Dieng Berpotensi Tiga Kali Tanam, Didukung Iklim dan Curah Hujan Tinggi

Rekomendasi

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Aris Pramudia, mengungkapkan Dataran Tinggi Dieng memiliki iklim sedang dengan curah hujan tinggi. Kondisi ini menjadikan kawasan pada ketinggian 1.200–1.500 mdpl tersebut berpotensi untuk budi daya pertanian hingga tiga kali tanam.

Hal itu disampaikan dalam Webinar Series ORKM bertajuk “Urgensi Mempertahankan Salju Dieng-Cartenz sebagai Indikator Ekosistem & Lingkungan”. Dalam paparannya, Aris menyoroti karakteristik agroklimat Dieng dan Cartenz serta peluang pengembangan pertanian di kedua wilayah.

Dieng terletak di dataran tinggi Jawa Tengah yang mencakup Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Bentang alamnya didominasi lahan pertanian dan kawasan hutan yang mendukung aktivitas budidaya.

Berbeda dengan Dieng, Cartenz berada di Pegunungan Jayawijaya, Papua Tengah, dengan ketinggian lebih dari 4.000 mdpl. Kawasan ini didominasi batuan sehingga memiliki karakter agroklimat yang jauh berbeda.

Pola curah hujan di Dieng bersifat monsunal dengan perbedaan jelas antara musim hujan dan kemarau. Curah hujan tahunan mencapai 3.644 mm dengan delapan bulan basah dan tiga bulan kering.

Sementara itu, pola hujan di Cartenz bersifat multi-pattern dengan fluktuasi basah dan kering lebih dari tiga kali. Curah hujan tahunannya mencapai 2.762 mm dengan lebih dari sembilan bulan basah tanpa bulan kering.

Menurut Aris, potensi pertanian dapat dianalisis melalui klasifikasi iklim J.W. Junghuhn yang berbasis ketinggian. Zona sedang pada ketinggian 600–1.500 mdpl cocok untuk tanaman seperti teh, stroberi, kol, sawi, dan selada.

Pada zona sejuk 1.600–2.000 mdpl, komoditas yang sesuai antara lain sayuran dataran tinggi, kopi, teh, dan kina. Sementara pada ketinggian di atas 2.500 mdpl, tanaman budidaya tidak berkembang dan hanya vegetasi seperti lumut dan paku yang mampu bertahan.

Selain itu, analisis agroklimat juga mempertimbangkan suhu udara. Pada suhu 13–18,1 derajat Celsius, komoditas yang sesuai adalah sayuran dataran tinggi dan tanaman perkebunan dataran tinggi.

Aris menegaskan, klasifikasi agroklimat juga memperhitungkan curah hujan, bulan basah, dan bulan kering untuk menentukan pola tanam. Pendekatan ini membantu menentukan variasi komoditas yang optimal di suatu wilayah.

Berdasarkan analisis tersebut, Dieng dinilai sangat potensial untuk pengembangan sayuran dataran tinggi dan tanaman perkebunan. Intensitas hujan dan suhu yang sesuai memungkinkan pola tanam hingga tiga kali dalam setahun.

Pengelolaan lahan juga perlu memperhatikan kemiringan lereng. Lereng di atas 40 persen sebaiknya dijadikan kawasan konservasi, sementara lereng 16–40 persen dapat dimanfaatkan untuk perkebunan.

Pada lereng 8–15 persen, sistem wanatani menjadi pilihan ideal. Adapun lahan dengan kemiringan di bawah 8 persen dapat dimanfaatkan untuk pertanian kering maupun basah.

Di akhir paparannya, Aris menambahkan bahwa potensi pertanian juga dapat dikaji melalui kebutuhan suhu optimal tanaman serta kerapatan jaringan sungai. Pendekatan tersebut semakin memperkuat perencanaan pengembangan pertanian berbasis agroklimat.

Artikel Terbaru

Olahraga Bantu Jaga Kesehatan Otak, Jangan Duduk Terlalu Lama

Tren olahraga di kalangan anak muda dinilai dapat menjadi penyeimbang terhadap gaya hidup minim gerak akibat kebiasaan menggunakan media...

More Articles Like This