Wednesday, January 28, 2026

Ditangkar Lalu Dilepas

Rekomendasi
- Advertisement -

Survey terbaru di Jawa yang dilakukan di 33 tempat yang dulu banyak didiaminya hanya ditemukan 32 individu di 3 lokasi. Itulah jalak putih Sturnus melanopterus Jalak putih termasuk salah satu jenis burung yang terdapat di pusat penyelamatan satwa Cikananga Wildlife Center (CWC) di Sukabumi, Jawa Barat. ‘Sekitar 10 jalak putih di sini adalah hasil sitaan,’ kata Budiharto, manajer Kesejahteraan Satwa CWC. Di CWC saat ini total terdapat 52 jalak putih. Mereka dipelihara di 2 kandang besar masing-masing seluas 224 m2 dan 288 m2.

 

Miris dengan populasi jalak putih yang terus menyusut itu, Pavel Hospodarsky sengaja datang ke CWC untuk membantu penyelamatan burung endemik Jawa dan Bali itu. Konsultan konservasi biodiversitas dari Negros Forest & Ecological Foundation Inc (NFEFI) di Filipina itu membantu program penangkaran jalak putih. Sejatinya jalak putih sudah ditangkarkan oleh peternak burung di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. ‘Tetapi jauh lebih banyak jalak putih yang ada di dalam kurungan ketimbang yang bisa dijumpai di alam,’ ujar Pavel.

Penangkaran di CWC bukan komersial seperti dilakukan peternak. ‘Jalak hasil tangkaran akan dilepasliarkan di alam. Pertama kami akan lepas di sekitar kawasan CWC dulu,’ kata Budiharto. Itu sebagai upaya mendongkrak populasi satwa yang banyak hidup di hutan dataran rendah itu.

Penangkaran burung yang hidup berkelompok itu tidak mulus. Tidak semua pasangan mau berjodoh. ‘Dari 20 pasang, baru 3 pasang yang mau bertelur,’ ujar Pavel. Padahal kandang didesain sedemikian rupa untuk meminimalisir gangguan dari luar. Setiap pasangan menempati ruangan tersendiri berukuran 1,5 m x 1,5 m dan tinggi 2,5 m. Pintu ruangan ditutup jika pasangan itu sukses kawin. Meski demikian jalak-jalak itu tetap dapat terbang ke luar-masuk ruangan melalui celah di bagian atas kandang.

Pasangan yang sukses kawin terlihat bolak-balik ke dalam nest box yang diletakkan di bagian atas kandang. ‘Mereka membawa ranting-ranting kecil, rumput, dan daun pinus untuk material sarang,’ kata Pavel. Daun pinus menjadi materi sarang favorit karena fleksibel. Sepasang jalak putih menghasilkan telur paling banyak 3 butir.

Umur 16-19 hari anak jalak putih sudah dapat terbang dan makan sendiri. Namun, ada juga yang tetap tinggal di sarang hingga 21 hari karena merasa lebih aman. Selebihnya, induk jalak mengusir anak itu ke luar sarang agar ia dapat bertelur lagi. Untuk meningkatkan jumlah pasangan kawin, jalak-jalak di CWC nantinya dipacu memilih pasangan sendiri. Sebab itu ruang besar seluas 50 m2 di tengah-tengah antarkandang disediakan sebagai tempat sosialisasi antarjalak. Dengan cara itu para jalak berkompetisi mencari pasangan seperti di habitat aslinya.

Tak hanya jalak putih yang ditangkarkan CWC. Di sana juga dibiakkan babi kutil Sus verrucosus. Satwa ini sudah langka di Pulau Jawa akibat kerusakan hutan selama 20 tahun terakhir. ‘Dulu babi kutil pernah ditemukan di Madura, tetapi mungkin sekarang sudah punah,’ ujar Dr Gono Semiadi, peneliti babi kutil dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Ciri khas babi kutil terletak pada 3 pasang gelambir dari penebalan jaringan adiposa-semacam lemak-di wajahnya. Gelambir itu mirip kutil besar. ‘Kutil yang mencolok dijumpai hanya pada jantan dewasa,’ kata doktor ilmu hewan dari Universitas Massey di Selandia Baru itu. Kutil kecil seukuran kuku jari telunjuk baru muncul menjelang puber pertama sekitar umur 8-10 bulan.

Betina dan anak babi kutil mirip babi hutan Sus scrofa. ‘Bahkan kemungkinan ada hibridisasi antara kedua jenis babi itu karena habitat yang makin sempit,’ lanjut Gono. Untuk penangkaran di CWC, induk betina berasal dari lokasi yang diketahui merupakan habitat atau pernah ditemukan babi kutil. Ini untuk memperbesar peluang diperolehnya betina babi kutil.

Di CWC kini terdapat 3 pasang induk babi kutil pinjaman Kebun Binatang Ragunan, Jakarta dan Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur. Bagong, betina silangan babi kutil dan babi hutan sudah beranak 4 ekor. ‘Tiga anak di antaranya jantan. Ini sedikit menjadi masalah,’ ujar Stephan Bulk, sukarelawan dari organisasi konservasi satwa di Jerman, Zoologischen Gesellschaft für Arten und Populationsschutz (ZGAP) yang membantu penangkaran babi kutil di CWC. Jantan jauh lebih agresif sehingga sering berkelahi satu sama lain meski sekadar main-main.

Bagong bersama 4 anaknya ditempatkan di kandang seluas lebih dari 500 m2. Kandang itu dibuat mirip habitat babi, penuh semak dan ditanami rumput gajah. ‘Di sini rumput gajah merupakan pakan babi kutil selain nasi, jagung, singkong, kacang, semangka, dan ikan segar,’ ujar Stephan.

Di setiap area dibangun kolam untuk tempat babi mandi kala cuaca panas. Menurut Stephan beberapa babi kutil terlihat pintar. Mereka mampu menggali lubang untuk jalan melarikan diri ke luar pagar. Babi-babi itu juga bisa membuat sarang tempat tidur sendiri. Mereka mengumpulkan patahan ranting yang masih berdaun dan ditumpuk menjadi satu di bawah naungan pohon. Ini rupanya cara mereka agar betah di dalam kandang penangkaran. (Tri Susanti)

Jauh lebih banyak jalak putih yang ada di dalam kurungan ketimbang yang bisa dijumpai di alam,’ kata Pavel Hospodarsky konsultan konservasi biodiversitas Negros Forest & Ecological Foundation (NFEFI) di Filipina

Populasi jalak putih di alam susut 79% selama satu dekade

< Babi kutil jantan dewasa memiliki 3 pasang gelambir di kepala

Anak jalak putih di dalam sarang daun pinus

Kandang jalak putih dilengkapi ruangan besar untuk tempat sosialisasi

Foto-foto: Tri Susanti

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img