Saturday, December 3, 2022

Empat Rawit Baru

Rekomendasi
Batari ramping memanjang dengan warna merah menyala saat tua. (Dok. Tunas Agro Persada)

Empat cabai rawit baru berproduksi tinggi, tahan penyakit, dan genjah.

Trubus — Sutrisno memilih carika. Dua tahun terakhir petani di Desa Kuripan, Kecamatan Watumalang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, itu setia pada carika. Alasannya buah seragam berukuran besar dan lebih kuat terhadap serangan patek. Carika adalah cabai rawit baru hasil pemuliaan PT Tunas Agro Persada (TAP) pada 2017. Panen terakhir pada 2018, petani 39 tahun itu memperoleh hampir 2 ton cabai rawit dari 2.500 tanaman di lahan 1.500 m².

Menurut Manajer Pemasaran PT TAP, Ir. Cipto Legowo, produktivitas carika rata-rata 365—431 buah per tanaman. Bobot per buah sekitar 2,61—3,17 g. Potensi hasil 12,95—14,82 ton per hektare. Tanaman mampu bertahan hingga 8 bulan sejak tanam. Panen perdana ketika tanaman berumur 93—98 hari. Panen berikutnya interval 5 hari.

Carika muda berwarna hijau agak putih dengan panjang mencapai 5,5 cm. (Dok. Tunas Agro Persada)

Cabai batari

Kepada Trubus pada pertengahan Maret 2019, Sutrisno menuturkan, “Saya tanam lagi menjelang Natal 2018. Sekarang umurnya sudah 100 hari. Kira-kira 3—4 hari lagi panen.” Harga rawit merah di tingkat pekebun kini mencapai Rp22.000 per kg. Carika bersosok besar dengan tinggi mencapai 132—168 cm. Batang bulat bersegi lima.

Bunga berbentuk bintang lima—enam dengan kelopak hijau. Mahkota bunga berwarna hijau muda dengan kepala putik kuning. Benang sari berwarna hijau muda semburat biru muda di ujung. Warna buah muda hijau agak putih dan buah tua merah. Selain carika TAP juga merilis cabai rawit baru pada 2017. Namanya batari. Menurut Cipto batari adaptif di dataran rendah hingga tinggi.

Cabai rawit batari tumbuh hingga 72 cm dan tergolong genjah. Berselang 27—31 hari setelah tanam, bunga mulai muncul dan petani dapat panen sekitar sebulan kemudian. Bunga berbentuk seperti bintang enam dengan kelopak warna hijau kekuningan. Mahkota bunga berwarna putih dengan kepala putik kuning kehijauan. Benang sari berwarna ungu semburat hijau.

Potensi hasil sonar mencapai 10—16 ton per hektare. (Dok. Bisi International)

Cabai muda berwarna hijau lalu berubah merah menyala saat tua. Bentuknya pun ramping memanjang dengan panjang mencapai 4,63 cm. Batari menghasilkan rawit mungil dengan bobot 1,38 g per buah. Produktivitas 697—802 buah per tanaman. Potensi hasil mencapai 11,95—13,27 ton per hektare. Beberapa petani seperti Lukman Hakim tertarik membudidayakan cabai batari. Petani di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu menanam 4.000 bibit batari pada Agustus 2018.

Petani 23 tahun itu memanen 2 ton anggota famili Solanaceae itu. Tiga bulan berselang, ia kembali menanam 4.000 bibit batari. Menurut Lukman, “Saya menanam batari dan ternyata hasilnya bagus. Batari juga kuat—tahan penyakit— jika ditanam di luar musim,” kata Lukman Hakim. Panen pertama menghasilkan 22 kg pada Januari 2019. Berselang 9 hari, panen kedua mencapai 200 kg.

Kedua cabai rawit rakitan PT Tunas Agro Persada (TAP) itu bersari bebas dan adaptif. Buktinya, petani di dataran rendah Purworejo dan di dataran menengah Wonosobo sama-sama berproduksi tinggi. Batari berbuah hampir serempak, sedangkan carika bertahap.

Adaptif musim

Potensi hasil raga 2 mencapai 6,9—20,18 ton per hektare.

PT Bisi International juga merilis benih rawit hibrida raga 2 dan sonar. Raga 2 adaptif di ketinggian 400—650 meter di atas permukaan laut. Raga 2 tergolong genjah, panen perdana pada umur 68 hari. Tinggi raga 2 mencapai 1,14 m. Batang bulat berdiameter 0,96—1,14 cm. Uniknya, daun raga 2 berbentuk belah ketupat dengan ukuran 6,66 x 4,80 cm.

Pada 31—33 hari setelah tanam, raga 2 mulai berbunga. Sebulan setelahnya, petani bisa panen. Bentuk buah kerucut dengan panjang 5,47—6,00 cm dan diameter 0,92—1,04 cm. Warna buah muda putih sedangkan buah tua merah. Raga 2 menghasilkan 83—178 buah per tanaman. Potensi hasil mencapai 6,9—20,18 ton per hektare dengan populasi 22.000 tanaman.

Sementara itu, sonar lebih luas wilayah adaptasinya, di ketinggian 150—1.050 meter dpl. Manajer PT Bisi Internasional, Tedi Ali Rahmat, “Sonar banyak ditanam di daerah selatan Jawa Barat, seperti Garut selatan dan Sukabumi selatan. Petani di Cikajang, Garut, dan Majalengka lebih menyukai raga 2.” Keduanya sama-sama adaptif terhadap musim.

Sonar bersosok sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan raga 2, mencapai 110 cm. Sonar dapat dikenali dari warna batangnya hijau bergaris ungu. Daun oval berwarna hijau gelap dengan ukuran cukup besar 11 x 4,5 cm. Bunga sonar sama seperti raga 2. Bedanya, benang sari sonar berwarna ungu.

Varietas sonar berbunga lebih cepat ketimbang raga 2, sekitar 27—29 hari setelah tanam. Panen pun lebih cepat yaitu 80—84 hari. Buah silindris dengan panjang 4,2—5,4 cm dan diameter 0,5—0,7 cm. Warna buah muda hijau gelap dan buah tua merah. Potensi hasil sonar mencapai 10—16 ton per hektare. (Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img