Monday, November 28, 2022

Ekspor Tanaman Hias : Tanaman Kuburan Rajanya

Rekomendasi

Total jenderal, pengiriman perdana pada Maret direncanakan 3 kontainer. “Tapi ada kemungkinan bertambah karena Februari ini buyer dari Taiwan akan datang,” kata Adeng.

Ini tahun kedua pemilik nurseri Watu Putih itu mengirim plumeria. Tahun silam, setiap bulan Adeng mengepak 4—5 kontainer untuk pembeli di Pulau Formosa. Yang diminta kamboja kuburan berbunga putih kuning kecil dan tricolor. Harga jual jenis putih kuning berdiameter batang 40 cm Rp1-juta. Kamboja kuburan tricolor lebih mahal lagi. Dengan asumsi hanya jenis putih yang terjual berarti Rp320-juta masuk ke pundi-pundi Adeng selama 8 bulan pengiriman.

Primadona baru

Kesibukan serupa terlihat pula di nurseri milik Dwi Hartono dan Wahyu Wibowo di Wedi—juga di Klaten. Sejak 2003, dua sekawan itu mengirim plumeria ke Taiwan. Dua minggu sekali, 2 kontainer anggota famili Apocynaceae berlayar ke negara di Asia Timur itu. Yang diminta, plumeria berbunga merah dan tricolor dengan diameter 25 cm serta putih kuning berdiameter 40 cm setinggi minimal 4 m. Selain langsung mengirim sendiri, Dwi dan Wahyu pun menyetor ke eksportir lain. Nun di Meruya, Jakarta Barat, 40 kontainer keluar dari nurseri Eddie Suharry selama 3 tahun pengiriman.

Temple tree berukuran lebih kecil juga diterima pasar. Tatag Hadi Widodo menyelipkan plumeria berdiameter 10—15 cm dan 16—20 cm di antara palem waregu Raphis excelsa. Total pengiriman pemilik PT Agro 21 Gemilang itu pada 2005 mencapai 7.000 batang. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2004 hanya 3.500 batang; 2003, 1.000 batang. Berbarengan dengan raphis, plumeria diberangkatkan ke Korea, Timur Tengah, dan negara-negara di Eropa seperti Italia, Spanyol, dan Yunani. Di Sentul, Bogor, Gunawan Wijaya membawa 30—50 batang plumeria setinggi 30—40 cm setiap kali berbelanja tanaman hias ke Thailand. Setiba di negeri Siam, kerabat adenium itu sudah siap dibayar calon pembeli.

Belakangan lei flower—nama lain plumeria—memang marak diperniagakan ke mancanegara. Pasar tujuan terutama Taiwan dan Cina. “Mereka butuh tanaman berbunga berukuran besar untuk penghijauan,” tutur Eddie. Makanya selain plumeria sebetulnya Eddie pun mengirim dadap Erythrina sp dan bungur Langerstroemia flos-reginae. Hanya saja lantaran setok di dalam negeri lebih banyak, volume kamboja kuburan yang dikirim berlipat. Pengiriman dadap dan bungur baru belasan kontainer.

Alasan lain, plumeria berumur panjang. Untuk mencapai diameter 60 cm dibutuhkan waktu ratusan tahun. Bukannya menjadi renta, makin tua umur plumeria malah jadi terlihat lebih bagus. Bagi masyarakat keturunan Cina, itu melambangkan panjang umur. Sementara di negara-negara Eropa, lie flower itu menjadi penghias taman bergengsi.

Ajeg

Toh, bukan berarti tanaman hias yang lebih dulu diekspor tak laku lagi di pasaran dunia. Buktinya, pada 2005 Tatag mengirim 26 kontainer berisi waregu. Itu setara 390.000 pohon. Pengiriman itu untuk pasar Swiss, Jerman, Inggris, dan Belanda. Negara yang disebut terakhir juga mendapat pasokan dari Bumi Teknokultura di Serpong, Tangerang. Dari sana setiap 2 bulan 1 kontainer berisi 1.000 polibag berlayar menuju negeri Kincir Angin.

