Trubus — Jumlah penduduk bertambah berdampak pada meningkatnya kebutuhan bahan pangan pokok. Hal itu harus diantisipasi dengan meningkatkan produksi pangan pokok untuk memenuhi peningkatan kebutuhan pangan penduduk demi menjaga kedaulatan pangan. Luas lahan pertanian pun makin berkurang akibat alih fungsi lahan. Satu-satunya jalan yaitu meningkatkan produktivitas tanaman pangan pokok.

Inovasi dalam menghasilkan varietas unggul baru (VUB) berproduktivitas tinggi dan adaptif pada beberapa agroekosistem dan teknologi budidaya berperan sangat penting dalam meningkatkan produktivitas tanaman. Perubahan iklim pun menuntut dunia pertanian mampu bermitigasi dan beradaptasi dengan anomali iklim. Berbagai VUB adaptif kekeringan atau lahan terendam pun hadir sebagai solusi.
“Singkatnya inovasi dalam dunia pertanian merupakan solusi untuk mengatasi permasalahan dalam bidang pertanian,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si. Balitbangtan menjadi lembaga penelitian terbesar penghasil inovasi terbaru bidang pertanian di Indonesia. Harap mafhum Balitbangtan memiliki unit kerja dari Sabang hingga Merauke.
Minimal ada satu kantor perwakilan Balitbangtan di setiap provinsi. Selain itu jumlah peneliti Balitbangtan sekitar 1.680 orang. Pantas saja sudah ada sekitar 600 inovasi teknologi pertanian yang terus didorong untuk dikembangkan. Pada medio November 2019 wartawan Trubus, Riefza Vebriansyah, mewawancarai Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si., tentang perkembangan inovasi pertanian dan kesiapan Balitbangtan menghadapi era industri 4.0. Berikut petikan wawancaranya.
Bagaimana perkembangan inovasi di dunia pertanian Indonesia?
Perkembangan inovasi bidang pertanian saat ini terus membaik. Tren inovasi yang dihasilkan oleh Balitbangtan juga makin meningkat dengan menghasilkan 109 paten, 177 pendaftaran varietas, dan 322 kerja sama lisensi yang pada 2019 menghasilkan royalti sebesar Rp11 miliar. Jumlah royalti itu cenderung meningkat setiap tahun. Balitbangtan menerima Rp5,1 miliar pada 2018. Bertambahnya jumlah royalti salah satu bukti tren perkembangan inovasi pertanian terus meningkat.
Apa saja program kerja di Balitbangtan yang berperan memunculkan inovasi?
Balitbangtan dituntut menghasilkan dan mengembangkan teknologi pertanian modern yang memiliki scientific recognation dengan produktivitas dan efisiensi tinggi. Pun melakukan hilirisasi dan massalisasi teknologi pertanian modern sebagai solusi menyeluruh permasalahan pertanian yang memiliki impact recognition.
Bagaimana peran Balitbangtan dalam mewujudkan kedaulatan pangan?
Jadi tugas Balitbangtan adalah melaksanakan kegiatan penelitian di bidang pertanian sesuai kaidah ilmiah dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan terbaru dan kearifan lokal. Dengan begitu secara saintifik diakui keunggulannya oleh masyarakat ilmiah pada berbagai lingkungan strategis. Itu juga mendukung upaya Kementerian Pertanian mewujudkan visi dan misinya serta melaksanakan pengembangan hasil penelitian yang sejalan dengan program eselon satu terkait lingkup Kementerian Pertanian. Harapannya mempercepat pembangunan pertanian dalam mendukung terwujudnya kedaulatan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani.
Bagaimana program kerja Balitbangtan dalam menghasilkan inovasi di bidang pertanian?
Balitbangtan berupaya menghasilkan inovasi di bidang pertanian melalui 4 cara. Pertama, penciptaan varietas dan galur/klon unggul baru, adaptif, dan berdaya saing dengan memanfaatkan advanced technology dan bioscience. Kedua, penciptaan teknologi dan inovasi budidaya, pascapanen, serta prototipe alsintan berbasis bioscience dan bioenjinering dengan memanfaatkan advanced techonology seperti teknologi nano, bioteknologi, iradiasi, bioinformatika, dan bioprosesing yang adaptif. Ketiga, penyediaan data dan informasi sumberdaya pertanian (lahan, air, iklim, dan sumberdaya genetik) berbasis bioinformatika dan geospasial dengan dukungan IT. Keempat, penciptaan model pengembangan inovasi pertanian, kelembagaan, dan rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian.

