Trubus.id— Kegiatan sehari-hari Deri Nurdiansyah, S.Pd., amat padat. Pada pagi hingga sore hari bekerja di Kantor Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat sebagai Sekertaris Desa (Sekdes).
Namun, sepulang bekerja dan akhir pekan kesibukan Deri berbeda. Pemuda 28 tahun itu sibuk mengontrol panen jamur tiram dari dua kumbung jamur tiram miliknya. Ia membudidayakan jamur tiram pada 2 kumbung dengan kapasitas masing-masing kumbung 20.000 baglog.
Uniknya, Deri membudidayakan jamur tiram di dataran rendah. Ia membudidayakan jamur anggota famili Pleurotaceae itu hanya 17 meter di atas permukaan laut (dpl). “Suhu saat musim panas bisa 34oC, terpaan angin, suhu tinggi, dan kelembapan rendah bisa membuat jamur merana,” kata Deri.
Keruan saja hal yang dilakukan Deri seolah menentang alam. Pasalnya, jamur tiram lazimnya tumbuh di dataran tinggi dengan suhu dingin dan kelembatan tinggi. Deri nekat membudidayakan jamur tiram lantaran peluang pasar yang besar.
“Permintaan harian jamur tiram dari lapak langganan cukup tinggi bisa mencapai 200—300 kg per hari,” katanya. Ia menjual jamur tiram ke 3—4 lapak langganannya di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Deri menambahkan, “Sejatinya permintaan jamur tiram dari Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pun tinggi bisa mencapai 1,5 ton per hari,” katanya.
Info itu Deri peroleh saat Dinas Kehutanan setempat setelah melakukan survei ke beberapa pasar yang tersebar di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pasokan Deri yang baru 50 kg per hari itu tentu belum memenuhi permintaan yang ada.
Keruan saja pemuda 28 tahun itu tertarik menambah jumlah kumbung untuk memenuhi ceruk pasar yang ada. Jika ingin menambah produksi sebanyak 30—40 kg per hari setidaknya butuh tambahan 10.000 baglog jamur produktif.
Deri mengatakan, “Andai produksi dua kali lipat lebih banyak sekalipun pasar masih mampu menyerap,” kata pekebun jamur tiram sejak 2016 itu. Artinya tidak ada kendala dari segi permintaan.
Deri menambahkan, “Harga jual jamur di dataran rendah juga relatif lebih mahal dibandingkan dengan sentra dataran tinggi yang beriklim sejuk,” katanya. Deri mencontohkan hasil panennya bisa Rp14.000 per kg, harga itu lebih tinggi dibandingkan dengan harga di sentra dataran tinggi Rp11.000—Rp12.000.
Harap mafhum, tantangan membudidayakan di dataran rendah. Jika pasokan Deri 50 kg per hari maka omzet dari perniagaan jamur tiram bisa mencapai Rp700.000 per hari, atau sekitar Rp21 juta saban bulan.
Deri membuktikan dengan perlakuan tepat jamur tiram bisa tumbuh sentosa meski di lingkungan ekstrem. Lantas apa rahasia Deri sukses membudiayakan tiram di dataran rendah? Menurut Deri serangkaian yang diperhatikan adalah modifikasi iklim dan pemilihan bibit yang adaptif di dataran rendah.
Deri memilih daerah yang relatif banyak vegetasi di sekitar kumbung. “Kebetulan di sekitar kumbung dekat dengan kebun bambu, sehingga suhu sekitar pun tidak terlalu panas,” kata Deri.
Artinya pengaturan iklim mikro pun bisa berperan mengoptimalkan pertumbuhan jamur. Perlakuan lainnya yang juga menjadi kunci budidaya di dataran rendah adalah tepat penumpukan baglog. “Jika di dataran tinggi bisa menumpuk 6—7 baglog, di dataran rendah maksimal menumpuk 2—3 baglog,” katanya.
Menumpuk baglog terlalu banyak mengakibatkan suhu pada sekitar baglog panas sehingga tubuh jamur tiram enggan tumbuh. Deri menambahkan bahwa pengaturan nutrisi pada baglog juga amat berpengaruh pada keberhasilan budidaya di dataran rendah.
“Pada musim panas biasanya sumber nutrisi berupa dedak dan tepung jagung pada baglog sedikit dikurangi, karena makin banyak nutrisi juga bisa memicu suhu menjadi lebih panas,” kata Deri.
Sementara saat musim hujan nutrisi kembali ditingkatkan karena suhu lingkungan relatif lebih dingin. Kebutuhan nutrisi rata-rata sekitar 10—12% dari bobot baglog. Bobot baglog rata-rata 1,3 kg dengan hasil rata-rata 0,3 kg per baglog. Artinya nilai Biological Eficiency Ratio (BER) sekitar 27%.
Menurut Deri, nilai itu sudah bagus untuk budidaya di dataran rendah. Lantas berapa laba yang diperoleh pekebun? Hitung-hitungan Deri, biaya produksi total untuk satu baglog siap produksi rata-rata Rp1.700 jika membuat sendiri. Adapun jika membeli sekitar Rp2.500. “Itu sudah termasuk biaya tenaga kerja panen harian,” katanya.
Hitung-hitungan Deri, paling sedikit laba yang diperoleh petani jamur minimal Rp1.000 per baglog. Laba petani makin tinggi jika tingkat kegagalan tumbuh kian rendah. “Jika kegagalan hanya 5% dari total produksi masih untung, tetapi jika kegagalan di atas 20% sudah rugi,” katanya.
Deri pun tidak selamanya untung membudidayakan tiram. Pasalnya, Ia sempat merugi karena 40.000 baglog gagal tumbuh karena terlalu berani berspekulasi. Kerugian setara Rp68 juta. Menurut Deri, “Waktu itu sembarangan mengambil serbuk kayu sebagai media, lazimnya hanya menggunakan serbuk sengon.
Pemilihan bibit pun bukan yang adaptif di dataran rendah,” katanya. Imbasanya, tubuh jamur tidak kunjung tumbuh, baglog malah menghijau ditumbuhi lumut. Meskipun demikian Deri bergeming di bisnis tiram. Pasalnya, bagi Deri kegagalan adalah pengalaman berharga yang bisa dijadikan pertimbangan agar bisa melangkah lebih baik di kemudian hari.
