Monday, November 28, 2022

Duel 2 Buaya di Kota Buaya

Rekomendasi

 

Duel 2 penguasa perairan tawar itu tak meneteskan darah setitik pun. Kedua buaya itu bukanlah reptil sungguhan, tapi 2 adenium unik kreasi yang bertarung sengit. Buaya hitam pernah menggegerkan komunitas adenium Indonesia saat menang di kontes adenium Tulungagung, Agustus 2007. Ketika itu buaya hitam mengalahkan ular dari Kediri. Sementara buaya hijau pernah mengagetkan publik Semarang, Jawa Tengah, 3 bulan silam. Reptil bermulut lebar itu mengalahkan kura-kura dari Surabaya. ‘Kini 2 buaya itu saling bertarung,’ kata Supriyanto, juri asal Ponorogo, Jawa Timur.

Buaya hitam lebih unggul. Tiga juri-I Gede Suyono, Bali; Supriyanto, Ponorogo; dan Destika Cahyana, Jakarta-sepakat menobatkan koleksi Sulisdyanto sebagai kampiun. ‘Ekspresinya sebagai buaya betul-betul muncul. Tingkat kesulitan membuatnya lebih tinggi,’ kata Gede. Toh, bukan berarti buaya hijau punya segudang kelemahan. Sejatinya, penampilan buaya hijau jauh lebih baik ketimbang saat berlaga di Semarang. Cabang yang tumbuh di mulut telah dipangkas. Maklum, posisi cabang di bibir kurang mendukung tema. Koleksi Aldika dari Klaten itu mesti takluk karena lawannya lebih ekspresif.

Di posisi ketiga bertengger kura-kura-pesaing buaya hijau di Semarang-milik Kevin dari Surabaya. ‘Kura-kura kalah matang, apalagi letak tumbuh cabang di tengkuk menghalangi fokus,’ kata Gede. Sementara di kelas unik alami, tebing milik Saudi dari Kediri tak terkalahkan. Korban leak dan gajah tak mampu menggoyahkan kedudukan mantan jawara di berbagai kontes itu. Keduanya pun mesti puas di posisi kedua dan ketiga.

Grand champion

Pertarungan yang tak kalah seru terjadi saat perebutan gelar grand champion di tahapan 18 (semua komponen pohon: akar, batang, cabang, ranting, daun, dan bunga lengkap red) di kelas bintang. Maklum, kontes yang digelar Indonesia Adenium Club itu dibagi 2: kelas bintang dan kelas pemula. Peserta kelas bintang umumnya mantan kampiun 1-3 di berbagai kontes.

Tiga adenium: ra chinee pandok, obesum berbatang atas ra chinee pandok, dan thai socco bersaing ketat. ‘Ketiganya yang terbaik di kelas masing-masing. Semuanya tampil dengan bunga mekar,’ kata Supriyanto. Akhirnya, hasil penilaian detail 3 juri menempatkan ra chinee pandok dari Situbondo sebagai grand champion.

Peraih Adenium National INA Championship 2007 pada ajang Trubus Adenium Contest dan grand champion di kontes adenium Kediri 3rd National Flora Expo itu meraih gelar serupa untuk yang ketiga kali. Harry, sang pemilik asal Situbondo, pun menggondol uang pembinaan Rp5-juta. ‘Prestasi luar biasa. RCN itu layak menjadi adenium paripurna karena telah melegenda. Tak perlu lagi terjun ke kontes biasa, kecuali sudah digelar grand prix tahunan,’ ujar Supriyanto. Menurut Supriyanto, kemenangan ra chinee pandok sebagai grand champion dan buaya hitam di kontes yang diikuti 160 peserta dari Jawa Tengah dan Jawa Timur itu membuktikan, adenium berkualitas tetap menjadi primadona. (Destika Cahyana)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img