Thursday, May 14, 2026

Avokad Top dari Kota Badak

Rekomendasi
- Advertisement -

Avokad baru dari Pandeglang, Banten, berdaging buah lembut, gurih, dan manis.

Daging buah avokad cengkho gurih dan mudah dikupas seperti pisang.

Trubus — Pohon berumur minimal 40 tahun itu menjulang tinggi di tepi ruas Jalan Raya Labuan, Provinsi Banten. Pemiliknya, Virgilius, memetik 800 buah setiap musim panen. “Setahun bisa 2 kali panen pada awal dan tengah tahun,” kata pengusaha yang sehari-hari beraktivitas di Pasar Pandeglang, Provinsi Banten itu. Virgilius— kerap dipanggil Engkoh—mendapat pohon itu telah tumbuh dan berbuah saat membeli rumah pada 1983 tanpa diketahui asal-usul varietas.

Pohon itu tumbuh di ketinggian 270 m di atas permukaan laut. Setiap kali panen, Virgilius membagikan buah kepada kerabat, tetangga, maupun tamu. Itu berulang selama 37 tahun. Virgilius tak menyadari avokad miliknya tergolong istimewa: kulit buah merah bersih saat matang, daging buah gurih, dan mudah dikupas layaknya mengupas pisang. “Cocok untuk buah meja,” kata Andri Priana, penangkar buah di Pandeglang.

Kalahkan miki

Avokad viola berdaging buah gurih dan lezat. Perlu diuji kepastian keturunan cengkho.

Andri bersama E Abdul Rosyid dan Heri Nugraha menemukan avokad itu pada 2019. “Kami bertiga hobi berburu avokad,” kata Andri—tergabung dalam Komunitas Alpukat Nusantara (Alnusa) yang terkoneksi dengan pencinta avokad di Indonesia. Kebetulan Black, sapaan Abdul, seorang pengusaha kuliner— termasuk jus buah—sehingga memahami kualitas buah yang disukai pasar.

Ia paham betul kualitas avokad yang ditemui di pasaran beragam sehingga seleksi pohon penting untuk mendapatkan buah berkualitas. “Hampir semua kecamatan kami datangi untuk berburu avokad terbaik, nyatanya avokad pilihan malah dekat rumah kami,” kata Black. Ketiganya menamai avokad itu cengkho. Itu akronim dari nama kampung tempat tumbuh avokad yakni Ciekek Karaton dan pemilik pohon, Engkoh sehingga menjadi cengkho.

Andri mengirimkan avokad itu ke kontes di Festival Bunga dan Buah Nusantara (FBBN) 2019 di Kabupaten Bogor. Tujuannya untuk memastikan kualitas cengkho. Buah anggota keluarga Lauraceae itu berhasil meraih juara mengalahkan avokad miki.

“Kami penasaran ingin mendengar kisah kemunculannya,” kata Hevy Satria Anom, pengembang avokad miki di Depok, Jawa Barat. Menurut Ketua Yayasan Alpukat Nusantara, Dr. Reza Tirtawinata, yang juga menjadi juri di FBBN, cengkho berhasil meraih juara karena momentum saat disajikan di lomba tepat.

Tanpa ulat

Bentuk buah Persea americana itu juga seperti avokad pada umumnya yang seperti labu siam dengan bobot mayoritas 400—600 gram. Menurut Virgilius pohon avokad cengkho tidak pernah terserang ulat hingga tajuknya gundul.

Virgilius di dekat pohon avokad cengkho berumur 40 tahun. Pohon tidak pernah mengalami serangan ulat.

Reza Tirtawinata mengatakan, serangan ulat belum ditemukan mungkin karena populasi avokad dengan umur yang setara masih jarang. “Memang ada ulat, tetapi tidak mengganggu. Bila mengganggu sudah kami tebang sejak lama,” kata Virgilius. Keberadaan pohon cengkho milik Virgilius membuat penangkar buah, Eddy Soesanto, penasaran. Harap mafhum, semula Pandeglang (kerap disebut Kota Badak) bukan sentra avokad.

Apalagi Virgilius hanya membagikan buah berkualitas kepada tetangga dan kerabat. Eddy menduga, besar kemungkinan keturunannya tersebar di seputaran pohon induk tanpa terkontaminasi varietas lain. Prediksi Eddy benar. Bersama beberapa rekan dari Komunitas Alpukat Nusantara (Alnusa), Eddy menyusuri kampung di sekitar rumah Virgilius. Ia menemukan pohon berumur 25 tahun. Pohon tumbuh di pekarangan rumah Gumulya. “Saya menanamnya setelah mendapat buah dari Virgiius. Ketika itu rasa avokad darinya beda dengan avokad kebanyakan,” kata Gumulya. Kontraktor itu menanam 2 biji di belakang rumah dan 1 biji di kebun. Dari 3 biji ditanam hanya 1 pohon yang terasa buahnya lezat seperti cengkho karena bertekstur halus.

Avokad mias

Eddy meminta, Dinno MD, anggota Komunitas Alpukat Nusantara (Alnusa) yang dianggap netral untuk menilai avokad dari pohon yang ditunjuk Gumulya. Hasil penilaian Dinno, avokad milik Gumulya juga istimewa: kulit buah merah ketika matang, mudah dikupas, dan bagian buah yang dapat dimakan alias porsi yang dapat dikonsumsi 90%. “Rasanya lebih gurih sehingga agak berbeda dengan cengkho,” kata Dinno.

Keturunan dari cengkho yang kualitasnya tak kalah dari induknya. Porsi yang dapat dikonsumsi lebih tinggi dari cengkho.

Gumulya melabeli avokad miliknya dengan nama mias. Itu diambil dari nama ketiga anaknya yaitu Mila, Asti, dan Tia. Dinno juga mendapat informasi dari pehobi buah di Pandeglang, Rizal Fahlevi, ada avokad unggul lain. “Saya mendapat buah dari teman kantor dengan kulit merah ketika matang dan gurih meskipun dikonsumsi segar,” kata Rizal.

Ia meminta Dinno— sebagai perwakilan Komunitas Alpukat Nusantara—untuk datang menguji kualitas buahnya agar tidak subjektif. Pohon yang ditunjuk Rizal hanya berjarak sekitar 4 km dari kediaman Virgilius. Pemilik pohon, Medi, mengatakan, pohonnya baru berumur 19 tahun dari biji yang ditanam oleh ibundanya.

Buah juga berkulit merah, mudah dikupas, dan gurih serta manis. Medi menamai avokadnya viola karena berwarna merah saat matang. Menurut Eddy ketiga avokad istimewa di Pandeglang itu kini tengah menjadi pusat perhatian para praktisi buah. “Bila mias sudah terbukti keturunan cengkho, tetapi untuk viola harus diuji apakah keturunan cengkho atau berbeda sama sekali,” kata Eddy. Mias dan viola juga harus diuji produktivitasnya sehingga tak serta-merta dapat disebut avokad unggul. (Destika Cahyana)


Artikel Terbaru

PFI Perkuat Peran Filantropi sebagai Penggerak Solusi Nasional dalam Rapat Umum Anggota 2026

Trubus.id – Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menegaskan peran strategis filantropi sebagai penggerak solusi atas berbagai tantangan pembangunan nasional dalam Rapat...

More Articles Like This