Thursday, July 25, 2024

Ekstrak Kulit Kakao Terbukti Mengatasi Kanker Usus Besar

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Petani hanya memanfaatkan biji kakao. Kulit buah kakao kerap berakhir di tempat sampah atau menjadi pakan ternak. Dewi Chusniasih, M.Sc. dari Program Studi Biologi, Institut Teknologi Sumatera (Itera) membuktikan, ekstrak kulit buah kakao berpotensi sebagai antikanker, terutama mengatasi kanker usus besar.

Dalam riset in vitro itu, ia dan rekan menggunakan sel WiDr atau sel karsinoma usus besar manusia. Periset menguji aktivitas antioksidan dan sitotoksisitas pada ekstrak kulit buah kakao.

Para periset menggunakan kulit lapisan terluar buah kakao matang. Dewi menyortir kulit buah kakao, mencuci pada air mengalir, lalu mengeringkan dengan oven bersuhu 40°C. Selanjutnya, Dewi menghaluskan dan mengekstraksi sampel kulit buah kakao kering dengan pelarut aseton 80%.

Dewi mengekstraksi kulit kakao menggunakan metode maserasi atau perendaman. Ia lalu memisahkan hasil ekstraksi dengan kertas saring. Periset itu menguapkan pelarut hingga menghasilkan ekstrak kental.

Hasil ekstraksi itulah yang digunakan untuk uji antikanker. Aktivitas antioksidan pada riset diuji dengan metode DPPH atau 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil. Menurut Dewi, dengan cara itu ekstrak kulit buah kakao akan direaksikan dengan larutan DPPH yang dianggap sebagai radikal bebas.

Menurut Dewi, radikal bebas pemicu penyakit kronis termasuk kanker usus besar. Konsentrasi ekstrak kulit buah kakao (Theobroma cacao) yang digunakan beragam, yakni 0 ppm, 5 ppm, 10 ppm 15 ppm, 20 ppm, dan 25 ppm.

Uji aktivitas antioksidan menunjukkan, ekstrak aseton kulit buah kakao memiliki antioksidan sangat kuat dan aktif menghambat pertumbuhan sel kanker usus besar. Ekstrak kulit buah kakao mengandung antioksidan berdaya hambat (Inhibition Concentration atau IC50) 15,41 ppm.

Bandingkan dengan nilai IC50 vitamin C sebagai kontrol positif atau pembanding 6,73 ppm. Kesimpulannya, antioksidan ekstrak kulit buah kakao tergolong sangat kuat. Musababnya terdapat metabolit sekunder seperti polifenol.

Polifenol mempercepat apoptosis atau program bunuh diri sel dan kematian sel yang tidak normal. Kandungan lain antioksidan pada kulit buah kakao adalah alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Selain itu, kulit buah kakao juga mengandung metil ester.

Menurut Dewi, asam lemak itu didominasi oleh asam oktadekanoat dan asam heksadekanoat. Senyawa-senyawa aktif itu berfungsi menghambat laju pembelahan sel kanker. Para periset juga menguji sitotoksisitas untuk membuktikan sifat racun pada kulit buah kakao untuk sel WiDr.

Mereka menggunakan metode mikrotetrazolium (MTT assay). Cara itu untuk mengukur sel kanker yang mati oleh ekstrak kulit buah kakao. Pengujian dilakukan pada sel kanker WiDr dan sel kanker normal. Uji MTT assay dilakukan pada hari ke-3 dengan menghitung jumlah sel yang tersisa.

Makin sedikit sel kanker yang hidup, artinya ekstrak itu makin bersifat racun bagi sel kanker. Konsentrasi ekstrak aseton kulit buah kakao yang digunakan adalah 50 ppm, 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, dan 400 ppm.

Hasil uji menunjukkan ekstrak kulit buah kakao aktif dalam menghambat pertumbuhan sel WiDr dengan nilai IC50 sebesar 47,47 ppm.

“Makin kecil nilai yang dihasilkan maka ekstrak itu semakin toksik,” tutur Dewi.

Adapun ekstrak yang diberikan pada sel vero normal memiliki nilai IC50 lebih tinggi yakni 528,13 ppm. Artinya, ekstrak kulit kakao tidak membunuh sel normal itu. Dewi menduga konsumsi kulit buah kakao tidak berefek samping dalam terapi kanker usus besar.

Menurut Magister Biologi alumnus Universitas Gadjah Mada itu, senyawa pada ekstrak kulit buah kakao yang bersifat racun juga disebabkan oleh kandungan pektin. Senyawa tersebut menekan pertumbuhan kanker usus besar atau sel WiDr. Dewi menuturkan, konsumsi kulit kakao tanpa ekstrak perlu penelitian lebih lanjut.

“Tanpa ekstraksi senyawa itu tidak terlalu murni diserap sehingga kemungkinan besar potensi antioksidan atau sitotoksisitas akan menurun,” jelas Dewi.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Kembangkan Kelapa Genjah Merah Bali, Pekebun Panen Lebih Cepat

Trubus.id—Gede Sukrasuarnaya kesengsem penampilan kelapa genjah merah bali. “Warnanya cantik jingga kemerahan. Buahnya lebih banyak dan lebih besar dibandingkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img