Tuesday, January 27, 2026

Dua Alat Pendeteksi Ganoderma pada Tanaman Sawit, Upaya Kendalikan Penyakit Lebih Dini

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id–Prof. Dr. Yudan Whulanza S.T., M.Sc., dan tim dari Departemen Teknik Mesin, Fakultas  Teknik, Universitas Indonesia, mengembangkan alat deteksi cepat ganoderma menggunakan peranti deteksi DNA portabel. 

Sejatinya, saat ini telah berkembang deteksi berbasis marka molekuler menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi cepat adanya infeksi ganoderma. Sayang penggunaan instrumen PCR relatif sulit dilakukan di lahan. 

Selain harga instrumen mahal, pengoperasian PCR membutuhkan beberapa tahapan dan alat yang dikerjakan oleh tenaga laboratorium dengan keahlian tertentu. Atas dasar itulah Yudan dan tim mengembangkan peranti deteksi molekuler dengan teknologi miniaturisasi sehingga alat lebih portabel dan praktis.

Alat pendeteksi ganoderma portable karya Prof. Dr. Yudan Whulanza S.T., M.Sc dan tim. (Dok. Yudan Whulanza)

Yudan menuturkan terdapat tiga fitur utama pada peranti itu yakni modul preparasi sampel, modul ekstraksi, serta modul amplifikasi dan deteksi secara optis. Yudan menggunakan daun sebagai sampel. Hanya diperlukan sekitar 0,3 gram sampel padat yang digerus secara mekanis. 

Pada modul preparasi, sampel padat menjadi cairan. Selanjutnya pada modul ekstraksi Yudan menggunakan prinsip penangkapan DNA pada microbead magnet dengan mengalirkan cairan sampel bolak-balik. Ia menggunakan teknologi lab on chip untuk menggantikan ekstraksi konvensional.

Sementara modul amplifikasi menggunakan thermocycler yang terverifikasi dan deteksi secara optis membuat peranti makin ringkas. Saat ini Yudan dan tim terus menyempurnakan alat itu.

Ia berharap inovasi itu juga dapat menentukan seberapa jauh penyebaran ganoderma di suatu kebun. Baca juga Indonesia Darurat Ganoderma.

Dalam jurnal Menara Perkebunan, Agustin Sri Mulyatni dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia,  menyatakan, salah satu kunci sukses pengendalian penyakit busuk pangkal batang akibat Ganoderma sp. yakni pekebun mengetahui sedini mungkin adanya serangan patogen itu.

Agustin dan rekan pun mengembangkan electronic nose (E-nose). Peranti itu terdiri dari beberapa sensor kimia yang diguunakan berbarengan dengan perangkat lunak pengenalan pola. 

Cara kerjanya mirip indra penciuman. Jadi, E-nose mendeteksi senyawa organik volatif yang dihasilkan ganoderma untuk menentukan ada tidaknya ganoderma pada sawit. 

Hasil penelitian yang termaktub  dalam jurnal Menara Perkebunan itu menunjukkan bahwa E-nose 118 bisa mendeteksi serangan penyakit pangkal batang pada tingkat infeksi parah.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img