Monday, August 8, 2022

Durian : Raja Jepara dan Bulungan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kota Jepara memang gudangnya durian enak. Tengok saja hitunghitungan ini. Setiap lomba minimal menghasilkan 3 pemenang. Artinya, dari 16 kali kontes diperoleh 48 durian lezat. Angka itu hampir setara dengan jumlah durian varietas unggul nasional yang dilepas sejak 23 tahun silam. Dari jumlah itu petruk paling terkenal. Daging buah kuning, tebal, dan berbiji kecil. Namun, pohon petruk mati tak lama setelah dilepas sebagai varietas unggul nasional. Pohon meranggas karena entres yang diambil untuk perbanyakan terlalu banyak.

Untuk menggantikannya, ‘Ada 3 jenis yang bakal dirilis sebagai simbol Jepara,’ kata Ir Tri Handana T, kepala seksi Hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan, Jepara. Ketiganya, sukarman, sutriman, dan subandi. Yang disebut pertama kering, legit, dan pulen. Pun sutriman dan subandi. Selain manis keduanya lembut.

Saking banyaknya durian top di Jepara banyak mania luar kota berburu ke sana. Sebut saja Chandra Gunawan dan Ricky Hadimulyo. Keduanya rela terbang dari Jakarta pada penghujung Desember 2006 demi mencicipi durian jepara. ‘Yang tidak juara saja rasanya enak. Apalagi yang jawara, sulit diungkap dengan kata-kata,’ kata Chandra. Ia menyebut tarmin alias sutarmin sebagai durian terenak yang pernah dicicip. Durian tarmin kuning, kering, dan tebal. Bila dicicip rasa manis tak hilang selama 15-30 menit.

Pendapat H Suyono Alwi, hobiis durian yang kerap menjadi juri lain lagi. ‘Di antara para juara, yang paling pulen, legit, dan enak durian karman atau sukarman,’ katanya. Konon durian itu sangat kering sehingga bila dimasukkan ke dalam saku tak melekat. Namun, bila dicecap lidah, rasa manis dan legitnya lengket dan tak gampang hilang.

Pascapetruk

Kelezatan karman membuat Trubus rela menembus hujan lebat ke Desa Bawu, Kecamatan Batealit, Jepara, pada penghujung Desember 2006. Letaknya sekitar 12 km ke arah timur dari pusat kota. Di sana pohon durian setinggi 25 m tumbuh di belakang rumah Sukarman, sang pemilik. Lingkar batang mencapai 2 pelukan orang dewasa. Toh, cabang paling bawah yang mendatar masih bisa disentuh karena tinggi hanya 1,5 m. Empat durian karman yang berlekuk-lekuk tampak bergelayutan. Sayang, buah belum matang sehingga tak bisa dicicipi.

Menurut Sukarman, pohon yang umurnya di atas 70 tahun itu masih produktif. Setiap tahun dipanen 150-300 buah berbobot 1-1,5 kg. Bila musim tiba Durio zibethinus itu dihargai Rp7.500-Rp20.000 per buah tergantung bobot. ‘Musim lalu (2005, red) saya dapat Rp4-juta,’ ujarnya. Artinya, tahun lalu dari pohon itu minimal dipanen 200 buah. Kakek itu berjanji mengabari Trubus bila durian andalannya matang pada Januari.

Sebulan berselang Sukarman menepati janji. Melalui Nur Mualief, mania durian di Jepara, 4 buah durian karman dikirim ke redaksi. Aroma harum menguar sejak buah tiba. Kerabat lai yang berlekuk seperti belimbing pun dibelah. Benar saja, daging buah yang agak kekuningan itu kering. Rasanya, ‘Legit dan pulen. Enaknya setara dengan tong medaye,’ kata Evy Syariefa, juri lomba durian Trubus. Yang disebut terakhir durian terbaik dari Narmada, Nusa Tenggara Barat. Pantas Alif berani berkomentar, karman durian paling enak di seantero Jepara setelah petruk yang melegenda.

Bulungan

Lain Jepara lain pula di Bulungan, Kalimantan Timur. Di sana kondang lai antutan-kerabat durian-nan lezat. Lazimnya, lai Durio kutejensis hanya menarik karena warna daging kuning. Soal rasa ia kalah lezat dengan Durio zibethinus. Namun, lai antutan, ‘Manis seperti durian biasa. Aromanya saja lebih lembut,’ ujar Luthfi Bansir, staf Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan. Lantaran itu lai antutan cocok buat yang suka durian tapi tak tahan bau. Di pentas nasional lai antutan dikenal dengan sebutan durian kayan. Varietas unggul nasional yang dirilis pada 2004.

Saat muncul ke pentas nasional pada 2002, lai antutan sempat dianggap sebagai silangan alami antara kutejensis dan zibethinus. Namun, setelah pengamatan lebih intens ternyata sosok tanaman lai antutan lebih menyerupai kutejensis. ‘Setelah diamati, ia memang lai. Sosok daun lebar dan besar. Tak ada ciri-ciri zibethinus kecuali rasanya,’ kata Luthfi . Daun zibethinus cenderung lebih sempit agak memanjang.

Penelusuran Trubus, selain lai bercitarasa durian itu, Bulungan punya durian enak lain. Di sana ada durian berayut yang menjadi favorit warga di tepian Sungai Kayan, Kalimantan Timur. (baca: Durian Bulungan Saat Purnama Manjakan Lidah, Trubus Mei 2005). Saking terkenalnya jaatu-bahasa dayak untuk durian-berayut, ia melanglangbuana hingga ke Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img