Thursday, August 18, 2022

Durian Top Nusantara

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Si kompeng, peringkat ke-2kontes durian Bangka Barat pada Januari 2013, berasa istimewa dengan kombinasimanis dan agak pahit serta daging buah creamy
Si kompeng, peringkat ke-2 kontes durian Bangka Barat pada Januari 2013, berasa istimewa dengan kombinasi
manis dan agak pahit serta daging buah creamy

Durian-durian unggul baru yang muncul dari kontes dan hasil eksplorasi ke berbagai sentra. Citarasa, ketebalan daging buah, dan warna, jadi barometer.

Tamu itu terbang dari Jakarta ke bandara Depati Amir di Kota Pangkalpinang, ibukota Provinsi Bangka Belitung. Ia meneruskan perjalanan dengan bermobil ke Jebus, Kabupaten Bangka Barat, selama 2 jam. Sang tamu menemui Anto, pemilik durian kambang, dan menyodorkan uang tunai Rp750.000 untuk dua durian jatuhan berbobot rata-rata 6 kg per buah. Dengan harga Rp375.000 per buah, durian itu termahal di tanahair.

Padahal, biasanya pemilik pohon durian kambang di halaman rumah itu paling banter menjual Rp50.000 per buah. Harga melonjak fantastis  setelah para juri menabalkan kambang sebagai durian terbaik pada sebuah kontes di Kecamatan Jebus pada November 2012. Durian juara itu berdaging buah tebal, mencapai  1,5—1,6 cm dengan rasa kombinasi manis dan agak pahit.

Obat kangen

Menurut pengamat durian asal Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, yang menjadi salah satu juri pada kontes itu, Karim Aristides, “Meski daging buah kambang tergolong basah, tapi rasanya lembut dan creamy.” Daging buah jingga pucat. Pascakontes itulah datang tamu dari Jakarta. Ia utusan Angga, warga Bangka yang menetap di Jakarta untuk mencari durian enak di sentra Jebus yang sohor sebagai gudangnya durian enak.

Nama kambang yang baru menjadi juara pun sampai di telinga Angga. Mula-mula Anto memberi sebuah durian sebagai contoh untuk dibawa sang tamu ke Jakarta. “Kalau rasanya memuaskan,  baru berunding soal harga,” ujar Anto kepada tamunya itu. Beberapa hari berselang, tamu itu kembali ke Jebus untuk membeli kambang. Menurut pekebun durian di Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Nurhulis, banyak warga Bangka yang berdomisili di Jakarta membeli durian ke Bangka saat musim buah tiba.

“Biasanya mereka pesan ke kolega atau saudara yang tinggal di Bangka,” ujar Nurhulis. Ada juga yang sengaja datang sekadar mencicip durian di kampung halaman. Durian asal Pulau Bangka memang selalu membuat rindu setiap orang yang pernah mencicipnya. Karim Aristides terpikat pada  durian cakar elang yang pernah ia cecap pada Agustus 2012. “Rasanya juara, manis kombinasi pahit, teksturnya kering serta lengket di tenggorokan saat ditelan. Warna juga cantik, jingga,” ujar Karim yang berkali-kali datang ke Bangka.

Pulau Timah memang bertabur durian lezat, bahkan di kedai di pinggir jalan sekalipun. Pada pertengahan Januari 2013,  di sepanjang jalan Jelutung, Kota Pangkalpinang, ramai oleh pedagang durian, terutama menjelang petang. Di lapak milik Musliman, para maniak dengan mudah memperoleh durian berdaging buah jingga yang menjadi incaran.

Para pedagang kerap menyebut durian berdaging jingga dengan sebutan tembaga. Menurut periset di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu), Panca Jarot Santoso SP MS, durian asal Bangka-Belitung rata-rata berwarna menarik. Pada kontes durian pada pertengahan Januari 2013,  misalnya, banyak ditemukan durian berdaging jingga. Di Pangkalpinang pasokan durian sebagian besar datang dari kawasan Tanjungtedung, Kecamatan Sungaiselan, Kabupatan Bangka Tengah, dua jam bermobil dari Pangkalpinang.

Warna atraktif

Jarot mengatakan varian durian berdaging buah kuning juga tinggi di Bangka. “Hanya saja ketebalan  daging buah masih kalah dengan durian dari Balaikarangan,” ujar Jarot. Arena kontes kerap melahirkan durian juara yang melegenda. Sebut saja namlung petaling—juara pada 2000—yang berdaging buah tebal, bercitarasa manis dan gurih yang pernah menjadi durian termahal.

Dari kebun Nurhulis seluas 10 ha juga muncul durian supertembaga. Meski baru buah perdana, tetapi daging buah tebal dan rasanya manis kombinasi pahit dengan sedikit serat, tapi tetap lembut dan creamy. Pohon di kebun Nurhulis hasil perbanyakan vegetatif dari pohon induk milik Budi Halim di Kecamatan Jebus. Apa yang menyebabkan daging buah durian asal Bangka berwarna atraktif?