Ke mana arah inovasi pertanian Indonesia?
Arah inovasi pertanian Indonesia saat ini mengikuti perkembangan dunia yang sudah memasuki revolusi industri 4.0. Hal ini ditandai dengan inovasi alat-alat mesin pertanian (alsintan) yang sudah terintegrasi dengan jaringan internet. Inovasi pertanian yang banyak dikembangkan pada saat ini adalah konsep pertanian cerdas, yang biasa juga disebut smart farming atau precision agriculture. Konsep ini merujuk pada penerapan teknologi informasi pada bidang pertanian. Balitbangtan juga mengikuti tren itu dengan menghasilkan inovasi alsintan yang mendukung pertanian 4.0 seperti autonomous tractor, drone penebar benih, drone penyemprot hama dan penyakit tanaman, drone pemupukan, smart irrigation, smart green house, dan telescoping boom sprayer. Inovasi alsintan lain yang kekinian yakni mobile dryer, jarwo riding transplanter, penanam tebu, dan pemasang drip line irigasi.

Apa saja target inovasi yang akan dikerjakan dalam 5 tahun mendatang?
Sesuai dengan target dalam RPJMN 2020—2024, Balitbangtan dituntut menghasilkan 30 VUB baru tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Selain itu Balitbangtan mesti menghasilkan 10 galur atau bibit ternak unggul setiap tahun. Balitbangtan pun dituntut melakukan karakterisasi dan koleksi 3.100 aksesi sumber daya genetika tanaman dan hewan. Sesuai dengan restrukturisasi program, saat ini Balitbangtan tidak hanya dituntut menghasilkan output, tapi juga sudah harus berorientasi pada outcome yaitu dimanfaatkannya hasil teknologi dan inovasi. Targetnya adalah 65% hasil teknologi dan inovasi Balitbangtan harus sudah dimanfaatkan oleh stakeholders. Dalam lima tahun ke depan di bawah koordinasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Balitbangtan mendapatkan amanat menjadi koordinator penelitian Prioritas Nasional bidang pangan dan pertanian seperti padi, jagung, kedelai, bawang merah dan putih, cabai, kelapa sawit, sapi potong, serta unggas.
Bagaimana kesiapan Balitbangtan dalam menghadapi agroindustri 4.0?
Balitbangtan sangat siap dalam mengadapi revolusi industri 4.0. Balitbangtan juga mendukung pengembangan industri 4.0 dengan memanfaatkan teknologi-teknologi cloud computing, mobile internet, dan mesin cerdas (artificial intelligence). Strategi adaptasi dan transformasi pertanian era industri 4.0 antara lain dirumuskan melalui 4 cara. Pertama, memformulasikan perencanaan riset dan pemanfaatan hasil-hasilnya dengan memperhatikan perkembangan teknologi AI, IoT, dan CPS, seperti penerapan teknologi tablet, telepon seluler, drone, dan satelit; Kedua, penciptaan inovasi pertanian yang memanfaatkan teknologi digital dalam sistem usaha pertanian. Ketiga, penciptaan inovasi alat dan mesin pertanian yang dikontrol secara otomatis. Keempat, penciptaan inovasi pertanian yang mendukung implementasi precision farming.
Apa saja yang Balitbangtan lakukan dalam menghadapi perkembangan teknologi 4.0 di bidang pertanian?
Balitbangtan terus melakukan penelitian dan perekayasaan dalam menghasilkan teknologi maupun inovasi bidang pertanian yang mendukung pertanian 4.0. Salah satunya akan mengembangan flagship Balitbangtan untuk smart farming dengan melibatkan semua unit kerja.

Apa saja tantangan yang dihadapi dalam proses melahirkan inovasi? Bagaimana cara mengatasi masalah itu?
Tantangan yang dihadapi saat ini adalah masih rendahnya anggaran riset di Indonesia. Balitbangtan mengatasi permasalahan itu melalui kerja sama dengan lembaga donor untuk mendapatkan dana hibah penelitian dari dalam negeri dan luar negeri serta pihak swasta. Dana hibah membantu Balitbangtan menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi petani. Tantangan lainnya yaitu kemajuan teknologi yang makin cepat menuntut pengembangkan kapasitas sumber daya manusia agar bisa mengikuti perkembangan teknologi. Cara mengatasinya, Balitbangtan mempunyai program untuk peningkatan kapasitas pegawai terutama peneliti, perekayasa, dan penyuluh melaui pelatihan jangka panjang untuk menempuh pendidikan strata 2 dan strata 3. Balitbangtan memberikan kesempatan kepada 50 peneliti/perekayasa/penyuluh untuk melanjutkan pendidikan setiap tahun.Adapun pelatihan jangka pendek berupa seminar di dalam dan luar negeri.
