta membatalkan diri. Piza durian menjadi juara pertama kontes olahan dengan nilai 524,33.

Adapun juara kedua olahan adalah sup durian dengan kacang banten (464,33) dan juara ketiga dawei ireng durian (413,67). Aspek penilaian meliputi rasa, penampilan, kreativitas, orisinalitas, keunikan, dan estetika, dan kebersihan. “Semua peserta tampak antusias membuat olahan yang beraroma tajam,” kata juri Taufik Hidayat. Dua juri lainnya adalah Dedes Dwi R. (juru masak) dan Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol dari Majalah Trubus. (Sardi Duryatmo/Peliput: Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img