Hasil pelacakan Trubus menunjukkan jenis paleman-paleman memang masih ajeg sebagai komoditas ekspor. Sebut saja palem phoenix Phoenix canariensis, palem raja, ekor tupai, lucubensis, livistona, dan metalica. Namun, dari segi volume memang raphis yang banyak dikirim. Jenis lain yang juga tetap diminta pakis haji, cemara udang, dan sansevieria.

Fenomena itu lumrah saja. “Pasar dunia tanaman hias tidak akan jenuh meski kita rutin mengekspor,” kata Tatag. Musababnya, negara-negara tujuan ekspor rata-rata mengalami 4 musim. Menurut kelahiran Malang, 17 Agustus 1959, itu pada musim dingin tanaman tropis mengalami masa dormansi. Bila sekali terjadi, tanaman masih bisa pulih pada musim berikutnya.

Tapi lebih dari itu, kondisinya tidak layak lagi sebagai tanaman hias,” lanjut Tatag. Pantas, konsumen di negara 4 musim lebih suka membeli ulang ketimbang merawat tanaman yang ada.
Alumnus Universitas Brawijaya, Malang, itu menghitung permintaan riil tanaman hias dunia mencapai 5.000 kontainer per tahun. Dari jumlah itu 61% kebutuhan Eropa dipasok oleh Cina. Indonesia baru sanggup memasok 2%-nya.

Rewel

Namun, untuk memenuhi kebutuhan dunia tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak batu kerikil yang menghadang. Satu kontainer plumeria yang dikirim Eddie ditolak pembeli Taiwan. Biang keladinya, pada beberapa batang kamboja kuburan itu ditemukan kotoran burung. Padahal syarat temple tree yang diterima mesti bebas tanah dan kotoran.

Pembeli dari Pulau Formosa memang terbilang rewel. Mereka menginginkan penampilan plumeria yang artistik. “Bentuknya mesti bagus, seperti tubuh penari bali. Percabangan banyak dan utuh. Yang lurus seperti tiang listrik tidak disukai,” ujar Eddie. Kerap kali pembeli asal Taiwan datang ke tanahair saat barang hendak dikirim. Mereka menentukan sendiri percabangan yang mesti dipotong dan disisakan.

Toh, harga yang ditawarkan memang istimewa. Pohon setinggi 2—3 m dengan diameter 30 cm dan belum bercabang banyak dibanderol Rp1-juta. Yang berdiameter 60 cm setinggi 6 m mencapai Rp10-juta per pohon. Itu untuk plumeria berbunga putih kuning. Yang tricolor dan merah lebih mahal lagi.

Batu sandungan lain, plumeria belum dibudidayakan. Supaya bisa memenuhi permintaan pelanggan, para eksportir mesti berburu ke berbagai daerah. Klaten, Boyolali, Ambarawa, dan Salatiga kerap jadi lokasi perburuan Dwi dan Wahyu. Memang mereka tidak turun ke lapang langsung, ada tim “pemburu” yang menyetor hasil perburuan secara rutin.

Bumi Teknokultura juga mengumpulkan raphis dari pekebun pemasok di Jawa Barat dan Jawa Timur. Tiba di kebun Teknokultura, tanaman mesti dirawat dulu. Itu supaya penampilan palem waregu itu sesuai dengan keinginan pembeli. Daun dan batang terlihat sehat dan mulus. Lalu dirangkai menjadi rumpun dalam satu polibag. Dalam rangkaian itu tak boleh ada batang yang terlihat dari luar. Semua mesti tertutup daun.

