Wednesday, January 28, 2026

Eksklusif dalam Balutan Pot

Rekomendasi
- Advertisement -

Itulah beach cherry yang dibudidayakan Eddy Soesanto, pekebun tabulampot di Cijantung, Jakarta Timur. Imigran asal Australia itu diperoleh dari Taman Wisata Mekarsari 3 tahun silam. Eugenia reinwardtiana didatangkan ke tanahair pada 1996 oleh Dr Mohamad Reza Tirtawinata, direktur Taman Wisata Mekarsari (TWM).

Eddy tak menyangka bila tanaman yang dirawat sejak 3 tahun lalu itu harganya bakal melambung, setara pohon lengkeng pingpong setinggi 1-2 m. Padahal, harga beli beach cherry ketika itu hanya Rp350.000 per tanaman.

Di negeri asalnya, pohon beach cherry tumbuh hingga setinggi 6 m. Namun, kebanyakan berbentuk semak setinggi 1-2 m. Daunnya berbentuk oval, panjang, berwarna hijau gelap, dan mengkilap. Bila diremas berbau khas anggota famili Myrtaceae, seperti apel. Hampir setiap saat beach cherry memamerkan buah. ‘Buahnya paling banyak saat kemarau,’ kata Eddy.

Bandel

Di tangan Eddy, penampilan jarramali-sebutannya di Australia -dipangkas apik hingga membentuk tajuk yang proporsional. Thunder cherry-nama lain-diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari penuh agar jarak antardaun menjadi pendek. Hasilnya, sosok tanaman terlihat rimbun.

Beach cherry tanaman bandel. Eddy hanya mengandalkan pupuk kandang sebagai sumber nutrisi. Pupuk asal kotoran hewan dicampur sekam dan tanah dengan perbandingan 1:1:1 sebagai media tanam. Namun, ia menyarankan pupuk kimia tetap diberikan agar tanaman tumbuh subur. Sebaiknya gunakan pupuk NPK 16:16:16. Untuk tanaman yang tajuknya berdiameter 40-50 cm, dosis pupuk 1 sendok makan dengan interval sebulan sekali. Penyiraman cukup sekali sehari.

Agar berpenampilan menarik, tanaman mesti rajin dipangkas. ‘Setiap kali muncul tunas langsung dipangkas,’ ujar Eddy. Pemangkasan merangsang tumbuhnya cabang-cabang baru yang nantinya memunculkan bunga dan buah. Beach cherry bisa dipangkas sejak berumur sekitar 4 bulan setelah semai atau ketika berbatang sebesar lidi.

Namun, bila berasal dari biji pertumbuhannya lamban. ‘Hingga benar-benar tampil menarik sebagai tabulampot perlu waktu 2,5-3 tahun,’ ujar Eddy. Oleh sebab itu, pemilik nurseri Tebuwulung itu memangkas waktu dengan teknik sambung susu. Batang bawah yang digunakan adalah sianto. Alhasil, dalam 1,5-2 tahun, tanaman tampil cantik dalam balutan pot.

Meski tergolong bandel, Eddy mewanti-wanti agar berhati-hati saat mengganti media. Pastikan pada saat repotting, media dalam keadaan kering. Bila basah, saat pot dilepas bola akar akan pecah. Akibatnya, tanaman menjadi stres dan akhirnya mati. Kejadian itu pula yang merenggut salah satu dari dua koleksi Eddy beberapa waktu silam. Beruntung yang satunya dapat diselamatkan setelah ditempatkan di dalam rumah tanam selama sebulan. ‘Pada saat tanaman stres, tanaman memerlukan suhu stabil,’ ujar arsitek lansekap itu.

Beach cherry juga lebih tahan serangan hama dan penyakit. ‘Paling hanya hama kutu putih. Itu pun berasal dari tanaman lain yang berdekatan,’ kata Eddy. Bila kutu putih hanya sedikit menyerang tanaman, cukup pungut dengan jari tangan. Namun, jika jumlahnya melebihi ambang batas, mesti diberantas dengan insektisida. Dosis disesuaikan dengan anjuran dalam kemasan. Eddy menyarankan obat pembasmi serangga sebaiknya dilarutkan dalam larutan deterjen. ‘Selain berfungsi sebagai perekat, deterjen membantu membuka selubung yang menyelimuti kutu putih,’ tuturnya.

Penampilan

Penampilan sarat buah jadi salah satu daya tarik tabulampot. Itu pula yang membuat pengunjung salah satu restoran di Vietnam terpesona pada sosok jeruk kim kit setinggi 2 m. Buah berwarna kuning hampir menyelimuti seluruh tanaman. Pemandangan itu disaksikan kolega Trubus dari Kehankaset, majalah pertanian Thailand.

Ketika itu bertepatan dengan perayaan Imlek. Bagi warga Vietnam keturunan China, memajang tabulampot jeruk kim kit ibarat perkara wajib. Warna kuning pada buah matang dipercaya membawa keberuntungan. Oleh sebab itu, hampir setiap toko di sana memajang pohon jeruk berbuah mungil itu. Mereka berharap keberuntungan senantiasa menghampiri usaha mereka di Tahun Baru.

Yang juga ramai dijajakan menjelang Imlek adalah buah naga, seperti terlihat di salah satu stan pameran Tet Festival yang digelar untuk Tahun Baru China di Vietnam. Namun, dragon fruit-sebutan buah naga-tidak dibudidayakan dalam pipa beton berdiameter 60 cm seperti lazim disaksikan di tanahair, melainkan dalam balutan pot tanah liat.

Lima batang buah naga dipotong berbeda ukuran. Batang-batang itu kemudian disusun lalu diikat dengan tali. Batang berukuran paling tinggi diletakkan di bagian tengah. Sisanya yang lebih pendek disusun di sekelilingnya. Hasilnya, sosok tanaman membentuk piramida. Buah yang lebat kian mempercantik penampilan kerabat kaktus itu.

Penampilan tabulampot istimewa juga disaksikan di China Flower Expo 2005 di Botanical Garden, China. Dalam pameran itu digelar kontes bonsai. Salah satu peserta yang menyita perhatian adalah bonsai apel setinggi 70 cm. Meski tanaman itu dicetak agar bersosok mungil, toh tetap berbuah lebat. Dalam pohon itu bergelayut setidaknya 40 apel merona merah.

Tabulampot apel pernah Trubus saksikan di Kota Batu, Jawa Timur, pada 2003. Muhammad Zainul Chozin, sang pemilik, membudidayakan apel manalagi di dalam pot. Ketika itu tanaman masih berumur 6 bulan. Meski demikian, tanaman digelayuti buah berwarna hijau muda.

Sayang, terobosan Chozin itu tidak diikuti jejak pekebun lain. Menurut, Sucipto, pekebun apel di Batu, para pekebun masih berkonsentrasi meningkatkan produktivitas buah. ‘Jadi belum membidik pasar hobiis,’ ujarnya. Selain itu, hobiis tabulampot sebagian besar tinggal di kota-kota besar di dataran rendah. Sedangkan apel tumbuh subur di dataran tinggi. (Imam Wiguna/Peliput: Nesia Artdiyasa)

 

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img