
dan juri kontes durian di Balaikarangan
Kontes durian di berbagai sentra melahirkan jenis-jenis durian terbaik tanahair.
Balaikarangan sentra durian terbaik dan terluas di tanahair,” ujar Karim Aristides, pengamat durian asal Palembang, Sumatera Selatan, yang kerap menjadi juri di berbagai kontes durian. Kekaguman Karim itu bukan tanpa dasar. Beberapa kali datang ke wilayah di Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, itu Karim mendapatkan raja buah istimewa. Daging buah tebal, rasa kombinasi manis dan pahit.
Kualitas raja seperti itu pula yang hadir pada kontes durian yang diselenggarakan Grup Maniak Durian bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Balaikarangan, Provinsi Kalimantan Barat, pada pertengahan Desember 2012. “Dari 86 peserta kontes, sebanyak 10% di antaranya berdaging tebal hingga di atas 2 cm,” ujar Karim yang juga menjadi salah satu juri. Dalam penilaian kontes ketebalan daging memiliki bobot tertinggi di antara seluruh kriteria yakni mencapai 30%.
Menurut peneliti durian dari Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Dr Lutfi Bansir SP MP, karakteristik durian dengan daging buah tebal seperti di Balaikarangan itu merupakan faktor genetik. Pendapat serupa juga disampaikan peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu) di Solok, Sumatera Barat, Panca Jarot Santoso. “Bisa juga dipengaruhi unsur hara, tapi pengaruhnya hanya 5%,” kata Lutfi. Jarot yang kandidat doktor Biologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB) menduga jika kebutuhan karbohidrat sebagai makanan tanaman terpenuhi, maka daging durian menjadi padat dan tebal.
Bersaing ketat
Soal rasa durian di Balaikarangan bervariasi, dari mulai yang hanya manis hingga yang dominan pahit. “Dalam kontes ini diharapkan dapat terpilih durian dengan kualitas sesuai standar ekspor. Selain berdaging tebal, juga memiliki rasa kombinasi 75% manis dan 25% pahit,” tutur Karim. Kriteria lain, daging buah bertekstur kering, lembut, creamy, dan tidak berserat. Penampilan buah dari mulai bentuk, warna daging buah, juga menjadi pertimbangan. Dari segi bentuk buah idealnya miringa family portion. Warna daging buah jingga mentereng dan beraroma kuat.
Dari berbagai kriteria itu muncul dua kontestan yang bersaing ketat: si parong asal Desa Balaikarangan dan semut asal Balaikarangan 3. Dari akumulasi hasil penilaian kelima juri yang terdiri atas Karim Aristides, Panca Jarot Santoso (Balitbu), Sobir PhD (Pusat Kajian Tanaman Hortikultura Tropika IPB), Frederic Guerlava (maniak durian asal Perancis), dan Lince (Direktorat Perbenihan Kementerian Pertanian), parong akhirnya mendulang nilai tertinggi dan menjadi juara. Selisih nilai dibanding semut sangat tipis, yakni hanya 0,7 poin. Dari segi ketebalan daging buah, warna, rasa, dan tekstur kedua durian itu sebetulnya hampir setara. Sayang, bentuk buah semut kurang ideal.
Keberhasilan durian parong meraih juara tidak mengejutkan. Di Balaikarangan durian parong tergolong sohor. Buah tanaman kerabat kapuk randu itu kerap menjadi buruan para mania durian. “Ada penggemar durian dari China hanya datang untuk mencicipi si parong,” ujar pemilik pohon, Syafrudin. Di pasaran harga parong tergolong premium, yakni mencapai Rp150.000 per buah berbobot 5 kg.
Kontes di pengujung tahun itu merupakan kontes durian perdana yang digelar di kabupaten yang berbatasan dengan Malaysia itu. “Meski persiapan kontes hanya sebulan, tapi saya bersyukur karena para pekebun begitu antusias mengikuti lomba sehingga jumlah peserta mencapai 86 kontestan,” kata ketua panitia, Hendro Suparman.
Buah terakhir
Nun di Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung, berlangsung kontes durian pada pertengahan Januari 2013. Dalam kontes yang digelar Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat itu, 114 kontestan bersaing menjadi yang terbaik. Setelah menjalani penilaian yang cukup panjang, akhirnya durian si botak milik Acen asal Desa Pelangas, Kecamatan Simpangtritip, Bangka Barat, sukses menjadi pemenang. Ia mampu mengandaskan pesaing ketatnya yakni si kompeng asal Dusun Kemangmasam, Desa Airputih, Kecamatan Muntok, Bangka Barat.
Menurut Panca Jarot Santoso, salah seorang juri, si botak menjadi juara lantaran keistimewaan daging buah yang tebal, yakni mencapai 1,8 cm. Dari warna daging buah si kompeng sebetulnya lebih menarik karena terdapat semburat jingga. Sementara si botak berwarna krem. Dari segi rasa si botak lebih dominan manis, sedangkan si kompeng terasa agak pahit. Sayangnya daging buah si kompeng lebih tipis, yakni hanya 1,3—1,5 cm.
Kemenangan si botak sungguh di luar dugaan Acen, sang pemilik pohon. Maklum, semula Acen enggan mengikuti lomba karena dilarang sang istri. Apalagi buah itu adalah buah terakhir karena sudah pengujung masa panen. Selama ini si botak tak pernah beredar di pasaran maupun tercecap lidah para mania durian karena Acen memang tak pernah menjual hasil panen dari pohon induk berumur 40 tahun. “Setiap kali berbuah hanya untuk konsumsi keluarga,” ujar Acen. Dorongan kuat dari sang kepala desa, Welly Wahyudi, akhirnya meluluhkan Acen dan istri. Berbekal buah terakhir, pria paruh baya itu akhirnya sukses memboyong hadiah utama senilai Rp1,8-juta.
Menurut kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat, Suhadi, kontes yang diselenggarakan pada awal 2013 itu adalah yang kedua kalinya. Sebelumnya pada November 2012 juga digelar ajang yang sama di Kecamatan Jebus. Dalam kontes kala itu durian si kambang asal Kecamatan Jebus menjadi juara pertama. “Kontes ini adalah ajang untuk menyaring durian unggul lokal Bangka Barat. Setiap juara itu nantinya akan diajukan sebagai varietas unggul nasional,” ujar Suhadi.
Panca Jarot menuturkan maraknya kontes durian di beberapa sentra merupakan langkah yang menggembirakan dalam pengembangan durian nasional. “Sebagai tahap awal tujuan kontes adalah mengumpulkan plasma nutfah durian unggul yang memiliki kriteria berpotensi ekspor,” ujarnya. Pada tahap berikutnya adalah pengembangan durian hasil seleksi.
Setelah beberapa tahun kontes yang diselenggarakan tidak lagi dalam upaya seleksi durian unggul, tapi sudah beranjak ke tahap penilaian kebun terbaik. “Dalam tahap itu, varietas yang turut dalam lomba bisa jadi sama, tapi yang membedakan adalah kualitas buah dari setiap kebun pasti berbeda,” ujar Jarot. Menurut Karim penilaian di kontes juga tidak sekadar untuk mendapatkan durian unggul, tapi durian yang potensial untuk masuk ke pasar ekspor. Salah satu syaratnya berdaging tebal dan bercitarasa kombinasi manis dan pahit seperti yang ditemukan di Balaikarangan. (Pressi Hapsari/Peliput: Imam Wiguna)