Peneliti durian dari Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, Dr Lutfi Bansir SP MP, menduga warna atraktis karena faktor genetik atau juga pengaruh kandungan mineral dalam tanah. Bangka merupakan pulau yang memiliki banyak pantai. Tiupan angin laut membawa butiran air laut yang kaya mineral seperti belerang dan magnesium memunculkan variasi warna pada durian. “Variasi warna yang dihasilkan cenderung kuning hingga jingga,” ujar doktor alumnus Universitas Brawijaya itu.

Meski begitu sedikit yang tahu bila Pulau Bangka punya durian-durian maknyus. Pulau itu menyimpan durian enak yang belum populer, tanpa nama, tetapi bermutu dalam warna dan rasa. David Ho di Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, menyodorkan dua durian berdaging buah berwarna kuning mentereng, hampir mendekati musang king asal Malaysia. Biji memang besar, tetapi daging buah relatif tebal, yakni 1,5 cm. Rasanya manis kombinasi pahit dengan tekstur kering dan creamy.

Menurut Karim selama ini yang banyak memesan durian dari Bangka adalah orang Bangka yang merantau seperti di Jakarta. Padahal, dari letak geografis Bangka strategis karena relatif dekat dengan pasar seperti Jakarta dan Sumatera. “Oleh karena itu Bangka sangat prospektif jika dikembangkan menjadi sentra durian,” ujar Karim.

Sentra terbaik

Para ahli sepakat Balaikarangan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, sebagai lumbung durian enak. Rata-rata daging buah tebal, rasa manis, tapi warna cenderung pucat. Dari sentra itu hingga kini bermunculan varian baru yang tergolong unggul seperti desiton berdaging jingga, tebal, dan pongge-pongge yang gemuk. Ada juga slipi yang berdaging tebal. Beberapa durian top lainnya belum bernama. Pohon-pohon durian lezat asal Balaikarangan menyebar hingga ke Entikong, tapal batas Indonesia—Malaysia.

Durian mara asal Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, juga layak mendapat acungan jempol. Hasil temuan peneliti durian dari Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan,  Dr Lutfi Bansir SP MP, itu berdaging buah kuning cerah, manis sedikit pahit, dan lengket di lidah. Ada lagi durian antutan yang diduga hasil persilangan alami antara durian Durio zibethinus dan lai D. kutejensis.

Antutan berdaging kuning cerah, tapi memiliki biji berwarna cokelat tua yang menjadi ciri khas kutejensis. “Dilihat dari bentuk duri, rasa, dan aroma mirip zibethinus,” ujar Lutfi. Varian hibrida lainnya adalah durian berdaging buah jingga mirip kutejensis, tapi lembut dengan citarasa daging buah mirip zibethinus. Keistimewaan lain bijinya mungil, seperti biji kurma.

Durian janar milik Sahdin di Desa Peluruan, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, juga istimewa. Mayoritas biji janar kempis, hingga seukuran uang logam Rp500. Rasanya, “Lembut seperti es krim. Lidah seperti berenang saat menikmatinya,” kata Setio Pamuji, maniak durian di Kabupaten Banjar. Daging buah manis dengan sedikit pahit di ujungnya. Di lapak Fahrurozi, harga janar berbobot  1,2 kg mencapai Rp50.000, yang berukuran 2 kg Rp80.000. Saat panen raya, harganya Rp40.000—Rp60.000.

Tidak dikenal

Pemukiman suku Baduy di Desa Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, juga menyimpan durian enak. Di kawasan suku Baduy pohon-pohon Durio zibethinus tumbuh di hutan-hutan sekitar pemukiman. Hampir semua pohon durian di sana berasal dari biji. Sebagian besar durian berdaging putih, tetapi bukan berarti tidak ada durian berwarna menarik.

Di kediaman Jali, misalnya, Trubus mendapatkan durian berdaging kuning. Daging buah memang tipis, kurang dari 1 cm, tetapi rasanya cocok untuk para maniak durian: manis dan agak pahit, lembut, serta nyaris tanpa serat. Untuk pemula maniak, silakan mencicipi durian hasil “temuan” Mim Muhamad yang rasanya dominan manis. Penangkar bibit tanaman buah di Bogor itu menemukan durian berdaging kuning, mirip durian matahari, di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Mim menemukan durian unggul itu di antara tanaman monthong di sebuah kebun. Dari puluhan pohon durian monthong, Mim menemukan dua tanaman yang buahnya berbeda, manis khas. Citarasa keduanya jauh dari monthong yang cenderung manis dan bertepung. Mim juga menemukan durian lezat di kebun Tajudin di Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Durian itu berdaging krem, citarasanya dominan manis, tekstur lembut dan agak lengket. Itulah sebabnya Tajudin menyebutnya si ketan.

