Inkubator Tabung BRIN Dongkrak Produksi Benih Nila

Rekomendasi

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi inkubator telur ikan nila berbentuk tabung berbahan lokal. Inovasi itu dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas benih guna memenuhi tingginya permintaan pasar domestik.

Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Mohamad Soleh, menjelaskan alat tersebut mampu mempercepat proses penetasan telur. Telur ikan nila dapat menetas kurang dari tujuh hari sehingga siklus pemijahan induk menjadi lebih cepat.

Percepatan siklus reproduksi berdampak langsung pada peningkatan produksi benih. Hal itu penting karena permintaan ikan nila terus meningkat seiring prospek budidaya yang menjanjikan.

Menurut Soleh, ikan nila memiliki banyak keunggulan seperti adaptif terhadap kualitas air, teknologi budidaya yang sudah mapan, dan siklus panen relatif singkat 4–6 bulan. Selain itu, usaha budidaya tergolong berisiko rendah hingga sedang dan dapat dijalankan dari skala kecil hingga industri.

Harga jual yang dapat mencapai Rp30.000 per kg serta potensi keuntungan 20–40% menjadikan komoditas ini kompetitif dibanding ikan lain. Perputaran modal juga lebih cepat sehingga menarik bagi pelaku usaha.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, diperlukan benih berkualitas dengan dominasi jantan (all male atau high male). Ikan nila jantan tumbuh lebih cepat sehingga meningkatkan produktivitas budidaya.

Salah satu strategi adalah penetasan telur secara buatan menggunakan inkubator. Metode ini lebih efisien dibanding penetasan alami karena induk betina tidak perlu mengerami telur di dalam mulut selama sekitar satu bulan.

Alternatif lain ialah teknik sex reversal secara mekanis melalui perlakuan suhu tinggi atau thermal shock. Metode ini lebih cepat dibanding pemuliaan alami dan dinilai lebih aman dibanding penggunaan hormon.

Soleh menjelaskan, perlakuan suhu 33–35°C mampu menghasilkan proporsi ikan jantan yang tinggi. Larva hasil inkubasi dapat langsung digunakan sehingga proses pembenihan berlangsung berkelanjutan.

Teknologi inkubator tabung memiliki sejumlah keunggulan seperti kapasitas besar, daya tetas tinggi, ukuran larva seragam, serta operasional yang praktis. Kondisi media penetasan juga dapat dikontrol lebih optimal.

Meski demikian, keberhasilan tetap ditentukan ketelitian pembenih dalam menyeleksi telur terbuahi yang ditandai warna kuning kecoklatan. Daya tetas tinggi dan keseragaman larva menjadi kunci peningkatan produktivitas benih nasional.

BRIN menilai riset reproduksi fauna akuatik sebagai bidang strategis untuk mendukung ketahanan pangan dan konservasi. Teknologi ini diharapkan tidak hanya untuk ikan nila, tetapi juga dapat diadaptasi pada spesies akuatik lainnya.

Artikel Terbaru

Olahraga Bantu Jaga Kesehatan Otak, Jangan Duduk Terlalu Lama

Tren olahraga di kalangan anak muda dinilai dapat menjadi penyeimbang terhadap gaya hidup minim gerak akibat kebiasaan menggunakan media...

More Articles Like This