Wednesday, June 26, 2024

Dosen Di Universitas Samudra Teliti Ragam Tumbuhan Obat Di Aceh Timur, Terdapat 88 Spesies Tumbuhan Obat

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Peneliti di Program Studi Biologi, Fakultas Teknik, Universitas Samudra, Kota Langsa, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Zidni Ilman Navia, S.Si, M.Si., dan tim mengkaji tumbuhan obat dan pengetahuan tradisional masyarakat lokal.

Lokasi pengkajian di sekitar hutan lindung Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Hasil penelitian di 15 desa di Kecamatan Serbajadi menunjukkan bahwa terdapat 88 spesies tumbuhan obat dari 46 famili teridentifikasi.

Famili Asteraceae dan Lamiaceae menyumbangkan spesies obat terbanyak dengan masing-masing 8 spesies. Penelitian lain menemukan bahwa Asteraceae dan Lamiaceae merupakan famili yang dominan dengan 5—15 spesies tumbuhan obat di Kabupaten Aceh Selatan.

Dominasi Asteraceae mungkin karena famili itu mengandung beragam senyawa aktif biologis dan merupakan famili terbesar dalam kerajaan tumbuhan. Namun penelitian lain menemukan bahwa Zingiberaceae dan Euphorbiaceae lebih dominan daripada yang lain.

Penggunaan spesies tanaman sama di lokasi berbeda mungkin disebabkan oleh penyebarannya yang luas, untuk tujuan tertentu, atau pengetahuan tradisional rahasia yang dijaga dengan ketat.

Babandotan (Ageratum conyzoides) memiliki nilai setiap jenis tumbuhan secara lokal atau relative frequency of citation (RFC) tertinggi yakni 0,97.

Nilai RFX. tertinggi berikutnya yaitu bunga lede (Pseuderanthemum variabile) (0,94), sirih hutan (Piper crocatum) (0,94), sirih merah (Piper ornatum) (0,93), tongkat ali (Eurycoma longifolia) (0,92), dan mundu (Garcinia bancana) (0,92).

Nilai penggunaan atau use value (UV) tanaman obat mencapai 0,02—0,99. Jeringau (Acorus calamus) memiliki nilai penggunaan tertinggi sebesar 0,99.

Nilai penggunaan tertinggi lainnya yaitu pegagan (0,98), jotang kecil (Acmella uliginosa) (0,97), kirinyuh (0,95), salam (Syzygium polyanthum) (0,94), dan sirih hutan (0,94).

Dengan kata lain enam tanaman obat itu merupakan spesies paling penting dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat lokal di sekitar hutan lindung Kecamatan Serbajadi.

Pasak bumi (Santiria rubiginosa) dari famili Burseraceae memiliki nilai penting relatif paling rendah dan jeringau dari famili Acoraceae paling tinggi. Masyarakat menggunakan rimpang jeringau sebagai obat sakit perut dan diare.

Tingkat kesepakatan atau informant agreement ratio (IAR) para responden mengenai pemanfaatan tumbuhan mencapai 0,75—1,0. Sebagai terapi demam, asam urat, sakit perut, diare, luka, asma, batuk, perut kembung, alergi, dan penyakit kulit, spesies-spesies itu memiliki tingkat kesepakatan tertinggi.

Terdapat 32 penyakit dalam 14 kategori yang terdokumentasikan selama penelitian. Penyakit paling umum yakni penyakit infeksi dan parasit tertentu (821 laporan penggunaan, 33 spesies). Penyakit yang kerap menyerang lainnya yakni gangguan pencernaan, dan peredaran darah.

Nilai ICF berkisar antara 0,8 hingga 0,992. Sebagian besar kategori penyakit memiliki nilai informant consensus factor (ICF) yang tinggi. Kategori itu meliputi penyakit gangguan mental dan perilaku (0,992) serta penyakit pada sistem muskuloskeletal dan jaringan ikat (0,981).

Sementara ICF terendah yakni penyakit sistem pernapasan (0,800). Nafsu makan penyakit spesifik yang memiliki nilai ICF tinggi. Menurut responden nafsu makan sering terjadi pada anak-anak berusia kurang dari lima tahun.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Via Indonesia Tuna Investment and Business Forum, KKP Pacu Investasi Hulu Hilir Ikan Tuna

Trubus.id—Peluang usaha komoditas ikan tuna terbuka lebar seiring meningkatnya tren perdagangan tuna cakalang tongkol (TCT) di pasar global. Melansir...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img