Wednesday, August 17, 2022

Tiga Avokad Hebat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Avokad deana berdaging buah kuning, gurih, dan kering. Tekstur kenyal seperti ketan. Bobot buah 250—300 gram. (Dok. Tris Ian Anto)

Tiga avokad baru hasil seleksi di sentra. Rasa paduan manis gurih.

Trubus — Namanya deana, sultan, dan jumali. Kehadiran mereka meramaikan dunia hortikultura Indonesia. Itulah avokad hasil seleksi Tris Ian Anto, pemilik Dhe Kumis Farm di Gunungpati, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tris penangkar yang giat menyeleksi avokad sejak setahun terakhir. “Daerah Gunungpati terkenal penghasil avokad dataran rendah yang gurih, kering, dan manis. Namun, bila ditanya varietas terbaik maka semua bingung menjawabnya,” kata Tris.

Kini setelah setahun menyeleksi buah dari beragam pohon avokad di Gunungpati, Tris berhasil memilah 3 avokad yang istimewa. Ketiganya deana, sultan, dan jumali. “Ini yang dianggap terbaik di daerah kami dari sekitar 10 besar,” katanya. Meski demikian, Tris tak lantas percaya diri. Ia juga mengirim avokad-avokad itu ke beberapa koleganya di Yayasan Alpukat Nusantara untuk dikomentari. Semuanya mengakui ketiga avokad itu memang istimewa.

Tris Ian Anto menyeleksi buah avokad terbaik di sentra Gunungpati, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (Dok. Tris Ian Anto)

Empat kategori

Deana paling istimewa karena buah mungil berukuran 250—300 gram. Biji kecil dengan daging buah kuning. Rasanya? Gurih dan pulen dengan paduan manis. “Kenyal seperti ketan, tetapi kering,” kata Tris mengomentari tekstur daging buah anggota famili Lauraceae itu. Buah berasal dari pohon yang belum genap berumur 10 tahun sehingga produktivitas baru 250 kg per tahun. Ia tumbuh di ketinggian 207 m dpl.

Berikutnya sultan. Rasanya juga mirip deana. Bedanya bobot 700—1.000 gram per buah. Pohon induk tumbuh di ketinggian 450 meter di atas permukaan laut (m dpl). “Ini khusus buat pekebun yang ingin buah ukuran besar,” kata Tris. Yang terakhir, jumali, berasal dari pohon berumur 25 tahun dengan produksi 500 kg per tahun. Rasanya memang tak selezat deana dan sultan, tetapi kandungan lemaknya tinggi, 14,1 gram/100 .

Tris menuturkan jumali cocok sebagai avokad industri terutama karena kaya lemak. Pada umumnya kadar lemak avokad lain hanya 2—12 gram per 100 gram. Demikian pula karbohidrat jumali mencapai 15 gram per 100 gram, sedangkan avokad lain 8—13 gram per 100 gram. Ahli buah di Kota Bogor, Jawa Barat, Dr. Ir. Mohamad Reza Tirtawinata, M.S. mengatakan avokad beragam sehingga untuk kebutuhan pasar digolongkan menjadi 4.

Avokad sultan pulen dan gurih berbobot 700—1000 gram per buah. (Dok. Tris Ian Anto)

Pertama, avokad untuk buah meja yang kualitas rasa dan ukuran menjadi pertimbangan utama karena dikonsumsi langsung. “Rasa harus gurih, kering, dan ada nuansa manis. Ukuran mungil agar sekali santap habis,” kata doktor Pertanian alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Golongan kedua avokad untuk olahan makanan seperti tepung dan jus. Bagi avokad olahan, rasa bukan pertimbangan utama karena nanti akan dicampur dengan susu, cokelat, atau gula.

“Yang penting produktivitas tinggi dan berukuran besar agar panen lebih cepat,” kata Reza. Ketiga avokad untuk industri farmasi yang diambil minyaknya seperti zaitun. “Cirinya gampang dikenali karena bila terkena pisau atau piring seperti berminyak serta sulit dihilangkan,” kata Reza. Keempat, avokad untuk batang bawah yang berbiji besar. Menurut Reza penggolongan itu dapat menjadi panduan bagi penangkar yang menyeleksi avokad.

Berikutnya cara yang terbaik adalah menyertakan hasil seleksi pada sebuah kontes agar teruji secara objektif,” kata Reza. Bila teruji, penangkar dapat mendaftarkan varietas avokad hasil seleksinya ke Kementerian Pertanian. Sebetulnya Indonesia kaya beragam avokad meskipun Persea americana itu berasal dari Meksiko.

Juara kontes

Jumali, kandungan lemak dan karbohidrat paling tinggi. Kering karena kandungan air rendah. Cocok untuk bahan baku makanan bayi. (Dok. Tris Ian Anto)

Menurut Food Agriculture Organizations (FAO) Indonesia produsen terbesar avokad ke-4 di dunia setelah Meksiko, Republik Dominika, dan Peru. Sayang, Indonesia bukan termasuk 10 besar negara pengekspor avokad. Indonesia kalah oleh negara pengekspor seperti Meksiko, Belanda, Peru, Spanyol, Chili, Kenya, Afrika Selatan, Selandia Baru, dan Kolombia. “Produksi avokad bukan dari kebun komersial, tetapi dari kebun rakyat atau pekarangan,” kata Reza Tirtawinata.

Beruntung tiga tahun belakangan muncul kesadaran masyarakat avokad sebagai makanan super alias super food. Dampaknya banyak penangkar menyeleksi avokad terbaik di daerahnya. Muncul pula kontes-kontes khusus avokad. “Tujuannya untuk menemukan varietas yang cocok untuk tujuannya masing-masing. Mereka berjasa melakukan pemuliaan secara swadaya,” kata Reza.

Menurut penangkar buah di Kota Depok, Jawa Barat, Eddy Soesanto, contoh avokad yang lahir dari seleksi penangkar swadaya adalah avokad miki. Avokad asal Kota Depok itu kini menyebar ke berbgai daerah. Sementara avokad yang lahir dari juara kontes adalah cengkho (baca: Trubus Februari 2020). (Destika Cahyana).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img