Daun ketapang asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki potensi besar di pasar ekspor. Permintaan dari negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman menunjukkan komoditas ini kian diminati pasar global.
Salah satu pelaku UMKM, Lukman, menyebut daun ketapang diekspor dalam bentuk kering sesuai ukuran permintaan. Produk itu banyak digunakan sebagai kondisioner air alami untuk akuarium ikan hias seperti cupang, guppy, dan channa.
Daun ketapang mengandung tanin yang mampu menurunkan dan menstabilkan pH air. Selain itu, sifat antibakteri dan antijamur membantu penyembuhan luka pada ikan.
Persyaratan ekspor komoditas ini antara lain bebas dari serangga hidup. Proses pengeringan dilakukan melalui penjemuran atau menggunakan alat seperti oven.
Selain daun ketapang, Lukman juga mulai mengekspor daun manggis kering meski masih terbatas. Hal itu membuka peluang diversifikasi komoditas berbasis bahan alam untuk pasar internasional.
Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Bangka Belitung terus mendorong penguatan ekspor komoditas unggulan daerah. Upaya itu dilakukan melalui program Go Ekspor dengan membuka akses pasar bagi pelaku usaha.
Melansir pada Badan Karantina Indonesia Kepala Karantina Babel, Herwintarti, menyatakan daun ketapang menjadi salah satu komoditas potensial dengan permintaan internasional yang stabil. Sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dinilai penting untuk meningkatkan daya saing UMKM di pasar global.
Data Best Trust mencatat ekspor daun ketapang mencapai 665,14 kg pada semester I 2025. Sementara pada periode yang sama tahun 2026 mencapai 646,41 kg atau turun sekitar 2,8%.
Meski terjadi penurunan, tren permintaan dinilai tetap positif. Pesanan dari luar negeri masih berlanjut sehingga peluang peningkatan ekspor tetap terbuka.
Barantin berperan sebagai akselerator ekspor dengan memastikan pemenuhan persyaratan karantina. Dukungan itu mencakup ketertelusuran produk serta jaminan kesehatan komoditas.
Melalui kolaborasi lintas sektor, Barantin mendorong hilirisasi komoditas berbasis sumber daya lokal. Langkah itu diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah dan memperkuat ekonomi kerakyatan di Bangka Belitung.
