Lima durian terbaik hasil eksplorasi. Daging buahnya kering, lembut, lengket, dan manis.

Trubus — Siblih bukan hanya sebutan untuk kakak laki-laki di Bali atau ikan Capoeta padangensis yang lezat. Pemilik pohon durian Desa Suruhtembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, memberikan nama si bilih untuk pohonnya. Sosok buah tidak besar. Bobotnya hanya 1,25 kg. Bila dimakan dua orang pasti akan habis dalam sekejap karena cita rasanya yang manis, gurih, dan sedikit pahit.

Menurut pendiri Yayasan Durian Nusantara, Dr. Reza Tirtawinata, M.Si. durian si blih menjadi yang terbaik dari 12 buah hasil eksplorasi pada 7—9 Januari 2020. Peserta kegiatan itu adalah pengusaha dari Batang Agro Kreatif, Tri Yanuar, S.E., peneliti durian dari Universitas Negeri Semarang, Prof. Dr. Ir. Amin Retnoningsih, M.Si, dan petani lokal, Zulfikar.
Rasa istimewa

Menurut Reza Tirtawinata daging buah tanaman famili Malvaceae itu berwarna kuning seperti rimpang kunyit. Bijinya kecil karena daging buahnya tebal dan bernas. “Daging buahnya kering, lembut, halus, kental, lengket, manis, ada pahit kadang di ujung, ada sensasi pedar sedikit, sepintas seperti rasa ochee,” kata Kepala UPT Pembenihan Tanaman Pangan (UPTPTP) Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kalimantan Barat, Anton Kamaruddin, S.P., M.Si.
Durian terbaik kedua yakni durian si kuning. Bila lazimnya durian matang berwarna kekuningan, kulit buah durian si kuning itu berwarna hijau cerah dan amat bersih. Cita rasanya manis dan gurih. “Melihat dari kondisi buah yang agak susah dibelah, si kuning ini sepertinya cocok dikembangkan untuk ekspor,” kata Reza. Adapun durian terbaik lainnya yakni si sibu, si tieg, dan si slakuh.

Zulfikar amat berharap durian lokal yang cita rasanya tak kalah juara dengan durian asal luar negeri itu dapat dikembangkan. “Targetnya dalam 3—5 tahun ke depan, petani sudah bisa membuat bibit sendiri. Diperbanyak, dan sudah bisa merawat hingga pohon berbuah,” kata petani durian itu. Menurut Zulfikar antusiasme masyarakat setempat pun amat tiggi. Sayangnya, keterbatasan pengetahuan dan kemampuan memperbanyak durian masih minim.
Harap mahfum, Desa Suruhtembawang belum mendapatkan akses lalu lintas yang memadai. Warga memerlukan waktu 7 jam bermobil menuju Pontianak. Menurut Reza amat riskan bila petani membawa hasil panen buah Durio zibethinus itu sampai ke Kota Pontianak. Khawatir kondisi buah menurun dan memengaruhi cita rasa meskipun harga jual bisa mencapai Rp50.000 per buah.

“Karena aksesnya yang sulit, selama ini petani hanya menjual ke masyarakat setempat. Harga juga anjlok. Satu buah durian paling hanya dihargai Rp3.000— Rp5.000,” kata doktor Pertaian alumnus Istitut Pertanian Bogor itu. Desa Suruhtembawang menjadi titik penelusuran durian karena lokasinya merupakan salaha satu hulu dari sungai Setayam yang berada di Desa Balaikarangan. Desa itu sudah lama masyhur sebagai sentra durian.

“Tentu akan banyak harta karun terpendam yang akan kami temui dan ternyata benar,” kata Reza. Selain durian-durian lezat, peserta eksplorasi juga menemukan durian bercita rasa unik seperti milik Verawati. Pohon miliknya menghasilkan buah durian yang bercita rasa mirip nangka. Sayangnya, Verawati belum menamai durian itu. Ada pun durian lain yang bercita rasa seperti jeruk sunkist.
Menurut Reza, bila bibit durian unik itu dikembangkan, akan ada segmen pasar tersendiri yang tercipta. Zulfikar berharap dengan adanya pelatihan, petani di Desa Suruhtembawang dapat menjadi salah satu sentra durian di Kalimantan Barat. Menurut Reza pintu ekspor amat terbuka lebar khususnya ke negara tetangga, Malaysia. Harapannya harga jual akan lebih baik karena perbedaan nilai tukar mata uang dan jarak tempuh yang relatif lebih singkat. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)
