Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap anggrek merpati (Dendrobium crumenatum) tumbuh melimpah di berbagai kawasan konservasi Indonesia, tetapi pemanfaatannya belum optimal. Padahal, anggrek itu berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif untuk pengembangan produk nutraseutikal berbahan alami.
Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Applied Biochemistry and Biotechnology menunjukkan bahwa lingkungan tempat tumbuh memengaruhi komposisi metabolit tanaman. Perbedaan itu berdampak pada variasi aktivitas antioksidan dan antibakteri anggrek.
Penelitian menggunakan pendekatan metabolomik berbasis Ultra High Performance Liquid Chromatography–High Resolution Mass Spectrometry (UHPLC-HRMS). Tim membandingkan profil metabolit daun dan batang anggrek dari Kebun Raya Bogor dan Taman Nasional Ujung Kulon.
Peneliti BRIN, Salsabila Aqila Putri, menyatakan lokasi geografis berpengaruh nyata terhadap profil metabolit tanaman. Faktor lingkungan memicu pembentukan metabolit sekunder sebagai mekanisme adaptasi anggrek.
Analisis metabolomik mengidentifikasi 48 senyawa yang terdiri atas 54 persen metabolit sekunder dan 46 persen metabolit primer. Metabolit sekunder meliputi fenolik, flavonoid, alkaloid, dan terpenoid, sedangkan metabolit primer berupa asam lemak dan asam amino.
Sampel dari Kebun Raya Bogor lebih kaya asam lemak dan alkaloid akibat tekanan lingkungan dan tingginya nitrogen tanah. Sebaliknya, anggrek dari Taman Nasional Ujung Kulon mengandung fenolik dan flavonoid lebih tinggi karena respons terhadap stres air.
Uji aktivitas antioksidan menunjukkan ekstrak daun dari Taman Nasional Ujung Kulon memiliki aktivitas tertinggi pada metode ABTS dan FRAP. Sementara itu, ekstrak daun dari Kebun Raya Bogor unggul dalam menghambat radikal DPPH.
Pengujian antibakteri menunjukkan ekstrak dari Kebun Raya Bogor efektif menghambat Pseudomonas aeruginosa. Adapun ekstrak batang dari Taman Nasional Ujung Kulon paling aktif melawan Staphylococcus aureus.
Simulasi molecular docking menunjukkan senyawa fenolik anggrek berpotensi menghambat protein penting bakteri. Senyawa 4′,6-dihydroxy-3′-methoxyaurone menjadi kandidat paling menjanjikan dengan afinitas ikatan tertinggi.
Temuan ini membuka peluang pemanfaatan anggrek merpati sebagai bahan baku produk kesehatan berbasis hayati. Kawasan konservasi pun berperan penting sebagai sumber plasma nutfah yang menyimpan potensi senyawa bioaktif bernilai tinggi.