Di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung, tumbuh  70 pohon lai Durio kutejensis berumur 19 tahun yang rajin berbuah. Daging buah lai dari Bandung berwarna jingga cerah, tekstur kering, dan tanpa aroma menyengat. Ketebalan daging buah sedang sekitar 0,5 cm. Menurut Ajie Win, maniak durian asal Bogor, “Lai ini rasanya manis legit. Citarasa ubi yang biasanya terdapat pada lai tidak terasa,” tutur Ajie. Itulah sebabnya lai tak pernah sampai ke tangan pedagang. “Buahnya selalu habis diborong konsumen yang datang ke kebun,” ujar Ajie.

Nonbiji

Pada acara pertemuan anggota Grup Maniak Durian di Rancamaya, Kabupaten Bogor, Puji Purnama, sang ketua, mendapat kiriman tiga durian: si mimang, kamun, dan nimimang. Ketiga durian itu bersal dari Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Di antara ketiga durian pesanan Unan Rimba, maniak yang menetap di Jakarta, mereka sepakat kamun paling enak. Rasanya manis dan agak pahit, daging buah kering, tapi lembut saat ditelan. Sementara si mimang dan nimimang lebih dominan manis.

Di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, wartawan Trubus, Riefza Vebriansyah, menjumpai durian-durian istimewa seperti sumber nonbiji. Muhammad Khoirul Soleh, penangkar buah di Magelang, menyebutkan mayoritas pongge sumber nonbiji berbiji mungil, hanya seukuran petai. “Saya pernah mencicip buah yang enam pongge di antaranya tanpa biji,” ujar Irul, panggilan akrab Khoirul. Warna daging buah sumber nonbiji juga menarik, kuning cerah.

Seorang maniak durian asal Ungaran, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Sulismono, mengatakan bahwa warna kuning sumber nonbiji setara musang king. Rasanya manis, legit, agak berserat, dan kering. Sayangnya, sang pemilik pohon induk di Desa Sumberan, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, kurang intensif merawat kedua pohon induk berumur 8—9 tahun itu. Oleh karena itu produktivitas durian yang baru berbuah pada 2011 itu masih sedikit, hanya 10—11 buah per pohon.

Ada pula temon yang berbiji kecil sehingga porsi daging yang bisa dikonsumsi mencapai 25—30%. Sudah begitu durian asal Desa Krasak, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, itu, “Rasanya legit, manis, dan gurih, seperti bersantan,” kata Irul.  Keunggulan itulah yang mengantarkan temon menuju takhta juara kontes durian se-Jawa Tengah pada 2012. Warna daging buah temon putih kekuningan. Bobot rata-rata 4—5 kg.

Pohon induk berumur 60—70 tahun juga rajin berbuah, hingga mencapai 300—400 buah per pohon. “Sayangnya tahun ini curah hujan tinggi sehingga produksinya hanya 170 buah,” tutur Irul yang juga menemukan durian unggul gajah oleng di Kecamatan Mijen, Kabupaten Semarang. Buah kerabat randu itu berdaging buah kuning dan tebal hingga 3 cm. Rasanya manis dengan sensasi sedikit pahit, tapi daging buah agak berserat.

Ekspor

Nun di Bali, durian bestala asal Desa Mundukbestala, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, mahsyur hingga ke mancanegara. Kepala seksi Pengembangan Produksi Hortikultura, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng, Putu Santika, menuturkan bestala pernah diekspor ke Perancis sebanyak 9 ton. Pada musim panen si raja buah itu kerap mengisi gerai-gerai pasar swalayan di Bali. Populasi bestala mencapai 1.265 pohon.

Masyarakat membudidayakan bestala secara turun-temurun. Itu terlihat dari banyaknya pohon berumur ratusan tahun yang tingginya 20 m dengan lingkar batang 3 pelukan orang dewasa. “Warga biasanya menanam durian tumpangsari dengan manggis, cengkih, dan kakao,” ujar Astika.  “Hasil panen tak hanya dipasarkan di Bali, tapi juga banyak pembeli dari Banyuwangi,” kata Putu Santika.

Menurut Panca Jarot Santoso, temuan-temuan itu menjadi bukti bahwa keragaman durian di tanahair sungguh luar biasa. Ia mengingatkan agar kita tetap fokus pada upaya pengembangan durian unggul yang tidak hanya berpotensi sebagai durian unggul lokal atau nasional, tapi juga berorientasi ekspor. “Keragaman durian yang terus bermunculan itu sebetulnya menambah kerja keras kita untuk menyeleksi durian unggul yang akan dikembangkan,” ujar Jarot. (Imam Wiguna/Peliput: Andari Titisari, Pressi Hapsari, & Rosy Nur Apriyanti)

25 Unggul, 8 Provinsi
25 Unggul, 8 Provinsi
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img