Pesaing

Munculnya pesaing dari negara lain juga jadi kendala. Tatag terpaksa menghentikan pengiriman hanjuang Dracaena fragrans, palem raja, dan wodyetia alias palem ekor tupai ke Cina dan Korea. Musababnya, pemasok dari Kostarika, Guatemala, dan Bolivia bisa menyediakan barang yang lebih berkualitas dengan spesifikasi tepat. Pantas, bila eksportir tanaman hias mesti gesit mencari pasar dan komoditas baru supaya tidak terlibas pesaing. (baca: Tatag Hadi Widodo, Raja Bibit Buah yang Beralih ke Tanaman Hias halaman 106).

Ketergantungan pada satu pembeli juga bisa jadi petaka. Volume ekspor dari kebun Subagyo Hartono di Malang melorot tajam. Sampai 2000, ayah 3 anak itu masih mengirim minimal 3 kontainer per bulan beragam palem-paleman ke Singapura. Dua tahun belakangan frekuensi pengiriman hanya 2—3 bulan sekali. Pembeli dari negeri Singa rupanya kontraktor yang dipercaya mengerjakan proyek-proyek pembangunan lapangan golf. Makanya membutuhkan banyak tanaman tropis. Namun, begitu proyek-proyek itu satu per satu selesai, permintaan kepada Subagyo pun berkurang.

Belum lagi kemungkinan ditipu pembeli luar. Dari 8 kontainer yang dikirim Subagyo ke Malaysia pada kurun 1993—1994, hanya 2 kontainer yang dibayar. “Saya jatuh sengsara,” ujar kelahiran Pasuruan, 8 Agustus 1957 itu. Dengan nilai per kontainer Rp27-juta, berarti kerugian Subagyo mencapai Rp162-juta.

Peluang

Toh, deretan kendala itu tidak membuat para eksportir gentar. Peluang di pasar dunia masih terbentang untuk diisi. Hasil penelitian Yoyok Yudistira Suyono, mahasiswa In Holland University, Belanda, sejak 2000 terjadi perubahan besar-besaran dalam penjualan tanaman hias di negara-negara Eropa. Yoyok meneliti fenomena perniagaan tanaman hias dari Indonesia ke Belanda untuk meraih gelar sarjananya.

Menurut Yoyok, kini penjualan tanaman hias tidak melulu didominasi floris dan garden center. Hipermarket semacam Ace Hardware yang notabene melulu menjual bahan bangunan, juga menjajakan tanaman hias secara terintegrasi. Berdasarkan data Yoyok dan Harout Pilikyan—sejawatnya—di Inggris terdapat 1.034 gerai Ace Harware yang menjual tanaman hias. Di Jerman 1.731 gerai dan Perancis 1.000 gerai.

Pasar Cina dan Taiwan pun masih menjanjikan. Terutama untuk memenuhi permintaan plumeria besar dan jenis-jenis baru. Permintaan kamboja kuburan yang masuk ke kebun Dwi dan Wahyu mencapai 40 kontainer per bulan. Namun, mereka baru sanggup memasok 4 kontainer. Madyana Heru Wicaksono pun tak bisa memenuhi permintaan plumeria dan palem sadeng dari Malaysia. Pemilik nurseri adenium Semarang itu mesti mengumpulkan dulu tanaman dari para pemburu lantaran tidak punya stok.

Peluang juga dirasakan para pekebun pemasok. Nun di Malang, Suparmono membudidayakan palem waregu di lahan seluas 2.000 m2. Dari sana ia memasok 3.000—10.000 batang per bulan ke PT Agro 21 Gemilang. Dari perniagaan itu, “Kalau kondisi lagi bagus, saya bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp3-juta per bulan,” tutur pengajar di sebuah sekolah luar biasa itu. Ekspor tanaman hias rupanya masih menjanjikan dolar. (Evy Syariefa/Peliput: Destika Cahyana, Lastioro Anmi Tambunan, dan Rosy Nur Apriyanti)

Previous articleUlar Palsu
Next articleBatu Luruh Karena Laurat?
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img