Thursday, August 11, 2022

Emas untuk Para Perindu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Ketika kobra kawin dengan sapu jagat, lahirlah golden.

Inilah rutinitas Budi Tjahjana sejak tujuh tahun silam. Setiap pagi di kala udara dingin masih menyelimuti Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, pemilik perusahaan otobus Bus Ramayana itu sudah hilir-mudik di halaman rumahnya.

Sembari membawa kuas kecil dan jaring kasa di tangan kanan pria 65 tahun itu berpindah dari satu pot anthurium ke pot lainnya. Di halaman rumahnya di kaki Gunung Merapi, Budi mengoleksi 8 indukan anthos aura beragam jenis. Yang diincarnya tongkol-tongkol alias bunga anthurium yang mencuat dari tiap tanaman.

Mata Budi berbinar saat menemukan tongkol berlumuran cairan lengket mirip madu. Itu tanda putik alias bunga betina siap kawin. Ia pun bergegas menuju ke lima pot induk anthurium kobra yang dipelihara sejak 2007. Dicarinya tongkol alias bunga yang mengeluarkan serbuk sari untuk dipakai sebagai pejantan. Budi selalu menggunakan kobra dalam setiap persilangan baik sebagai indukan jantan maupun betina. “Kobra memiliki karakter unik, bentuknya seperti kepala ular kobra, daunnya lebar, dan urat daunnya tegas,” tuturnya.

Dengan sigap Budi mengambil serbuk sari dari tongkol anthurium kobra menggunakan kuas kecil lalu mengoleskannya ke putik anthurium jenis lain. Selanjutnya Budi membungkus tongkol itu dengan jaring kasa supaya tidak terjadi penyerbukan silang secara alami. Selang 5-6 bulan, buah anthurium matang dan siap dipanen. Biji-biji tanaman kerabat aglaonema itu ia semai di wadah plastik atau styrofoam dengan media pakis halus.

Teka-teki

“Mengawinkan anthurium menjadi keasyikan tersendiri karena bagaimana  karakter anakan yang dihasilkan bagai sebuah teka-teki,” kata pria yang tetap menyilangkan anthos oura meski dunia anthurum tidak seramai saat 5 tahun silam. Greg Hambali, penyilang tanaman hias di Bogor, Jawa Barat, menuturkan secara alami persilangan menghasilkan anakan yang pasti berbeda dengan induk.

“Kecuali tanaman yang bersifat apomiksis. Proses penyilangannya tidak membutuhkan bantuan tangan manusia, tapi hasilnya sama dengan induk,” ujar Greg. Contohnya salak bali dan aglaonema tricolor. Pada anthurium, belum pernah ada laporan yang menyebutnya bersifat apomiksis. Jadi, orang yang menyilangkan anthurium tidak pernah bisa tahu dengan pasti anakan yang dihasilkan. Sosok anakan bisa bagus, bisa juga jelek.

Pada 2010 senyum bahagia menggaris di wajah Budi. Salah satu anakan hasil silangan anthurium sapu jagad sebagai indukan betina dengan kobra sebagai indukan jantan tumbuh menjadi sosok menarik. Seluruh daunnya berwarna kuning dengan bentuk daun lebar dan urat daun yang tegas.

Budi pantas berbangga hati karena peluang untuk mendapatkan anthurium berdaun kuning sangat kecil. “Peluangnya bisa satu banding sejuta,” kata Ir Edhi Sandra MSi. “Munculnya warna kuning pada anthurium bisa disebabkan oleh mutasi sehingga replikasi rangkaian DNA menjadi tidak teratur atau sifat resesif dari anthurium yang kembali muncul, ” ujar dosen fisiologi dari Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata di Fakultas Kehutanan IPB itu. Budi menamai anthurium itu golden, sesuai dengan daunnya yang kuning seperti emas.

Bukan variegata

Keunikan golden cepat menyebar ke kalangan hobiis anthurium. Meski banyak hobiis yang ingin memiliki tanaman anggota famili Araceae itu, Budi bergeming. “Saya masih ingin menikmati keindahan golden untuk waktu yang lebih lama,” tegasnya.

Nun di kawasan wisata lereng Gunung Merapi, Kaliurang, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakrta, Yoe Kok Siong, juga tengah berbahagia. Salah satu hasil silangannya-antara anthurium gold dengan mawar-berdaun kuning. “Anthurium golden bukan barang baru, tetapi untuk mendapatkan sosok yang bagus tidak mudah. Oleh karena itu harga satu pot anakan bisa melambung hingga ratusan juta rupiah saat demam anthurium beberapa tahun silam,” ujar Yoe.

Trubus juga melihat sosok anthurium berdaun kuning di nurseri milik Gunawan Widjaja di Sentul, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemilik nurseri Wijaya itu memperoleh golden setahun silam di Pameran Flora dan Fauna di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Wajar bila Gunawan langsung jatuh hati begitu melihat golden.

Daun anthurium jenmanii setinggi 30 cm itu kuning merata. “Golden bukan variegata, tetapi hibrid baru. Anthurium variegata biasanya berwarna 2, yaitu hijau dan kuning atau putih dalam satu daun. Namun golden satu warna, kuning,” kata Gunawan yang diamini oleh Edhi Sandra. Gunawan juga memiliki anthurium gelombang cinta berdaun golden. Anthurium-anthurium emas itu obat rindu hobiis anthos oura. (Andari Titisari)

Pilih Teduh

Supaya anthurium golden tetap memamerkan warna emasnya, Yoe Kok Siong meletakkan tanaman di tempat ternaungi. Gunawan Wijaya malah menggunakan jaring peneduh yang meloloskan cahaya 30%. Pertumbuhan daun optimal pada kondisi suhu 27-28oC dengan kelembapan udara 70-80%. Tanam dalam pot dengan media sabut kelapa. Perawatannya menggunakan pupuk NPK seimbang dosis 2 gram/liter setiap minggu. Penyiraman dilakukan setiap hari. (Andari Titisari)

Anthurium golden butuh naungan

 

^       Budi Tjahjana bersama istri, “Kegiatan menyilangkan menyenangkan,” ujar Budi Tjahjana

<   Anthurium golden milik Budi Tjahjana hasil silangan dua tahun silam berdarah kobra

Anthurium golden milik Yoe Kok Siong

Anthurium golden milik Gunawan Widjaja

 

 

Previous articleKelir Anyar Lili Pedang
Next articleDua Jadi Satu
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img