Sunday, July 14, 2024

Jabon Terbukti Membantu Mengatasi Diabetes Melitus

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Jabon berpotensi mengatasi diabetes melitus dengan cara menghambat enzim alfaglukosidase. Itu dibuktikan oleh Dr. Ir. Rita Kartika Sari, M.Si., dosen di Departemen Hasil Hutan, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Rita dan tim membandingkan kemampuan daun, kulit batang, dan kayu jabon untuk mengatasi diabetes melitus. Rita memanfaatkan jabon berumur 6 tahun yang tumbuh di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Rita dan rekan menyiapkan 50 gram masing-masing serbuk daun, kulit batang, dan kayu. Hasil penelitian menunjukkan, kadar ekstrak tertinggi berasal dari daun yakni 16,50%, sedangkan kulit batang (4,62%) dan kayu (2,04%).

Riset ilmiah itu membuktikan daun jabon (Anthocephalus cadamba) mampu menghambat kerja enzim alfaglukosidase sangat aktif. Alfaglukosidase merupakan enzim penyebab meningkatnya kadar gula darah.

Nilai konsentrasi penghambatan atau Inhibiton Concentration (IC50) bagian daun 7,24 μg ml1. Bandingkan dengan kulit batang dan kayu lebih dari 100. “Makin kecil nilai IC50 ekstrak itu makin kuat,” tutur Rita.

Daun jabon mengandung flavonoid hidrokuinon, tanin, dan kumarin. Selain itu, daun jabon juga mengandung fenolat seperti asam kuinat, katekol, dan asam lemak yang memiliki aktivitas antidiabetes.

Dalam riset ilmiah itu, Rita juga membandingkan daun jabon dan daun samama. Keduanya berada dalam satu famili yakni Rubiaceae dan bergenus sama (Anthocephalus).

Kedua pohon itu masih sekerabat. Masyarakat menyebut Anthocephalus cadamba sebagai jabon putih atau hanya jabon. Sementara itu, Anthocephalus macrophyllus terkenal dengan sebutan jabon merah atau samama.

Daun muda samama berwarna kemerahan. Jadi, masyarakat lazim menyebut kedua jenis pohon itu dengan satu nama, yakni jabon. Melalui riset ilmiah, Rita membuktikan daun samama (Anthocephalus macrophyllus) juga memiliki aktivitas antidiabetes.

Namun, bagian tanaman yang memiliki sifat antidiabetes tertinggi bukan pada daun, melainkan di bagian kulit batang. Nilai IC50 ekstrak etanol kulit batang mencapai 5,86 μg ml-1 dan kadar bahan alamnya 12,87%. Bagian kulit batang itu mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin, dan kumarin.

Hasil ekstraksi dari fraksi etil asetat kulit samama dan daun jabon menunjukkan keberadaan senyawa skopoletin—turunan kumarin yang berpotensi sebagai antidiabetes. Menurut Rita, perbedaan spesies pohon berpengaruh terhadap kandungan metabolit sekunder yang berperan sebagai antidiabetes.

Rita menuturkan, spesies pohon sama pun belum tentu memiliki kadar bahan alam yang sama. Selain faktor genetik, lokasi tumbuh pohon juga memengaruhi kadar senyawa aktif.

“Kadar bahan alam pada pohon itu dapat dipengaruhi oleh tempat tumbuh. Kadar metabolit sekunder pada pohon yang tumbuh di tempat subur akan berbeda dengan yang ditanam di lahan gersang,” kata periset kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, November 1968 itu.

Menurut Valentina Indrajati, herbalis di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, penghambatan alfaglukosidase itu penting dalam terapi pasien diabetes melitus terutama tipe 2. Penghambatan kerja enzim itu berguna untuk menunda penyerapan glukosa ke dalam darah pada sistem pencernaan.

“Jika sudah ada data efek daun jabon pada penderita diabetes melitus, pemanfaatan daun jabon sebagai antidiabetik bisa menjadi kenyataan,” tutur Valentina.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Khasiat Daun Ketepeng Cina, Berpotensi Kendalikan Kadar Kolesterol Darah

Trubus.id—Daun ketepeng cina berpotensi menurunkan kadar kolesterol darah. Itulah hasil riset Nisa Khoirila dan Muhammad Walid dari program Studi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img